Home >> Opini >> Muhammad Ikhsan (Dosen Pasca Sarjana Universitas Riau)

Opini
Muhammad Ikhsan (Dosen Pasca Sarjana Universitas Riau)

Pelihara Kewarasan di Tengah Wabah Covid-19

8 Juni 2020 - 10.04 WIB

Pelihara Kewarasan di Tengah Wabah Covid-19
Setengah tahun ini Covid-19 telah mewabah di seluruh dunia. Sampai awal Juni 2020, sekitar 400 ribu orang telah meninggal di seluruh dunia karenanya. Di Amerika sendiri lebih dari 100 ribu orang meninggal, sementara di Indonesia sudah lebih dari 1.800 orang yang meninggal. Di beberapa negara seperti Cina, Italia, Spanyol, dan Selandia Baru sudah mulai ke langkah-langkah pemulihan.  Meskipun demikian, banyak juga negara yang masih dipusingkan dengan gelombang kedua dari pandemi ini akibat ketidakdisiplinan di dalam masa pelonggaran tahap I.

Wabah Covid-19 ini membingungkan dan sekaligus menakutkan.  Membingungkan karena ternyata pihak yang berkompeten di bidang kesehatan termasuk WHO dan instansi pemerintah kita tergagap untuk menghadapinya. Saking ketakutannya, banyak juga orang yang memborong baju alat pelindung diri yang biasa dipakai petugas kesehatan. Untuk mengatasi kelangkaan masker ini, kemudian pemerintah menyebutkan bahwa penggunaan masker hanya efektif untuk mereka yang sakit dan batuk. Sementara yang sehat tidak perlu memakai masker. Belakangan muncul lagi perintah yang bertolak belakang, bahwa semuanya diharuskan memakai masker karena penyebaran virus ternyata lewat droplet air ludah ketika berbicara, batuk dan bersin. Masker kain pun ternyata efektif, demikian perintahnya. Makanya sekarang orang-orang pun kemudian kreatif membuat masker kain.

Informasi yang berkelebihan, dan ketidakmampuan menyaring dan memilah informasi, ditengah kemudahan teknologi informasi lewat smartphone dan media sosial turut memperparah kebingungan ini.  Suguhan informasi yang berulang-ulang dari berbagai perspektif membuat ketakutan massal. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah pun banyak yang latah dan hanya mengikuti arahan-arahan yang ada tanpa ditelaah dan dicerna lagi sesuai konteks lokal masing-masing wilayah.

Menurut kami, Covid-19 ini bersifat spesifik. Wabah covid yang terjadi di Cina belum tentu dampaknya sama seperti yang terjadi di Amerika, Spanyol, Itali, bahkan Indonesia. Demikian pula sebaliknya.  Iklim, kebiasaan masyarakat, tingkat kesehatan, kedisiplinan, makanan, usia dominan, kondisi tempat tinggal dan tempat kerja pasti mempengaruhi tingkat penyebaran dan ketahanan masyarakatnya terhadap wabah covid.  

Melihat faktor-faktor di atas, rasanya kondisi Indonesia hari ini terhadap Covid-19 adalah anugerah Tuhan yang luar biasa. Bisa dibayangkan, meskipun dengan PSBB yang sudah diberlakukan di banyak daerah, kebebasan warga dalam berkumpul, bertransportasi, di pasar, di kantor dan perilaku menjaga jarak, memakai masker yang luar biasa beraninya, jumlah persentase korban yang meninggal per jumlah penduduk dibandingkan dengan yang terjadi di banyak negara, misalnya Amerika, jauh lebih kecil.  Persentase penduduk yang meninggal akibat Covid-19 di Amerika adalah (100ribu/330 juta) 0,03%.  Sementara di Indonesia, angka tersebut adalah (1.800/270 juta) 0,00067%, atau 1/45 (seperempatpuluh lima) dari persentase penduduk meninggal akibat covid di Amerika. Padahal kita mengetahui, sanitasi dan tingkat kesehatan warga Amerika jauh lebih baik dari kita.  

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dan kebingungan-kebingungan di atas, disinilah perlunya kehadiran para peneliti, pengolah data yang profesional dan mandiri dalam mengkaji.  Kita tidak bisa menunggu ahli-ahli Cina, Amerika, atau WHO sekalipun untuk mencari jawaban-jawaban atas persoalan di tanah air kita. Cobalah dicari data kebiasaan-kebiasaan orang yang meninggal dalam kondisi positif covid. Harus dibedakan, pasien yang sudah kronis karena penyakit parah (diabetes, pneumonia, jantung, darah tinggi) lalu terkena covid, kemudian meninggal. Didata pula pasien yang sebelumnya sehat-sehat saja, kemudian terpapar covid, lantas meninggal. Sampaikan ke publik angka-angka ini dan persentasenya.  Biodiversity kita yang sangat banyak ini, jenis rempah dan tanaman obat yang sangat banyak ini, perlu penelitian untuk dijadikan obat dan antivirus. Penentuan langkah-langkah yang diambil pemerintah tentu harus berdasarkan penelitian ini.  Langkah pembatasan yang dilakukan di negara lain belum tentu harus dicontoh mutlak.  

Menurut saya, ada dua pelajaran yang bisa diambil dari wabah covid19 ini. Pertama adalah pelajaran untuk bisa hidup bersih dan sehat. Makanan bergizi, olahraga cukup, istirahat cukup, mengurangi stress, menjaga kebersihan, cuci tangan yang bersih, dan menjauhkan diri dari resiko terpapar orang yang sakit.  Pola ini seharusnya sudah kita lakukan sejak dulu.  Pelajaran kedua adalah kemandirian bangsa.  Dalam kondisi seperti ini, nampak nyata betapa lemahnya kemandirian ekonomi kita. Kalau kita bisa mengolah tanah dan laut kita, maka kita akan swasembada pangan.  Demikian pula dengan tambang dan energinya, semuanya ada. Tinggal mental kita dan terutama pemimpin kita yang diperlukan untuk berpikir mandiri.

Jangan sampai kita bangsa Indonesia menjadi korban dari permainan mafia internasional, mafia alat kesehatan, mafia vaksin dan mafia politik.***


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU



Sharp Pekanbaru PSBB

UIR PMB Berbasis Rapor

Pelita Indonesia

EPAPER RIAU POS  2020-07-12.jpg