Tajuk Rencana

Tetap Disiplin, Wabah Ini Belum Usai

8 Juni 2020 - 10.04 WIB

Pekan lalu, pertambahan pasien positif coronavirus disease (Covid-19) di Provinsi Riau melandai. Meski ada konfirmasi kasus baru, namun itu hasil tracing dari pasien sebelumnya. Sehingga langsung diketahui si pasien tertular dari mana dan dari klaster mana.

Dari 117 yang terkonfirmasi positif, 100 orang di antaranya sudah dinyatakan sembuh. Sementara 6 meninggal dunia dan sisanya masih dirawat. Ini kabar bagus di tengah Kota Pekanbaru dan beberapa kabupaten/kota di Provinsi Riau mengakhiri pembatasn sosial berskala besar (PSBB) dan bersiap untuk new normal.

Namun Sabtu (6/6), kabar mengejutkan datang dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Riau. Ada tambahan satu pasien yang terkonfirmasi positif, namun belum diketahui tertular dari mana dan kemungkinan klaster baru.

Pasien ke-118 ini bukan berasal dari klaster besar penyebaran Covid-19 di Riau yang sudah terpetakan sebelumnya, seperti penambahan beberapa kasus terakhir. Pasien ini warga Kabupaten Kepulauan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang sedang berkunjung ke Pekanbaru. Bahkan, pasien tersebut sempat dua kali mengunjungi tempat wisata Sungai Hijau di Bangkinang, Kampar. Pada 26 Mei dan kemudian 28 Mei.

Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Riau dr Indra Yovi mengatakan, ini merupakan klaster baru, tapi masih dilakukan tracing kontak. Pasien ini diketahui positif Covid 19 setelah melakukan swab test mandiri untuk melakukan perjalanan kembali ke Kepri. Dia sudah berada di Pekanbaru sejak April lalu karena anaknya sekolah di ibu kota Provinsi Riau ini.

Ditemukannya kasus ini tentu membuat waswas. Apalagi dia sudah berada di Pekanbaru sejak April. Kapan dan di mana dia tertular harus segera dicari tahu. Selain itu ke mana saja dia beraktivitas dan kontak erat dengan siapa saja tentu harus dilacak. Apalagi infonya merupakan pasien tanpa gejala.

Di tengah euforia warga Riau dengan pencabutan PSBB dan persiapan new normal, ini juga menjadi peringatan bahwa pandemi ini belum usai. Warga memang harus tetap disiplin untuk menerapkan protokol kesehatan, namun pemerintah daerah juga harus mempunyai program yang terstruktur dan sistematis sampai angka positif nol tercapai. Setelah itu, terapkan new normal dan dikawal tentunya. Karena, seharusnya pengawasan pemerintah yang lebih ketat itu saat new normal diterapkan. Bagaimana warga bisa menjalankan protokol kesehatan hidup dengan kenormalan baru itu sampai vaksin ditemukan. Bukan seperti berakhirnya PSBB. Semua serasa seperti anak sekolah ke luar main jam istirahat. Bebas berhamburan ke luar kelas.***


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU



Sharp Pekanbaru PSBB

Fekon Unand

UIR PMB Berbasis Rapor

Pelita Indonesia

EPAPER RIAU POS  2020-07-04.jpg