Tajuk Rencana

Kendali Narkoba dari Penjara

27 Februari 2020 - 10.05 WIB

BADAN boleh terikat dan tidak bebas, namun aksi kriminal tetap terus berjalan. Bahkan jadi pengendali bagi para orang yang bebas. Mungkin demikian kata-kata yang tepat kita berikan kepada sang terpidana ini. Badan di penjara, namun jadi pengendali jaringan narkoba. Tak tanggung-tanggung, jaringan internasional pula. Ada apa dengan sistem hukum di negara kita. Warga binaan, demikian sering disebut bahasa halusnya untuk orang yang dipenjara karena terbukti bersalah dan divonis hukuman oleh pengadilan. Namun ternyata penjara tidak menjadi tempat sang terpidana bertobat atau berubah sikap, malah perangainya makin menjadi-jadi. Ini pasti ada yang salah atau tidak beres. Tapi dimana?

Bukan suatu hal yang jarang terdengar bahwa jaringan narkoba dikendalikan dari dalam penjara. Secara awam bagi orang biasa hal ini terdengar aneh. Tapi begitulah jamak yang terjadi. Sang bandar walaupun dipenjara, namun masih tetap saja menjalankan aksi kriminalnya mengedarkan narkoba dan membuat para kawula muda hancur hingga ke desa-desa. Sebagaimana yang kemarin diungkap oleh polisi yang membongkar jaringan narkoba internasional. Setelah kurir ditangkap dan dilakukan pengembangan, ternyata otak pengendali narkoba ini berada dalam penjara di Lapas Pekanbaru. Padahal barang narkoba yang berhasil ditangkap bukan main-main, 7 kilogram sabu-sabu yang dibawa dalam 7 bungkusan. Dan ini ternyata bukan kali pertama sang terpidana menjalankan aksi dalam penjara. Ini adalah kali yang keempat berdasarkan pengakuan para tersangka yang dicokok polisi.

Memang diakui bahwa dari seluruh penjara yang ada di Riau ini, separuhnya adalah terpidana narkoba. Disana berkumpullah, mulai dari pemakai, pengecer, pengedar, pembuat hingga bandar dan sang toke narkoba. Banyaknya terpidana narkoba ini bahkan membuat penjara menjadi overload. Sangat penuh hingga tidak layak lagi kalau dilihat dari sisi kemanusiaan dan HAM. Dari data yang didapat, dari 12.078 tahanan yang menghuni 15 Lapas dan Rutan di Riau, 6.678 orang adalah narapidana dan pelaku narkoba. Sungguh luar biasa. Maka berkumpullah sesama terpidana narkoba didalam penjara dan bahkan bukan tidak mungkin diantara mereka saling transfer ilmu.

Inilah yang harusnya menjadi perhatian serius dari aparat penegak hukum dan pihak-pihak terkait dalam bidang pencegahan narkoba ini. Jangan sampai, tindakan pencegahan narkoba dengan menangkapi pelaku narkoba, malah membuat pindah aktivitas narkoba dari luar ke dalam penjara. Ini harus dicari solusi yang pas, tepat dan jitu. Bagaimana hukuman yang diberikan kepada pelaku narkoba ini bisa dihentikan saat mereka masuk ke dalam penjara. Kalau bisa, mereka bisa berubah dan tidak mengulangi lagi tindakan kriminalnya.

Lalu bagaimana caranya? Agaknya inilah perlunya satu kesamaan dari berbagai pihak terkait menyamakan pemikiran dan tindakan dalam pemberangusan narkoba ini. Intinya narkoba haruslah menjadi musuh utama kita. Perlu ada aturan yang lebih tegas lagi terhadap para tahanan ini. Pertama sekali komunikasi berupa hape, harus dihentikan saat mereka masuk penjara. Karena jika komunikasi masih lancar, maka tentu aksi di lapangan bisa dikendalikan dan tetap berjalan. Termasuk pembatasan komunikasi dengan orang luar serta penjagaan yang lebih ketat. Dan perlu juga dilakukan razia rutin yang tidak terjadwal untuk hasil yang lebih bagus. Serta yang tak kalah pentingnya, membuat penjara khusus narkoba. Sehingga ada petugas khusus dan aturan khusus pula untuk penghuni sehingga bisa diterapkan bagi semua. Dan semua kita berharap, jangan ada lagi penjara yang menjadi tempat pengendali aksi kriminal, terkhusus narkoba.***


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU



EPAPER RIAU POS  2020-04-04.jpg