Tajuk Rencana

Sindiran Dinasti Politik

21 Februari 2020 - 10.36 WIB

Dinasti politik kembali menghangat menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 2020. Sejumlah partai memang tengah bersiap dan mempersiapkan para kader terbaik dan pilihan mereka jelang pencoblosan serentak ini. Salah satu yang mendapat sorotan adalah munculnya kandidat yang merupakan kerabat dekat pejabat saat ini. Yang paling mendapatkan sorotan adalah anak dan menantu Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Nasution. Gibran akan maju untuk pilkada di Solo. Sementara Bobby di Medan.

Keduanya belum pasti dipilih Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sebagai kandidat PDIP. Nama mereka mungkin akan terpilih atau tidak, beberapa waktu ke depan bersama kandidat di Bali. Tapi, Megawati justru berkomentar pedas dan bernada sindiran saat mengumumkan kandidat pada kepala daerah asal PDIP lainnya. Dari ratusan calon kepala daerah, Solo, Medan dan Bali memang belum diumumkan. Tapi justru ketika itu Megawati menyampaikan kritik kerasnya soal dinasti politik.

Megawati tentu saja tak menyebut sedang menyorot pihak tertentu. Tapi, sorotan dan tafsir biasa saja sangat liar. Salah satunya adalah soal pencalonan Gibran dan Bobby. Megawati menyebutkan bahwa para kader jangan memaksakan kerabatnya yang tidak memiliki kemampuan untuk maju sebagai calon kepala daerah. Apakah yang dimaksud Megawati adalah dua orang itu? Mengapa pula Solo dan Medan belum diputuskan? Adakah tawar-menawar lainnya? Atau kepada siapa sebenarnya sindiran itu?

Spekulasi memang sangat liar. Para kader PDIP banyak yang meluruskan bahwa yang dimaksud bukan Gibran dan Bobby. Yang dimaksud adalah para kader secara umum. Ini merupakan sebuah bentuk kritik internal sang ketua umum kepada para kadernya. Spekulasi memang meluas sangat jauh. Salah satu tafsir dan spekulasi adalah sindiran Megawati kepada mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang sedang berusaha mempromosikan anaknya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Sebagaimana diketahui, SBY telah memberikan restunya kepada Gibran untuk maju pada pilkada Solo. Demokrat mendukung Gibran di Solo. Beberapa kader Demokrat kemudian memberikan penjelasan tambahan bahwa telah ada komunikasi antara SBY dan Jokowi untuk mendukung Gibran. Ketika SBY mendukung Gibran, kapan pula Jokowi mendukung AHY? Dukungan itu tentu saja harus konkret, misalnya masuknya AHY ke kabinet. Mungkin dengan mekanisme reshuffle. Dan itu akan menjadi langkah konkret baginya untuk menuju RI 1. Mungkinkah Megawati restu? Apakah cukup hanya saling restu Jokowi-SBY?

Tapi lagi-lagi itu spekulasi. Merupakan spekulasi juga ketika publik mengaitkan sindiran Megawati dalam acara internal partainya adalah untuk SBY. Bisa iya, bisa tidak, tentunya. Sindiran itu bahkan bisa menjadi bumerang karena Megawati juga sedang mengkader anaknya sendiri, Puan Maharani. Puan bahkan sedang menjadi ketua DPR. Bukan tidak mungkin juga, Puan sedang dikader untuk RI 1. Kita, rakyat, hanya dapat menonton atraksi dinasti politik tersebut. Boleh jadi nanti mereka inii akan saling sindir lagi.*


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU



EPAPER RIAU POS  2020-04-03.jpg