Home >> Opini >> Dr Machasin MM (Dosen FEB Unri)

Opini
Dr Machasin MM (Dosen FEB Unri)

Kepemimpinan Intelektual dan Emosional

6 Januari 2021 - 12.16 WIB

Kepemimpinan Intelektual dan Emosional

Berbicara tentang kepemimpinan, perhatian masyarakat selalu dikaitkan dengan kesuksesan seseorang dalam memimpin. Pemimpin yang sukses diukur dari kemampuannya mewujudkan visi dan misi dari organisasi yang dipimpinnya.  

Dalam suatu organisasi, falsafah kepemimpinan diarahkan pada perilaku yang mampu membangkitkan terbentuknya pemimpin yang ideal dan professional yakni : Pertama, pemimpin yang disenangani, dikagumi dan diikuti oleh pengikutinya karena memiliki karakteristik personalitas yang mumpuni, seperti: cerdas, kreatif, jujur, bersahabat, penuh keyakinan, tekun, sabar dan pemimpin yang kuat.

Kedua, pemimpin yang disenangi, dikagumi dan diikuti oleh pengikutnya karena memiliki perilaku yang menyenangkan, seperti pendengar yang baik, mau menerima masukan dari manapun, membimbing, bertindak secara konsisten, memberikan umpan balik, memahami perasaan bawahan dan pengikutnya.

Ketiga, pemimpin yang disenangi, dikagumi dan diikuti oleh pengikutnya karena pemimpin tersebut memiliki kemampuan untuk melakukan adaptasi dan kolaborasi serta mampu  menyesuaikan diri dengan lingkungan, selalu melibatkan diri dalam tim atau dekat dengan bawahan dan pengikutnya.

Kemampuan Intelektual dan Emosional
Pemimpin seharusnya dapat mengakui kontribusi dan menghargai prestasi bawahan atau pengikutnya.  Mereka yang berprestasi, baik secara individu maupun kelompok, seyogyanya diberikan penghargaan berupa hadiah, atau bentuk-bentuk penghargaan yang lainnya. Kepemimpinan yang visioner dapat dikembangkan melalui beberapa strategi berikut:  Pertama, pemimpin harus mampu menciptakan situasi yang menyenangkan bagi para anggotanya yang mengharapkan bimbingan, dorongan dan motivasi dari pemimpinnya.
Kedua, pemimpin harus mampu mendisain semua aspek operasi organisasi, termasuk tertib administrasi. Ketiga, pemimpin harus pandai dalam menyiasati masa depan, mampu memanfaatkan lingkungan eksternal secara maksimal dan berhubungan secara terampil dengan pihak-pihak luar organisasi. Keempat, pemimpin harus mampu berinovasi untuk menantang perubahan dan memiliki sense of crisis yang tinggi. Kelima, pemimpin harus mampu bereksperimen dan belajar mengambil risiko sekecil mungin serta belajar dari kesalahan. Keenam, pemimpin harus mampu berkolaborasi adaptasi dan membangun kemitraan. Perkuat hubungan satu dengan yang lainnya dengan melakukan kemitraan  menuju pencapaian tujuan bersama guna membangun kepercayaan.

Semua pemimpin membutuhkan intelektual yang cukup untuk melaksanakan tugas-tugas dan menghadapi tantangan yang dihadapannya. Walaupun intelektual merupakan salah satu persyaratan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, tetapi hanya berbekal intelektual seseorang tidak akan menjadi seorang pemimpin yang baik.

Pemimpin yang  dapat mengelola kemampuan emosionalnya akan selalu bijaksana dalam mengambil keputusan. Intelektual penting untuk bekal pemimpin tetapi kompetensi emosional juga harus menyertainya. Kompetensi emosional luar biasa, tetapi tanpa kemampuan intelektual, juga tidak akan mungkin menjadi seorang pemimpin yang baik. Tidak ada burung yang dapat terbang dengan hanya satu sayap, demikian pula kepemimpinan akan terjadi bilamana hati dan kepala atau perasaan dan pikiran bekerja sama secara harmonis. Bagaimanapun, kecerdasan tidaklah berarti apa-apa bila emosi yang berkuasa.

Hal terseebut menunjukkan betapa pentingnya peran dan kedudukan kecerdasan emosional, bukan hanya bagi pemimpin tetapi bagi manusia pada umumnya. Meskipun sangat penting tetapi keberadaannya tidak cukup jika ia dimaksudkan sebagai dasar utama menitik beratkan kajian seberapa besar seorang pemimpin mampu mengelola emosinya untuk melakukan  interaksi sosial dengan masyarakat atau bawahan yang dipimpinanya, sehingga ia dapat digolongkan sebagai pemimpin yang professional dan  efektif. Menurut daniel goleman (2002), emosi merunjuk kepadasuatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, yaitu suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecendrungan untuk bertindak.

 Lebih lanjut daniel goleman memberikan beberapa golongan emosi, yaitu: Amarah, kesedihan, rasa takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel dan malu. Pikiran emosional lebih cepat dari pada pikiran rasional, langsung melompat bertindak tanpa mempertimbangkan apa yang dilakukan. Kecepatannya itu mengesampingkan pemikiran hati-hati dan analitis yang merupakan ciri khas akal rasional. Pikiran rasional membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk mendata dan merspon dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan oleh pikiran emosional. Oleh karena itu dorongan yang pertama dalam suatu situasi emosional adalah dorongan hati, bukan dorongan kepala.

Sebagai kesimpulan, pemimpin yang visioner dituntut untuk mampu memberikan teladan, bersih, jujur, professional, dan berwibawa.  Tahta kekuasaan sifatnya sementara tidak kekal dan abadi. Maka ada pepatah, jadi pejabat itu enak dan memabukkan, sehingga jika sudah duduk lupa berdiri. Mereka ingin terus mempertahankan kekuasananya dan membangun dinasti sehingga kekuasaan tidak jatuh ke dinasti yang lainnya. Sungguh menye­dihkan.***

Dr Machasin MM, Dosen FEB Unri




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU



EPAPER RIAU POS  26-jan.jpg