Tajuk Rencana

Hoaks-Hoaks Corona

31 Januari 2020 - 12.00 WIB

Dunia sedang gempar dengan munculnya virus baru yang mengancam kehidupan. Sudah 132 jiwa melayang akibat virus ini. Sebanyak 6 ribu telah terjangkit virus mematikan yang belum ditemukan obatnya ini. Serangan virus ini, ironisnya, dan seperti biasanya, diiringi pula dengan "virus" lainnya di otak-otak manusia. Ia menyebar lewat media sosial. Kabar burung bernama hoaks itu telah menjadi virus baru yang mencengkram otak, membuat trauma, menyebabkan paranoid, kecurigaan berlebihan, dan sejumlah dampak negatif lainnya.

Ada hoaks yang berlebihan dan sangat sulit dipercaya. Tapi ada juga yang mungkin saja memang terjadi dan mengikat kepercayaan publik. Hoaks-hoaks itu berseliweran dan mengikat kepercayaan masyarakat sehingga membentuk sebuah ketidaksadaran kolektif yang membahayakan.

Misalnya ada hoaks tentang mayat-mayat yang jatuh bergelimpangan di jalan-jalan Kota Wuhan. Ada juga hoaks tentang gawai bermerek Xiaomi yang diduga bisa menyebarkan virus corona. Ada juga hoaks tentang membeli pakaian yang diimpor dari Cina bisa menyebabkan penyebaran virus corona.

Padahal, menurut Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, virus corona hanya menyebar lewat kontak fisik dengan pasien. Artinya, tidak lewat gawai atau pakaian bekas.

Ada juga tentang azab Tuhan kepada Cina yang antituhan, komunis dan membuat orang-orang beragama menderita. Salah satunya adalah komunitas Uighur yang dizalimi pemerintah Xi Jinping.

Di Prancis dan Kanada, berkembang pula isu rasialisme yang parah. Corona memang telah sampai dan mewabah di Prancis dengan empat kasus. Seiring itu, berkembang pula hoaks di sana bahwa komunitas Tionghoa Prancis telah menjadi penyebar virus mematikan itu. Warga keturunan Tionghoa di sana sempat marah ketika surat kabar lokal Le Courier Picard memajang berita utama "Alerte jaune " (Waspada Kuning) dan "Le péril jaune? " (Bahaya Kuning?), dilengkapi foto perempuan Cina memakai masker. Koran ini pun segera minta maaf.

Sementara itu di Kanada, setelah tersebarnya corona di sana dengan tiga kasus, maka sentimen anti-Cina dan Asia juga merebak. Sentimen itu antara lain terjadi di Toronto. Ada petisi tidak boleh sekolah bagi anak yang baru datang dari Cina. Ada pelarangan datang ke restoran Tionghoa, dan lainnya.

Berbagai hoaks itu tentu berbahaya. Virus itu tak hanya menyerang fisik dan menyebabkan kematian. Ia juga menyerang akal sehat dan kemanusiaan kita.***


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU



EPAPER RIAU POS  2020-04-04.jpg