Home >> Opini >> Mustafa, Dosen Ilmu Komunikasi UIN Suska Riau

Opini
Mustafa, Dosen Ilmu Komunikasi UIN Suska Riau

Tantangan Penyiaran saat Pandemi

10 Juni 2020 - 11.04 WIB

Tantangan Penyiaran saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah membawa perubahan pada semua sektor kehidupan termasuk dunia penyiaran. industri televisi mencerminkan dampaknya di semua sektor seni, menutup atau menunda produksi program televisi di banyak negara dengan konsekuensi negatif pada pendapatan yang selama ini yakni penjualan hak siar dan iklan.

Beberapa negara ada yang melakukan penundaan atau melakukan penyesusaian dengan kondisi yang tengah terjadi. Di Jepang sejumlah studio anime telah mendorong karyawan mereka untuk bekerja dari rumah meskipun mempekerjakan animator lepas di beberapa studio yang membatasi gangguan pekerjaan.

Filipina melalui TAPE Inc. mengumumkan pada 9 Maret bahwa mereka akan berhenti menerima pemirsa langsung untuk variety show mereka Eat Bulaga  yang mengudara di GMA Network. ABS-CBN mengikutinya, mengumumkan pada 10 Maret bahwa mereka akan melakukan hal yang sama untuk acara televisi mereka termasuk It's Showtime, Banana Sundae, Magandang Buhay. 

Jika kita melihat angka-angka penularan Covid-19 yang belum menurun, tentu belum bisa diprediksi kapan akan berakhir. Situasi ini tentu menjadi peluang dan tantangan tersendiri bagi industri penyiaran seperti televisi untuk bisa eksis di tengah masyarakat. Karena dengan banyaknya orang yang beraktivitas di rumah selama masa pandemi maka televisi akan menjadi tontonan bagi banyak orang.

Adalah Joseph Dominick dalam buku Mass Media Research (2013) memperkenalkan fungsi komunikasi massa seperti televisi bagi masyarakat, yang jika dikaitkan dengan situasi pandemi saat ini sesungguhnya bisa menjadi ruang evaluasi dan konstruksi bagi dunia pertelevisian kita. Adapun fungsi yang dikenalkan Dominick ini diantaranya adalah; pertama, fungsi pengawasan yang terdiri atas dua bentuk utama, yakni pengawasan peringatan dan pengawasan instrumental.

Hal ini berarti lembaga penyiaran menjalankan fungsi pengawasan peringatan jika menginformasikan tentang ancaman yang disebabkan oleh misalnya bencana alam, serangan militer, inflasi dan krisis ekonomi, serta wabah seperti pandemic Covid-19. Dengan  situasi pandemi saat ini sejatinya peringatan yang diberikan sudah cukup baik. Hanya saja terkadang variasinya masih sangat kurang.

Sementara pengawasan instrumental berupa kesadaran etis pihak lembaga penyiaran bahwa informasi yang disampaikan berguna atau dapat membantu khalayak pemirsanya dalam kehidupan sehari-hari. Berkaitan dengan pandemic Covid-19 ini bagaimana media memiliki kesadaran etik bahwa informasi atau tayangan yang diberikan sangat berguna untuk membuka kesadaran masyarakat.

Apa yang dilakukan oleh televisi Singapura mungkin bisa jadi pelajaran dimana mereka menayangkan drama-drama bertema medis, Big White Duel dan My Guardian Angels ditayangkan perdana masing-masing pada pukul 19:30 dan 21:00 di Channel 8 untuk meningkatkan kesadaran warga.

Kedua, fungsi penafsiran (interpretation). Fungsi  ini  dapat berjalan jika lembaga penyiaran selalu menyampaikan fakta dan data kepada pemirsanya, juga memberikan penafsiran terhadap kejadian-kejadian penting. Dalam hal ini lembaga penyiaran memilih dan memutuskan peristiwa-peristiwa mana yang layak dan tidak layak disiarkan.

Ketiga,  fungsi keterkaitan (linkage). Dalam hal ini lembaga penyiaran menjadi alat pemersatu anggota masyarakat yang beragam.

Keempat,  fungsi penyebaran nilai(transmission value) fungsi ini disebut juga sosialisasi. Sebuah nilai hanya bisa ditransmisikan jika publik punya kepercayaan. Membangun kepercayaan publik perlu kerja keras karena di tengah saluran televisi yang banyak hari ini, publik punya penilaian yang selalu dinamis terhadap media.

Kelima, fungsi hiburan(entertainment). Media televisi harus bisa menjalankan fungsi menghibur banyak orang di tengah pandemic Covid-19 ini. Fungsi ini menjadi tantangan bagi televisi bagaimana memproduksi konten bermutu sehingga tidak lagi menyiarkan sinetron.  Bisa juga mengubah mindset jadi digital free to air dimana dalam semua media dan semua situasi televisi bisa hadir seperti di handphone melalui aplikasi atau di media sosial, sehingga dengan demikian banyak pemirsa yang bisa terhibur tanpa melihat kotak besar bernama pesawat televisi.***





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU



Sharp Pekanbaru PSBB

UIR PMB Berbasis Rapor

Pelita Indonesia

EPAPER RIAU POS  2020-07-12.jpg