Tajuk Rencana

Banyak Politikus, Sedikitnya Negarawan

23 Juni 2020 - 10.10 WIB

POLITIK tidak bisa terlepas dari kesantunan. Sebab wilayah politik sangat luas, dan pengaruhnya pada publik sangat besar. Kesantunan termasuk di dalamnya dalam hal berbicara, bertindak, berteman, beragumen, bersaing dalam meraih kedudukan dan yang paling penting adalah tujuan politiknya.

Negeri ini memerlukan kesantunan berpolitik. Rakyat di negeri ini memerlukan contoh perilaku yang santun. Pakar politik Islam, Prof Alaiddin Koto pernah menyatakan bahwa negeri ini kehilangan bapak bangsa. Seakan-akan yang banyak hanya politisi, bukan negarawan.

Beda politisi dengan negarawan. Kalau politisi melakukan segala usaha dengan cara yang beragamm (menghalalkan segala cara) untuk mendapatkan tujuan politiknya, bisa berupa jabatan, pengaruh kekuasaan, uang dan lainnya. Sementara negawrawan, mereka tidak menghalalkan segala cara. Negarawan dalam bertindak selalu mempertimbangkan sopan santun, sebab apa yang dilakukannya akan ditiru rakyat banyak (publik), mereka tidak akan melakukan yang diharamkan hanya demi tujuan sesaat.

Negarawan selalu menimbang bahwa tujuan politiknya adalah untuk keselamatan negara, bukan untuk kepentingan pribadi, bukan untuk kepentingan partainya, atau orang-orang (kelompok) mereka. Kutuhan negara selalu menjadikan kepentingan (keutuhan) negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

Realitas yang terjadi di negeri ini lebih banyak yang politisi, tetapi minim negarawan. Lebih banyak orang yang berbicara sesukanya, daripada orang yang santun dalam berbicara. Seakan-akan menjadi politisi itu harus bicara kasar, berani, rakus, tidak takut dengan ancaman hukuman, gampang mengujat orang lain. Itulah realitas yang terjadi di negeri ini.

Kita kehilangan tokoh seperti Soekarno, Muhammad Hatta, Muhammad Natsir, dan tokoh-tokoh lainnya. Mereka menjadi bapak bangsa, yang bisa menaungi rakyatnya. Bukan partai yang memeka perjuangkan, tetapi kepentingan rakyat. Partai hanya wadah atau alat untuk menuju Senayan (anggota DPR RI), tetapi ketika sudah sampai di sana, kepentingan rakyatlah yang menjadi agenda utama.

Kericuhan politik saat ini disebabkan kita miskin negarawan, baik di tingkat daerah maupun pusat. Negeri kekurangan sosok-sosok yang ayah bagi anaknya, sebab mengelola negara sama dengan membangun rumah tangga. Peran ayah sangat dominan. Jika ayah tidak tegas, maka akan muncul pertikaian di antara anak. Nah, pertikaian yang terjadi saat ini, disebabkan pemimpin tidak tegas. Apakah pemimpin di tingkat daerah maupun pusat, apakah pemimpin di kantor ataupun di perguruan tinggi.

Untuk itu mari kita bangun sikap-sikap negarawan di negeri ini, bukan perilaku politisi yang kadang mengabaikan kesantunan dalam bersikap. Hal yang paling penting adalah tujuan politiknya, apakah baik atau buruk bagi masyarakat di negeri ini.

Tujuan politik inilah yang membedakan seseorang apakah hanya sebagai politikus atau negarawan. Politikus tujuannya singkat, yakni jabatan oriented, dihormati orang, mendapat keuntungan pribadi atau kelompoknya, dan tujuan singkat lainnya. Itulah politikus. Sementara negarawan, tujuannya sangat mulia, tidak bisa dibeli oleh uang, jabatan adalah amanah rakyat dan jabatan itu sifatnya sementara. Negarawan tidak mementingkan kepentingan pribadinya atau golongan di atas kepentingan bangsa ini.***


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU



Sharp Pekanbaru PSBB

UIR PMB Berbasis Rapor

Pelita Indonesia

EPAPER RIAU POS  2020-07-12.jpg