Tajuk Rencana

Amerika Serikat Belum Tenang

10 Juni 2020 - 10.59 WIB

Amerika Serikat belum tenang. Aksi protes masih terus terjadi. Memang tidak separah pekan lalu. Tapi tetap menimbulkan dampak yang tidak sedikit.

Massa terus mengajukan tuntutan keadilan terhadap perlakuan polisi Amerika Serikat. Terutama pada kaum minoritas. Seperti tindakan polisi yang menyebabkan kematian George Floyd. Itu bukan kali pertama kepolisian Amerika Serikat melakukan ‘’penganiayaan’’ yang menyebabkan kematian warganya.

Perjuangan memang perlu pengorbanan. Setelah melakukan aksi demonstrasi selama beberapa pekan dan mendapatkan tindakan represif dari kepolisian, muncul suatu harapan. Tuntutan massa supaya dilakukan perombakan terhadap lembaga kepolisian sudah mendapatkan jawaban. Ahad (7/6) Dewan Kota Minneapolis telah menyampaikan komitmen mereka. Lembaga kepolisian kota bakal segera dirombak total.

Itu janji bersama dari sembilan anggota dewan kota. Dewan menegaskan bahwa mereka lebih mendengar tuntutan rakyatnya. Mereka ingin meyakinkan bahwa kebijakan penegakan hukum saat ini bakal diubah ke yang lebih baik.

Dewan kota berjanji segera membahas kebijakan penegakan hukum yang lebih baik. Mereka juga berkomitmen untuk mencoba memindahkan sebagian anggaran aparat ke kebijakan berbasis komunitas.

Aksi massa memang masih berlanjut. Tapi aksi kali ini tidak lagi diwarnai bentrokan dengan aparat keamanan. Aksi protes di Washington DC Sabtu lalu lebih terkesan seperti festival. Musik mengentak keras di jalanan. Beberapa demonstran melakukan tarian spontan. Sejumlah orang membuat seni di jalanan dengan kapur yang mereka bawa.

Tidak ada yang membayangkan, di tempat yang sama, orang-orang tersebut terlibat dalam situasi tegang dengan aparat. Aksi kemarin memberi pesan yang lebih kuat. Puluhan ribu demonstran dari berbagai etnis ikut bergabung dalam aksi tersebut. Di depan barisan, kaum-kaum ras minoritaslah yang memimpin. Demonstran kulit putih menolak berkomentar karena ingin rekan minoritas lebih didengar.

Tuntutan massa juga berubah. Tuntutan awal, yakni penindakan terhadap empat polisi yang menewaskan George Floyd, sudah dituruti. Kini penduduk AS meminta kebijakan keamanan publik diperbaiki.

Salah satu yang sedang hangat diperbincangkan adalah melemahkan institusi penegak hukum. Beberapa pihak mengusulkan anggaran polisi bisa dikurangi atau bahkan ditiadakan. Menurut mereka, sistem penegakan hukum yang agresif justru mengacaukan keadaan. Mereka mengusulkan anggaran itu bisa dialokasikan kepada petugas sosial, medis, dan psikolog untuk membantu kaum minoritas yang rentan terhadap kejahatan.

Tuntutan untuk mengubah kebijakan kepolisian datang karena banyak kasus kekerasan yang dilakukan aparat. Pelanggaran yang dilakukan polisi Amerika Serikat jauh lebih banyak daripada negara-negara maju lainnya. Berdasarkan data Bureau of Justice Statistics (BJS), terdapat 1.348 kematian yang diduga terjadi di tahanan AS pada periode Juni 2015 sampai Maret 2016.***  





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU



Sharp Pekanbaru PSBB

UIR PMB Berbasis Rapor

Pelita Indonesia

EPAPER RIAU POS  2020-07-12.jpg