Home >>


Samsul Nizar

Jadi Ular atau Ulat?

1 Mai 2020 - 11.32 WIB

Jadi Ular atau Ulat?
(RP) - Sungguh, semua ciptaan-Nya terkandung ayat-ayat Allah sejuta pelajaran bagi mereka yang mampu menangkap pesan Ilahi. Benar QS. al-’Alaq : 1-5 Allah turunkan sebagai wahyu pertama kepada Rasulullah. Ternyata Allah memotivasi hamba-Nya untuk bisa menangkap pesan Ilahi atas ciptaan-Nya, baik yang tertulis maupun yang terhampar. Di antara ciptaan-Nya yang terhampar adalah ular dan ulat.

Meski tak sedikit orang yang takut atau jijik terhadap ular dan ulat, namun banyak pelajaran yang bisa diambil dari dua jenis makhluk ini bagi cermin atas setiap diri. Pelajaran yang dimaksud antara lain: Pertama, ular dalam siklusnya akan mengalami ganti kulit. Namun, setelah ganti kulit, ular tetap menjadi ular dengan sifat dan bentuk aslinya sebagai seekor ular. Ternyata, ganti kulit tak mampu mengubah ular.

Tipikal manusia ada yang meniru ular. Meski puasa hadir sebagai proses siklus mengganti “kulit kotor” yang merusak watak kemanusiaan yang mulia, namun ternyata proses puasa hanya sebatas siklus waktu saja. Siklus tersebut ternyata tak mampu mengubah watak asli manusia meski sudah dilatih dan ditempa puasa sebulan penuh. Sungguh merugi manusia tipikal ular. Hidupnya tak pernah mengalami perubahan ke arah yang lebih baik.

Kedua, berbeda dengan ulat. Meski awalnya menjijikan, namun setelah mengalami siklus, ulat berubah menjadi kepompong, lalu kepompong berubah menjadi kupu-kupu yang indah menawan. Ternyata, siklus atau proses waktu mampu mengubah ulat menjadi makhluk yang indah. Beruntung manusia yang memiliki tipikal ulat. Puasa sebulan penuh dijadikan sebagai media untuk melakukan siklus perubahan diri. Perubahan diri ke arah yang lebih mulia, baik bentuk, sifat, dan perilaku.

Sungguh puasa bagaikan siklus dan media yang bertujuan memperbaiki diri manusia. Hanya saja, manusia yang mana mampu memanfaatkan puasa sebagai media perbaikan diri sangat tergantung dengan tipikal manusia. Bila manusia memiliki tipikal ular, maka puasa tak akan berpengaruh sama sekali dalam membentuk karakter diri. Bagai ular yang berganti kulit, setelah kulit berganti (meski dengan sangat menyakitkan), kulit akan ditinggalkan begitu saja. Hal ini terjadi pada manusia yang memiliki tipikal ular. Meski puasa telah berulang kali dijalani, berbagai musibah telah dilalui, berbagai pengajaran telah dilakukan, namun kesemuanya tak berpengaruh dalam memperbaiki sifat dasarnya bagai “ular”. Hal inilah yang mungkin disinyalir Allah dalam Q.S al-Baqarah: 6-7 bahwa “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman (6). Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat” (7).

Kafir yang dimaksud secara luas adalah ketidakmauan mengikuti aturan. Meski mereka tahu, bahkan ada kalanya menggunakan asesories “keagamaan” palsu, namun kesemuanya hanya altivitas semu yang tak muncul dalam kenyataan. Kesemua terjadi karena tertutupnya pintu-pintu kebenaran yang tersedia pada dirinya. Anehnya, meski sudah jelas bertipikal ular, kelompok ini justru tak pernah ada rasa malu pada diri dan orang lain atas perilaku yang dimilikinya. Seakan mereka tak merasa bahwa perilakunya tak bisa digunakan untuk menipu orang lain karena sudah jelas sifatnya

Berbeda dengan manusia yang mengambil iktibar kehidupan ulat. Sadar bahwa bentuk diri dan sifat yang menjijikan nan tak menarik, ulat memiliki iktikad untuk memperbaiki diri. Begitu hadir Ramadan, ia jadikan sebagai media menempa akhlak dan prilaku mulia. Setelah Ramadan berakhir, ia tampil bagaikan kupu-kupu indah dengan warna menawan. Makanan yang dipilih berubah kepada madu yang manis dan menyehatkan. Hadirnya memberi manfaat bagi tanaman melakukan fotosintesis bagi terjadinya penyerbukan.

Begitu indah puasa bila mampu ditemui oleh manusia bertipikal ulat. Persoalannya, tipikal manakah kita? Apakah tipikal ular yang tak pernah mengalami perubahan bentuk dan sifat, atau mengambil tipikal ulat yang memanfaatkan Ramadan media perbaikan diri dengan karakter dan watak mulia. Semua pilihan ada pada kita mau mengambil tipikal mana. Hanya saja, terkadang kita harus malu dengan hewan yang mampu berubah ke arah yang levih baik, bagai yang dimunculkan oleh ulat. Wa Allahua’lam bi al-Shawwab.***

Samsul Nizar, Guru Besar & Ketua STAIN Bengkalis



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU


Achmad - Idul Fitri

UIR PMB Berbasis Rapor

Pelita Indonesia

EPAPER RIAU POS  2020-06-02.jpg