Tajuk Rencana

Riau Bergerak Cepat

13 Februari 2020 - 09.27 WIB

TRAUMA dan tidak ingin kejadian serupa terulang kembali di Negeri Lancang Kuning ini, Pemerintah Provinsi Riau bergerak cepat. Pada Selasa (11/2) malam, Gubernur Riau menetapkan status Siaga Darurat bencana Karhutla. Penetapan ini berlaku hingga 31 Oktober tahun ini. Hal ini dilakukan sebagai langkah gerak cepat pemerintah setelah melihat karhutla mulai muncul. Dari awal tahun hingga saat ini saja, total luas hutan dan lahan yang terbakar mencapai 271,07 hektare. Karhutla tersebar di semua kabupaten dan kota di Riau kecuali Rokan Hulu dan Kuansing. Siak memegang rekor jumlah luasan karhutla 98,47 hektare. Luar biasa.

Guna mencegah kabut asap kembali menggila dan rakyat kembali semaput maka langkah-langkah antisipatif pun mulai direncanakan dan dilaksanakan. Posko-posko kebakaran lahan kembali digiatkan. Pemerintah pusat melalui BNPB mengerahkan helikopter untuk water bombing. Selain itu, pesawat modifikasi cuaca juga diterjunkan termasuk pesawat yang menjatuhkan bom air.

Pokoknya segala cara mulai dipersiapkan guna bertempur melawan api yang diperkirakan akan bertebaran di berbagai pelosok Riau. Apalagi pada tahun ini sesuai perkiraan akan terjadi kemarau panjang dan curah hujan akan berkurang. Ini sangat gawat karena api akan bersuka ria jika disulut oleh para "bajingan" peraih keuntungan pribadi dan perusak alam yang tidak peduli nasib orang banyak.

Bahkan tak hanya Riau, pemerintah pusat menaruh perhatian besar terhadap karhutla ini. Hal ini dilihat dari kedatangan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Idham Aziz yang datang ke Riau pada Rabu (12/2). Para petinggi militer dan polisi ini akan langsung memberikan arahan menyangkut penanggulangan Karhutla di Bumi Melayu. Ini tentu tidak main-main dan warning bagi para oknum aparat baik TNI dan polisi yang bermain-main dan main mata di lapangan. Karena sebelum-sebelumnya, ada oknum aparat yang ikut terlibat dalam pembakaran lahan yang ikut ditangkap dan bahkan diadili.

Pihak kepolisian juga makin giat menangkap para "bajingan" pembakar hutan dan lahan ini. Secara total, Polda Riau telah menetapkan 26 tersangka perorangan dengan luasan kebakaran 11,707 hektare. Kita patut acungkan jempol atas kerja keras polisi tersebut. Kalau bisa, tidak hanya para cecunguk-cecunguk yang ditangkap, tapi juga para cukong yang menyuruh mereka. Termasuk juga perusahaan-perusahaan "rakus" yang ingin cepat untung dengan membuka kebun dengan cara membakar hutan.

Ini agaknya pimpinan mereka perlu mendapatkan hukuman mati. Sehingga dengan adanya satu orang terpidana divonis mati maka akan menjadi pelajaran berharga dan efek jera jika ada yang coba bermain api karhutla. Dan izin perusahaan tersebut harus dicabut dan segala asetnya serta lahannya disita negara dan dibagikan kepada warga tempatan.

Kita semua berharap, untuk tahun ini tidak ada lagi Namanya kabut asap. Rakyat Riau sudah letih dalam kekhawatiran yang setiap tahun melanda mereka. Rakyat Bumi Melayu sudah ikhlas atas semua sumber daya alamnya yang dikuras demi kepentingan negara ini. Namun jangan tinggalkan azab pula seperti kebakaran hutan dan kabut asap kepada penduduk tempatan. Rakyat hanya ingin langit mereka selalu biru dan oksigen bersih bisa dihirup setiap harinya.***


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU



Sharp Pekanbaru PSBB

Fekon Unand

UIR PMB Berbasis Rapor

Pelita Indonesia

EPAPER RIAU POS  2020-07-03.jpg