Opini
Margono Benny Purwindra M IKom (Staf Seksi Sosial BPS Kabupaten Siak)

Budaya Pasar, Budaya Massa

10 Februari 2020 - 10.50 WIB

Budaya Pasar, Budaya Massa
Pada akhir tahun 50-an Lowenthal telah melacak kemungkinan terjadinya ekonomi pasar, mengingat makin kokohnya kedudukan media massa di tengah masyarakat. Memang benar terjadi, mulai dari tahun 80an ekonomi pasar itu sudah menjadi ciri khas dunia. Pemerintah tidak lagi memegang peranan penting dalam mekanisme pertukaran barang dan jasa. Ekonomi benar-benar menjadi urusan penjual dan pembeli. Mungkin kelihatannya liberal sekali. Dalam ekonomi pasar apapun bisa dijual, termasuk agama sekalipun. Istilah komodifikasi pun santer jadi pembicaraan di kalangan akademisi.

Ekonomi pasar memicu munculnya budaya pasar dan budaya massa. Budaya pasar ditandai oleh konsumerisme, perdagangan global, penggunaan iklan yang luar biasa, dan ketergantungan media kepada aktivitas bisnis (yang menghasilkan iklan).

Budaya massa menemukan bentuknya dalam atomisasi, yaitu penyerpihan masyarakat menjadi individu-individu yang tidak terikat kepada kelompok atau komunitas. Semakin bebas manusia dari aturan kelompok, semakin digdayalah budaya massa. Media leluasa mempengaruhi pikiran dan mengontrol prilaku mereka sesuai kehendak penguasa pasar.

Budaya massa menciptakan manusia - manusia yang hanya peduli pada diri sendiri, enggan berorganisasi. Padahal, manusia yang hidup sendiri tidak mampu berbuat banyak, bahkan untuk mengisi perutnya sendiri pun kadang susah.

Ekonomi pasar paling bertanggung jawab atas runtuhnya masyarakat komunal dan mencuatnya individualitas. Ekonomi pasar juga bertanggung jawab atas putusnya relasi budaya antara satu generasi ke generasi lain. Antara yang tua dengan yang muda kini terdapat gap yang besar; legasi nilai luhur yang muncul dalam periode budaya adiluhung (high culture)  makin sulit diharapkan. Generasi baru membangun budaya atas hasutan media yang makin canggih, melepaskan diri sepenuhnya dari pengaruh kakek nenek mereka.

Inilah kondisi yang kita hadapi ketika kita bicara tentang budaya, sementara orang masih mengimpikan baliknya tatanan kehidupan masyarakat tradisional, padahal dunia sudah hanyut ke rimba-rimba penuh mimpi yang ditebarkan media massa dan media sosial.

Masyarakat sudah terperangkap dalam gelapnya budaya massa, sehingga meyakinkan orang akan pentingnya komunalitas dan organisasi sosial semakin sulit. Orang lebih suka hidup merdeka tanpa kendali orang lain, sekalipun sebenarnya hidup seperti itu tidak pula mudah. Tidak akan hidup para penari dan pemusik kalau tidak mampu mendagangkan karya mereka. Karya mereka pun harus dikemas sesuai selera pasar agar mempunyai nilai jual.

***

Komodifikasi menggabungkan begitu saja antara yang sakral dengan yang profan. Agama yang disucikan dimodifikasi menjadi komoditas yang menghasilkan banyak uang. Kesenian yang mulanya boleh digelar dalam lingkungan terbatas kini bisa diecer di panggung-panggung mana saja asal ada yang mengonsumsi.

Secara tidak disadari, uang menjadi kiblat utama masyarakat ekonomi pasar. Pertukaran yang menguntungkan selalu menjadi buah mimpi, seperti lorong menuju surga. Memang, siapa saja yang piawai memanipulasi selera pasar akhirnya sampai ke surga yang mereka impikan. Tentu bukan surga yang disebut dalam kitab-kitab suci.

Kepiawaian mengemas dan menjual, menggunakan media massa dan media sosial, dan membangun mitos-mitos merupakan keterampilan yang dipersaingkan dalam zaman ekonomi pasar. Munculnya internet membuka peluang sangat lebar bagi mereka yang kreatif dan bermodal kecil untuk mendahului pemain lama dari belakang.

Sekarang bukan hanya Jack Ma yang menikmati iklim ekonomi pasar. Tidak sedikit pula anak-anak muda yang memenuhi kantongnya dengan dolar hanya dengan duduk di kafe-kafe bersama sebuah laptop, sebuah gadget dan secangkir kopi. Orang mengira mereka menghabiskan waktu tak menentu, padahal mereka sedang berdagang ke seluruh penjuru dunia.

Di sisi lain, perusahaan-perusahaan yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan budaya massa semakin kehilangan kekuatan, bahkan bangkrut. Ribuan orang kehilangan pekerjaan karena perusahaan tempat mereka mengais rezeki tak lagi mampu bertahan.

Para seniman pun banyak yang pamit karena pekerjaan sebagai pekerja seni tidak lagi mampu menghasilkan uang. Dalam budaya massa orang punya pilihan sangat banyak untuk mengonsumsi karya seni. Hanya yang terbaik, dalam arti mampu memanipulasi selera mereka, yang akan dinikmati. Karya seni yang apa adanya, yang gagal memenuhi tuntutan ego manusia, harus menyingkir dan terkubur.

***

Ekonomi pasar, budaya pasar, budaya massa secara bersamaan melahirkan budaya global. Budaya lokal makin tersudut, makin rapuh. Budaya lokal yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan arus budaya global akan berangsur-angsur hilang.

Bukan hanya masyarakat komunal-tradisional yang menghilang, tapi juga warisannya. Bila demikian, berarti juga masyarakat itu sendiri sudah hilang. Tinggallah sekarang masyarakat massa, crowd yang ramai tapi tidak punya keterkaitan apa-apa.

Sebagian orang berpendapat bahwa agama menjadi pegangan akhir masyarakat manusia. Agama punya potensi mempersatukan kembali manusia yang sudah mengalami atomisasi dan tercerai berai. Mengapa demikian? Budaya massa menyebabkan banyak orang kehilangan pegangan dalam hidup, merasa kesepian, merasa tidak berdaya, sekalipun secara ekonomi telah berhasil. Mereka akan mencari komunitas yang mampu memulihkan semangat hidup, yang sanggup memberi makna kepada kehidupan yang mereka jalani.

Namun mempersatukan diri dalam komunitas keagamaan kadang bukan pula sesuatu yang otomatis menghasilkan kenyamanan. Masalahnya, agama sudah mengalami komodifikasi: jadi barang dagangan. Banyak komunitas agama dibangun justru dalam rangka mendagangkan kenyamanan dan memproduksi kesadaran palsu.***


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU



EPAPER RIAU POS  2020-04-04.jpg