Home >> Opini >> Afni Zulkifli

Opini
Afni Zulkifli

Membumikan Dosen

29 Agustus 2020 - 15.14 WIB

Membumikan Dosen

Secara  pragmatis, penelitian yang wajib dilakukan para dosen adalah perpaduan antara pengumpulan fakta lapangan, ketajaman analisis dan kemampuan tulis-menulis. Salah satu output-nya berupa jurnal. Namun sayangnya budaya menulis hasil penelitian di jurnal para dosen Indonesia masih sangat rendah (Radar Jogja, 2017)

SELAIN pendidikan dan pengabdian masyarakat, penelitian sebagai pondasi utama penyusunan jurnal menjadi bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Hanya sedikit dosen yang bisa memanfaatkan sumber pembiayaan di luar kampus untuk mendanai penelitian mereka.

Banyak proposal penelitian para dosen cemerlang di ide, tapi jadi jatuh di mata reviewer karena nilai-nilai yang diprasyaratkan tidak dilengkapi dengan baik. Sehingga harus kalah dengan ide proposal yang biasa saja, tapi disusun dengan sempurna.

Melakukan penelitian dan menulis di jurnal akan menjadi berat bagi dosen yang tidak memfungsikan dirinya sebagai peneliti dan penulis. Bagaimana memulai jadi peneliti? Mulailah dari sering-sering menulis tentang keilmuwannya di kolom-kolom media lokal, regional, nasional, maupun internasional.

Lalu kapan harus mulai belajar menulis di kolom media? Sekarang juga! Sesering mungkin. Sembari memahami pedoman penelitian yang telah disusun per edisi (saat ini edisi XII).

Penelitian yang dilakukan para dosen memiliki multifungsi. Pertama fungsi akademik, yaitu untuk mengajar mahasiswa keilmuwan, soft skill, dan lainnya. Sedangkan fungsi kedua adalah social responsibility, yaitu untuk menyelesaikan problem-problem sosial di masyarakat.

Penyelesaian sosial di masyarakat harus direspon dengan cepat. Respon yang diberikan harus berisikan kebenaran. Aktualisasinya dalam bentuk kebijakan berbasis pendekatan ilmu pengetahuan (scientific approach).

Ini menjadi sangat penting karena sekarang sudah tidak bisa lagi para akademisi hanya berasumsi atau bermain teori saja, melainkan harus mampu mengimplementasikan hasil penelitian, mewarnai atau bahkan mengintervensi para pengambil kebijakan guna menyelesaikan persoalan sosial masyarakat, dengan pendekatan ilmiah (scientific approach).

Di situasi yang serba banyak berubah, dipengaruhi banyak stakeholders, beragam dinamika dan kompleksnya tantangan di masyarakat, maka rekomendasi berbasis ilmiah (scientific based) yang jujur memiliki posisi sangat penting, karena pendekatan ini juga lebih dapat diterima masyarakat daripada rekomendasi berbasis selera (taste based).

Untuk itu bagi dosen yang ingin mengajukan proposal penelitian dan mendapatkan bantuan pembiayaan dari lembaga yang relevan, harus memahami dan menguasai terlebih dulu skim penelitian dasar dan skim penelitian terapan.

Penelitian skim dasar adalah menemukan jawaban teoritik terhadap persoalan yang dihadapi. Penelitian yang dilakukan mahasiswa S1,S2, dan S3, dapat dikategorikan penelitian dasar, yakni penelitian untuk mengembangkan nilai-nilai akademik, melanjutkan nilai-nilai teori, melanjutkan metodologi/membangun metodologi baru, dan mengembangkan policy option (ini agak mirip dengan terapan). Sedangkan penelitian terapan adalah penelitian untuk menjalankan tanggung jawab sosial. Risetnya bisa dikatakan sudah hampir ke ujung.

 Memahami perbedaan kedua skim penelitian ini sangat penting. Karena banyak peneliti sering salah sasaran saat pengajuan proposal penelitian. Sehingga saat di-review oleh reviewer, nilainya langsung jatuh karena si peneliti salah menerjemahkan pengelompokan jenis penelitiannya di dalam pengajuan proposal.

Antara dimensi akademik penelitian dasar ke dimensi akademik terapan, sangat berbeda. Jika tidak bisa memahami perbedaan keduanya, maka proposal para dosen bisa ditolak reviewer. Akibatnya kita gagal mendapatkan dukungan pembiayaan.

Perbedaan kedua skim penelitian inilah yang harus dipahami, didiskusikan, disempurnakan secara bersama-sama. Sehingga jangan sampai ide proposal penelitiannya sudah bagus, tapi nilainya jadi kalah dengan penelitian yang biasa-biasa saja.

Karena proposal yang masuk ke suatu lembaga, baik pemerintah maupun swasta, bisa berjumlah ribuan, sementara dana yang tersedia sangat terbatas. Agar dapat diterima, maka susunlah proposal yang benar-benar akan dilirik reviewer.

Banyak peneliti sosial, bisa menyelesaikan penelitian dasar (TRL-3), tapi setelah selesai di penelitian dasar, mengalami kebingungan saat lanjut ke penelitian terapan (TRL 7-9). Ketika peneliti tidak berhasil menerjemahkan penelitian dasar ke penelitian terapan, hal ini tentu sangat disayangkan.

Perlu diingat bahwa skim penelitian dasar, output-nya adalah teori. Adapun skim penelitian terapan, output-nya adalah kebijakan, rekayasa, pemeranan, melanjutkan pemodelan agar sesuatu masalah bisa teratasi, baik sosial, bisnis, pendidikan, dan lainnya.

Saat mengajukan proposal skim terapan,maka kita sudah bicara soal tindak lanjut, tidak ada lagi bicara sekedar teori di sana. Orientasinya harus infuction, sebelum inovasi.

“Salah kamar” mengajukan proposal penelitian, terjadi karena dosen di universitas terbiasa direcoki dengan penelitian dasar. Sementara peluang sumber pendanaan banyak mengakomodir penelitian terapan. Dana yang tersedia banyak, sayang sekali jika tidak dimanfaatkan.

Di perguruan tinggi, peneliti selama ini sering “dimanja” dengan pola pikir teoritik. Hanya berteori saja tidak selamanya baik, karena yang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini adalah hasil dari penelitian terapan dapat kiranya menyelesaikan persoalan-persoalan mereka yang pelik.

Dosen sebaiknya tidak hanya mengajar, tapi juga harus menjadi solusi bagi menyelesaikan masalah sosial di sekitar.Contoh sederhana, pada kasus Covid-19. Sudah bukan waktunya para dosen hanya berteori saja, tapi mulai dipikirkan bagaimana penerapan hasil penelitian bisa memecahkan persoalan di masyarakat selama masa pandemi corona.  Ini lebih konkrit.

Agar penelitian bisa mendapatkan pembiayaan, harus memenuhi dua syarat, yakni syarat administrasi dan substansi proposal. Keduanya harus sejalan. Jika seorang peneliti secara administrasi belum bisa mengajukan penelitian, untuk sementara ia bisa bergabung dengan rekannya yang memenuhi syarat administratif.

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas juga bisa melakukan berbagai strategi pendukung. Misal, sudah saatnya semua karya dosen didigitalisasi ke dalam satu web.  Sehingga saat diminta reviewer, link yang berisikan karya dosen sudah bisa dilihat. Dengan begitu proposal bisa semakin mudah lolos administrasi. Akan semakin mudah lagi bila sudah ada buku, jurnal, dll.

Untuk memulai menyusun proposal penelitian terapan, mulailah dari memastikan penelitian dasar sudah benar. Lalu kembangkan problem yang belum terjawab di penelitian dasar ke penelitian terapan.

Adapun kunci menulis jurnal, bisa dimulai dari alinea pertama. Jangan membuka tulisan jurnal dengan kalimat yang bertele-tele, harus bisa dibikin langsung menohok ke jantung hati para reviewer. Alinea awal adalah bahan penilaian utama (highlight), dan harus bisa menampilkan dasar rencana penelitian secara keseluruhan.

Mulailah dari sekarang menyusun road map penelitian. Kumpulkan semangat. Bahkan jika itu artinya harus memulai dari titik nol lagi, maka harus tetap semangat. Susun road map bukan berarti menyusun peta penelitian individual, tapi peta penelitian institut (riset center base).

Karenanya LPPM Universitas sangat disarankan memiliki riset center atau pusat studi.  Road map riset center berisikan sampai dimana penelitian para dosen yang sudah ada (ujicoba atau kelayakan instrumen, dll).

Berikut 10 syarat proposal penelitian berbasis scientific:

1. Mulailah dengan problem yang jelas. Cari yang unik.

2. Awas terlanjur sesat. Harus punya problem statments dan pemecahan masalah. Saat membuka proposal, langsung saja hantam dengan kalimat sumber masalah, teori yang dipakai, dan permasalahan terdahulu. Fokuslah ke tema-tema yang berkaitan dengan prioritas nasional.

3. Punya tujuan operasional. Tujuan adalah kondisi yang ingin dicapai di ujung penelitian. Maka saat merumuskan tujuan, sesuaikan dengan penelitian dasarnya.

4. Punya review literatur. Wajib ada peta riset, ada peta teori. Alangkah baiknya kalau ada penelitian dasar. Tidak perlu dijelaskan panjang lebar saat menyusun penelitian terapan, yang penting ada literatur yang relevan dan menguatkan.

Di sini nilai komponennya paling tinggi. Maka lengkapilah dengan literatur termutakhir dan layak dikutip. Rangkum dalam satu tabel. Tidak perlu detil, tapi overall bisa dipahami reviewer.

Lakukan diskusi literatur, meliputi diskusi teori, diskusi penerapan teori dan konflik hasil, membahas perbedaan-perbedaan metodologi. Inilah nanti yang akan menjadi dasar penting saat menyusun metode penelitian.

5. Punya metode yang terpilih dengan argumentasi yang jelas. Apa yang baru? mengapa model itu yang kita gunakan? Bagaimana merumuskannnya? Usahakan modelnya jangan terlalu rumit, yang penting bisa memecahkan masalah. Komponen metode ini nilainya bisa sampai 25 %. Yang dinilai biasanya bagaimana mengubah konsep menjadi variabel.

6. Perlu pengujian. Bisa kuantitatif, bisa juga kualitatif, tergantung dari apa yang akan diselesaikan dalam tahapan riset, meliputi: pengujian indikator awal, pengujian setelah aktivitas “intervensi”, dan pengujian “penilaian outcomes” dari dampak aktivitas.

7. Metode intervensi dalam penelitian. Jangan hanya mengutip saja, apalagi cuma tulis definisi-definisi, tapi harus bikin rencana praktik metodenya seperti apa, kenapa itu harus dilakukan, bagaimana penerapannya dalam penelitian dan di lapangan.

Menarasikan metode yang digunakan dengan jelas jauh lebih penting daripada menulis atau membahas definisi-definisi. Lebih baik jelaskan bagaimana cara peneliti sampai ke tujuan penelitian. Karena biasanya yang terjadi saat diuji reviewer, peneliti tidak bisa menjawab substansi penelitian. Kebanyakan ceramah. Sehingga tidak fokus.

 8. Working with a collaboration model dalam riset. Ajaklah orang yang bisa mengisi kelemahan dan melengkapi kekurangan. Jangan hanya ngajak teman karena faktor kedekatan. Apakah boleh ngajak orang pemerintahan? Sangat boleh. Justru nilai personalnya jadi tinggi. Bisa 5-10%.

Selain itu ikuti penyusunan curiculum vitae (CV) yang konsisten. Tak jarang lolosnya usulan penelitian karena reviewer melihat kegigihan atau profil CV tim peneliti.

9.Pelaksanaan dengan record dan proses yang benar. Peneliti harus menyusun dengan rasionalitas yang tinggi.

10. Setelah penelitian mendapatkan pembiayaan, maka susunlah report yang scientific, yang bisa dimanfaatkan untuk memecahkan persoalan sosial di masyarakat.

Sekali lagi diingatkan, menyusun proposal penelitian jangan arahnya ke sana-sini, tidak jelas ke mana. Harus fokus! Harus benar-benar bisa menunjukkan bahwa dosen akan melakukan penelitian yang benar-benar membumi.

Karena sesungguhnya dalam hidup kita tidak perlu berlomba-lomba menjadi orang hebat, tapi hendaklah berlomba-lomba menjadi orang yang bermanfaat.

“Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami, no:3289). Ketika kita berbuat baik kepada orang lain, manfaatnya akan kembali kepada diri kita sendiri.

Sudah saatnya para dosen “turun gunung”, menjadi periset. Tidak lagi hanya melahap teori berputar di ruang diskusi, melainkan terjun langsung ke dalam masalah, dan mengurai masalah melalui berbagai alternatif solusi.

Hidup memberi solusi jauh lebih bermanfaat bagi kehidupan sosial masyarakat. Profesi dosen yang makin “membumi” berpeluang menambah sumber pahala, selain hanya (misalnya) zikir dan puasa saja.

Bagi rekan-rekan dosen, mari meneliti, mari membumi, dan mari memberi manfaat untuk negeri!***

Dr Afni Zulkifli MSi adalah  Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Lancang Kuning (FIA Unilak) Pekanbaru, Riau.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU





EPAPER RIAU POS  2020-09-22.jpg