Home >>


DAHNILSYAH

Pengajaran Daring Kurang Efektif?

29 April 2020 - 10.08 WIB

Pengajaran Daring Kurang Efektif?
EFEK dari wabah corona penulis ingin berbagi tentang mengapa pengajaran daring belum dapat dilakukan sepenuhnya sebagaimana yang diharapkan.

Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa sebagian besar masyarakat dunia, termasuk di Indonesia, dalam menyikapi perkembangan teknologi, mereka hanya memanfaatkan perangkat dan fasilitas digital untuk hal-hal yang bersifat entertainment dan hanya sebatas dapat saling bertegur sapa dan bercanda di dunia maya. Di satu pihak, kita lihat begitu massifnya pemilik akun FB, WhatsApp, Tweeter, Instagram, line, dan sebagainya. Dilain pihak, mereka tidak menyadari, karena mungkin tidak diberi kesadaran untuk sadar, bahwa sebenarnya ada berbagai aplikasi yang disediakan oleh berbagai provider digital raksasa seperti google,  menyajikan variasi fitur aplikasi dalam kehidupan sehari-hari kita: google classroom, google drive, google meet and chat, juga yang viral sekarang penggunaan aplikasi zoom, yang digagas oleh milioner Amerika, Eric Yuan.

Bagi mereka yang bergelut di sektor bisnis, pendidikan, dan sebagainya, aplikasi ini memberikan banyak manfaat, google classroom contohnya, memberikan bantuan bagi para guru untuk memberikan pengajaran daring. Nah, yang menjadi masalah sekarang, mengapa salah satu pemegang kendali stakeholder pendidikan, yaitu pemerintah, dalam hal ini kementrian pendidikan dan kebudayaan belum optimal memasyaratkan berbagai aplikasi digital ini.

Vietnam dan Thailand, telah lama menyiapkan para tenaga IT di tiap sekolah yang dapat dihubungi setiap saat dalam mensikapi pemanfaatan teknologi, khususnya pengajaran daring. Di samping keberadaan tenaga IT yang dapat dihubungi setiap saat, harus juga diiringi oleh kegiatan pelatihan dan berbagai program upgrading lainnya tentang strategi dan metode cara pengajaran daring, sehingga guru tidak hanya terampil dalam menggunakan aplikasi virtual, tetapi juga akan memiliki wawasan dan skill tambahan tentang berbagai tips dan inovasi cara mengajar dalam daring. Sebagai follow up dari pelatihan dan bimbingan teknis ini, setiap sekolah harus memiliki konsultan professional tetap, baik dari perguruan tinggi maupun para praktisi yang memiliki pengalaman dibidang metoda dan strategi pengajaran daring. Jika hal ini dilakukan secara intens, kita berharap pembelajaran daring ini akan menjadi bagian dari ruitinitas bagi setiap guru, dan siswa, dan nantinya merupakan suatu hal yang lumrah dan harus dilakukan saat terjadi kondisi force majeur, seperti wabah corona sekarang ini.

Selain itu pemberian PR bagi siswa kurang variatif dan inovatif.  Satu hal yang sangat kita sayangkan, sebagian besar guru kita masih mengandalkan latihan-latihan dan aktivitas-akvitias di buku ajar saat memberikan PR (Pekerjaan Rumah) kepada siswa. Seharusnya, bapak dan ibu guru kita harus melakukan inovasi dengan memanfaatkan berbagai peristiwa, dan keadaan lingkungan di sekitar siswa yang dapat dihubungkan dengan topik yang dipelajari di sekolah. Seperti materi perkalian, pembagian, pengurangan, dalam pelajaran matematika contohnya, guru dapat memanfaatkan benda-benda  dan lingkungan yang akrab bagi siswa di sekitar rumah, juga gambar-gambar dan kegiatan yang ada di internet  dapat dimanfaatkan untuk mengkonstruk daya eksplorasi motorik siswa. Hal ini banyak dilakukan para guru di Jepang dan Korea, sehingga orang tua pun dapat dilibatkan, dan suasana belajar di rumah berlangsung dengan serius, akrab, dan santai.

Untuk kondisi di Indonesia, seperti pelajaran PPKN dan AGAMA, hal ini sangat gampang dilakukan dengan memberikan PR kepada anak-anak dalam bentuk pengembangan daya nalar dan menguji empati, simpati, dan kepedulian mereka. Ada seorang guru di Jawa yang memberikan pertanyaan menarik kepada siswi kelas 4nya untuk PR mata pelajaran PPKN: "Kalau ada tetangga kamu yang miskin perlu bantuan, meminjam uang kepada ibu, kamu mau nggak menyuruh ibu membantunya? kalau mau, kenapa harus dibantu? Coba kamu tulis apa saja yang dapat kita bantu untuk orang miskin”. Intinya di sini, guru, dan oang tua, harus saling bersinerji dan menjalin hubungan yang harmonis, dalam membantu anak mengerjakan PR, dengan mencari berbagai alternatif yang dapat memotivasi anak, sehingga PR bagi mereka merupakan sesuatu yang menantang sekaligus mengasyikan, sepanjang tidak menganggu ritme kurikulum dan target pengajaran dari sekolah.

Perlu pemberian harga khusus untuk paket internet bagi para guru dan siswa. Kita sangat berterima kasih sekali kepada pemerintah, terutama kepada pihak PT TELKOM Indonesia, yang telah menyediakan fasilitas jaringan internet hingga ke kecamatan bahkan sampai ke desa-desa. Di setiap sudut perkantoran, sekolah, restoran, café, dan fasilitas umum lainnya fasilitas wifi (wireless fidelity) telah tersedia. Penting artinya paket internet khusus pendidikan itu.***

*Dosen FKIP Unri


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU


Achmad - Idul Fitri

UIR PMB Berbasis Rapor

Pelita Indonesia

EPAPER RIAU POS  2020-06-02.jpg