Tajuk Rencana

Waspada Corona

5 Maret 2020 - 11.46 WIB

AKHIRNYA sang virus sampai juga masuk ke Indonesia. Selama beberapa pekan, Indonesia nihil kasus virus corona yang menjangkiti beberapa negara di dunia. Bahkan saat di negara asalnya Cina, sang virus masih ganas-ganasnya,  di Indonesia tidak ada yang terkena. Dunia internasional takjub dengan Indonesia. Namun ada juga kecurigaan terhadap standar pemeriksaan kesehatan di Indonesia dalam mendeteksi virus. Alat-alat medis Indonesia bahkan dicurigai tidak mumpuni.

Tapi ada juga beberapa pendapat yang mengatakan bahwa sang virus tidak bisa hidup di Indonesia karena cuacanya yang terik dan panas. Bahkan ada yang menghubung-hubungkan dengan kekebalan tubuh penduduk Indonesia yang sudah biasa dimasuki virus. Apalagi dengan pola makan masyarakat Indonesia serta kebiasaan hidup yang juga sudah keras membuat virus gagal masuk. Serta beberapa hal-hal lain yang kadang tidak masuk diakal.

Karena nihilnya sang virus, pemerintah Indonesia jumawa dengan mengundang para turis berkunjung ke berbagai lokasi wisata di tanah air, dengan memberikan diskon khusus biaya pesawat. Karena pemerintah menilai pariwisata lesu akibat isu corona dan mulai melakukan tindakan yang berbeda. Disaat negara lain menutup akses pintu masuk mereka dan memeriksa dengan ketat para turis, Indonesia malah melakukan hal yang sebaliknya.

Bahkan di awal-awal virus merebak, di Sumatera Barat sang turis asal Cina yang datang berwisata malah disambut oleh Gubernur Sumbar di bandara. Walaupun kedatangan turis Cina ini disambut aksi unjukrasa warga Minang sehingga mereka tidak bias mengunjungi objek-objek wisata yang sudah direncanakan.

Alih-alih membuat strategi penanganan yang mumpuni terhadap bahaya virus ini, pemerintah terkesan santai. Pemeriksaan yang dilakukan hanya standar di pintu-pintu masuk. Tidak terlihat ada gerakan khusus dalam menghadapi ancaman sang virus yang sudah di depan mata. Sosialisasi tentang bahaya virus ini pun terkesan tidak banyak atau tidak ada kepada khalayak ramai. Padahal sang virus ini sudah naik level menjadi yang tertinggi di dunia oleh WHO.

Dan kini semua terhenyak. Si virus ternyata kini sudah ada di depan mata. Tak tanggung-tanggung, yang mengumumkan si virus sudah hadir di tanah air adalah sang presiden sendiri. Dimana ada dua orang warga Depok yang terpapar virus karena pernah berhubungan dengan warga Jepang yang kini si warga Jepang tersebut positif corona di Malaysia. Di Riau sendiri, ada dua orang suspect corona yang sudah dibawa ke ruangan isolasi di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru.

Kini kondisi masyarakat mulai cemas. Beberapa orang mulai melakukan aksi borong sembako dan menumpuk bahan makanan di rumah. Stok masker dan cairan pembersih tangan serta sejenisnya, habis di pasaran. Terutama di daerah Depok dan Jakarta tempat sang virus pertama kali terdata. Sedangkan di Pekanbaru, harga masker meroket tinggi. Beberapa apotik menaikkan harga hampir berkali-kali lipat bahkan diluar akal sehat harga masker dan hand sanitizer. Kini kepanikan perlahan-lahan terjadi dan pemerintah hanya bisa menghimbau agar masyarakat tenang dan mengatakan bahwa stok masker aman. Namun masyakarat terlanjur skeptis.

Memang sudah saat kita waspada dalam menghadapi sang virus pembawa maut ini. Mari cari informasi yang akurat dan betul dalam mencegah sang virus berikut tindakan yang harus dilakukan menghadapinya. Dan pemerintah sudah seharusnya mulai bertindak dan bergerak cepat membentuk badan khusus dalam menghadapi virus ini. Pemerintah sebagai garda terdepan harus gencar melakukan sosialisasi dan perhatian terhadap bencana ini. Jangan biarkan informasi simpang siur dikonsumsi masyarakat hingga menimbulkan kepanikan. Semoga virus ini cepat tertangani dan kita semua bisa belajar dari bencana ini.***


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU



Sharp Pekanbaru PSBB

Fekon Unand

UIR PMB Berbasis Rapor

Pelita Indonesia

EPAPER RIAU POS  2020-07-04.jpg