Tajuk Rencana

Sudah Waktunya Darurat Narkoba

20 Februari 2020 - 09.09 WIB

PEREDARAN dan pemakaian narkotika dan obat-obatan terlarang sudah tersebar luas di negeri Lancang Kuning ini. Posisi wilayah Riau yang berdekatan dan menjadi pintu gerbang ke negeri tetangga, menjadi tempat laluan barang-barang haram tersebut pertama kali masuk ke Indonesia. Garis pantai yang panjang serta banyaknya pelabuhan-pelabuhan tikus menjadi tempat yang empuk masuknya barang-barang illegal terutama narkoba dari jaringan internasional.

Tak hanya sekali, sudah tak terhitung berapa kali aparat keamanan berhasil membongkar dan menangkap sindikat pengedar narkoba dari luar negeri yang membawa barang haram ini. Namun tak jera-jera, selalu saja narkoba ini dibawa ke negeri Lancang Kuning ini. Mirisnya lagi, kini para sindikat narkoba ini melibatkan oknum aparat kepolisian. Seperti kemarin yang berhasil diungkap Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama tim Bea Cukai (BC) Dumai, sindikat penyeludupan 10 kilogram sabu dan 30 ribu butir pil ekstasi. Dari empat pelaku ini yang ditangkap, satu orang adalah oknum polisi Bengkalis berpangkat brigadir polisi.

Begitulah para mafia, dengan berbagai cara bahkan dengan membujuk aparat dengan iming-iming rupiah, narkoba yang akan merusak masyarakat dibawa masuk. Dan kita patut apresiasi hasil kerja BNN pusat yang berhasil memutus rantai jaringan ini serta menangkap oknum polisi yang ikut terlibat.

Beberapa waktu lalu, Pemerintah Provinsi Riau pernah merilis bahwa Riau masuk dalam peringkat lima besar peredaran narkoba dari 34 provinsi di Indonesia. Bahkan narkoba ini sudah merambah ke desa-desa dan merasuki anak-anak muda. Selama tahun 2019 saja, Polda Riau telah menangani 1.817 kasus narkoba dengan jumlah tersangka mencapai 2.496 orang.

Sementara barang bukti yang diamankan, untuk sabu sebanyak 355,96 kilogram (kg), narkotika jenis pil ekstasi sebanyak 186.182 butir, ganja kering 181,62 kg, dan happy five 28.145 butir. Sebuah angka yang fantastis. Pantas saja penjara di Riau penuh dengan terpidana narkoba. Dari data yang didapat, dari 12.078 tahanan yang menghuni 15 Lapas dan Rutan di Riau, 6.678 orang adalah narapidana dan pelaku narkoba. Faktanya, separuh penghuni penjara adalah narapidana narkoba. Sungguh mencengangkan.

Dari data diatas, sudah jelas terlihat dan nyata bahwa narkoba memang sudah menjadi momok dan musuh masyarakat di Bumi Lancang Kuning ini. Mungkin saja, para pengedar dan pengguna narkoba di lapangan yang tidak tertangkap malah lebih banyak lagi. Dan ini harus menjadi perhatian serius dari aparat terkait dan pemerintah provinsi ini.

Sudah waktu darurat narkoba harus dicanangkan di Bumi Melayu ini. Sehingga ancamannya terhadap generasi muda bisa antisipasi. Karena narkoba ini memang banyak menyasar kalangan muda yang masuk dalam generasi produktif. Apa jadinya negeri ini jika kebanyakan kalangan mudanya sudah terjangkit penyakit narkoba. Jika tak dicegah maka bisa membuat negeri ini akan karam. Ayo Bersama-sama kita berantas narkoba.***


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU



EPAPER RIAU POS  2020-04-03.jpg