Home >> Opini >> Ir Suzfridar (Guru Ekonomi SMAN 3 Mandau)

Opini
Ir Suzfridar (Guru Ekonomi SMAN 3 Mandau)

Mengingatkan Kembali Etos Kerja Guru

17 Juni 2020 - 10.03 WIB

Mengingatkan Kembali Etos Kerja Guru
Saat pandemi Covid-19 ini guru diuji, muncul keluhan baik dari guru itu sendiri maupun masyarakat. Di sini perlunya membangun etos keguruan, untuk memperkuat karakter guru. Ibarat otot karakter akan memadat dengan semakin kokohnya sebuah perilaku yang dimanfaatkan secara tekun untuk mencapai suatu tujuan kompetensi, kecerdasan dan keberhasilan guru.

Untuk itu perlu dikembangkan 8 etos keguruan, kompetensi yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan juga akan semakin kokoh. Hal tersebut disebabkan karena kepemilikan etos kerja mengindikasi berlangsungnya proses aktualisasi diri secara berkelanjutan. Khusus untuk guru dan dosen, sekarang dituntut untuk memiliki setidaknya 4 kompetensi yang tinggi yakni, personal, professional, pedagogis dan sosial. Tidak hanya mutu karakter dan kompetensi yang meningkat melalui etos, sikap percaya diri “Pede” juga. Sehingga kharisma yang merupakan cahaya pribadi/wibawa guru akan semakin kuat dengan berkembangnya etos, serta harkat, derajat dan kinerja keguruan pun meningkat. Peningkatan etos keguruan pun berdampak langsung pada peningkatan kecerdasan para guru, boleh dikatakan bahwa, insan guru yang memiliki etos keguruan yang baik sama artinya dengan guru yang belajar tanpa henti sepanjang hayatnya.

Kata Etos, bersal dari Bahasa Yunani "ethos" yang diartikan semangat, mentalitas, dan karakter. Jadi etos kerja dapat dikatakan sebagai semangat, pola fikir, mentalitas yang berujud menjadi seperangkat perilaku kerja yang khas dan berkualitas. Untuk itu mari kita mengingat apa   8 etos keguruan tersebut.

Etos 1: Keguruan adalah rahmat, bahwa keberadaan profesi guru harus disyukuri. Etos 2: Keguruan adalah amanah, bagaimana cara mengembangkan etos amanah ini? Kerja, Jabatan adalah amanah. Guru pun mengemban amanah dari orang tua siswa, dari siswa itu sendiri dan dari masyarakat. Sebagai pemegang amanah, guru dipercaya dan diharapkan mampu melaksanakan amanah tersebut. Etos 2, anti KKN yang efektif, maksudnya bila guru/tenaga pendidikan mampu menghayati pekerjaan sebagai amanah suci ia akan mampu mengatasi godaan KKN di bidang uang, waktu dan mutu. Etos amanah lahir dari proses refleksi dan dialektika batin tatkala kita berhadapan dengan permasalahan pelik di satu pihak, tuntutan moral dan idialisme di pihak lain. Proses tersebut menjadi sentakan pencerahan batin yang kemudian membawa kesadaran untuk bekerja dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran moral bahwa guru adalah amanah.

Etos 3: Keguruan adalah panggilan, maka hayatilah pekerjaanmu dan bekerjalah sampai tuntas penuh integritas. Perasaan terpanggil yang kuat membuat seorang guru mampu memberdayakan diri  untuk bekerja dengan motivasi penuh semangat dan antusias.

Etos 4 : Keguruan adalah aktualisasi. Aktualisasi adalah proses mengubah potensi menjadi kompetensi, jadi pandanglah pekerjaan keguruan sebagai aktualisasi diri karenanya bekerja keraslah penuh semangat, hingga dapat menjadi pribadi yang prima, manfaatkanlah kelas, laboratorium,perpustakaan, aula seminar sebagai ruang aktualisasi untuk segenap siswa siswi kita.

Etos 5: Keguruan adalah ibadah, maka persembahkanlah pekerjaanmu sebagai ibadah, sebagai salah satu dedikasi kita untuk Allah dan sesama karena mengajar adalah sebentuk ibadah. Menjadi guru bukan sekadar mencari nafkah dan membangun karir, tetapi mengajar memiliki misi yang lebih besar (ikut membangun bangsa dan negara, pelestarian alam semesta, membangun demokrasi dan peradaban serta misi agung lainnya).

Etos 6: Keguruan adalah seni : Seni adalah buah aktualisasi minat kita yang terbaik, kemampuan untuk menekuni pekerjaan mengajar dengan penghayatan seniman berawal dari hasil penemuan minat dan bakat kita, jadi seorang guru harus melakoni pekerjaannya sebagai seni sehingga dapat bekerja dengan cerdas penuh kreativitas, ibarat koki seorang guru yang baik harus bisa meracik bahan pelajaran agar menjadi menarik.

Etos 7: Keguruan adalah kehormatan, profesi guru adalah kehormatan dan karenanya kita wajib menjaga kehormatan itu dengan menampilkan kinerja mengajar yang unggul dan kesantunan perilaku terahadap sekitar. Etos 8: Keguruan adalah pelayanan. Pemangku kepentingan di dunia pendidikan mencakup siswa, orang tua, dewan guru, masyarakat serta pemerintah. Seperti pebisnis melayani kliennya, maka gurupun harus melayani pemangku kepentingan tersebut. Ada beberapa cara melakukannya, antaranya: Fokus pada anak didik, bagaimana cara agar peserta didik merasa dicerdaskan, diinsprisasi, dibimbing dan dimotivasi, perbaiki proses pembelajaran yang berkiblat pada peserta didik dan melibatkan seluruh komponen dunia pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.

Jika guru menjalani profesinya secar profesional berarti guru tersebut sedang melayani masyarakat dan bangsanya. Delepan etos keguruan tidak hanya bertujuan untuk membawa kesuksesan bagi guru di tingkat eksternal tetapi juga memperbaiki kualitasnya secara internal.***


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU

Pemkab.Pelalawan - HUT Adhyaksa



Sharp Pekanbaru PSBB


UIR PMB Berbasis Rapor

EPAPER RIAU POS  2020-08-04.jpg