Home >> Opini >> Samsul Nizar (Guru Besar & Ketua STAIN Bengkalis)

Opini
Samsul Nizar (Guru Besar & Ketua STAIN Bengkalis)

Frekwensi Ilahi

22 Februari 2021 - 10.57 WIB

Frekwensi Ilahi

Sebuah siaran radio, saluran televisi, atau jaringan seluler akan bisa didengar dan dilihat tatkala frekuensi yang menghubungkan pada saluran atau siarannya sesuai dengan yang diharapkan. Tentu saluran yang bisa menghubunginya tatkala signal sesuai dengan frekuensi providernya. Meski hanya 1 atau sekian mili dari garis untuk siaran radio atau 1 angka untuk televisi, tatkala frekuensinya tidak cocok, maka manusia tak akan mendapatkan apa yang diharapkan atas siaran radion atau tontonan televisi yang diinginkan. Meski sepersekian, frekuensi sangat menentukan ketersambungan komunikasi yang diinginkan.

Iktibar di atas jarang menjadi bahan renungan, apatahlagi pikiran manusia untuk bisa berkomunikasi dengannilai-nilai Ilahiah acapkali terhijab dan tak bisa berkomunikasi dengan Allah. Hal ini disebabkan karena manusia tak menemukan frekuensi yang tepat menuju komunikasi pada Sang Khaliq. Meski dalam hadis qudsi disebutkan bahwa Allah lebih dekat dengan hamba melebihi dekatnya urat leher hamba, namun kedekatan bukan berarti akan terbangun komunikasi tatkala frekuensinya belum mampu terkoneksi secara benar.

Ada beberapa cara menggapai frekuensi yang tepat menuju Sang Pencipta untuk menikmati kelezatan berkomunikasi dengan-Nya, yaitu: Pertama, perspektif tasauf, bahwa dari Nur Allah terciptalah Nur Muhammad. Dari Nur Muhammad, Allah menciptakan seluruh alam semesta beserta isinya. Ibarat seutas tali frekuensi, awal frekuensi pada Allah dan ujungnya adalah pada Rasulullah. Untuk menghubungkan frekuensi dengan Rasulullah tentunya melalui memperbanyak bershalawat pada Rasulullah. Melalui shalawat, manusia membangun cinta pada junjungan alam. Dengan cinta akan terbangun perilaku yang disenangi oleh yang dicintai (Rasulullah). Dengan bangunan prilaku (akhlak) tersebut akan semakin menuju ketepatan frekuensi pada SangPencipta.

Kedua, membangun frekuensi dengan mengamalkan Alquran. Alquran bukan sebatas dibaca, dihafal, ditulis (melalui seni kaligrafi), atau dipelajari (sebatas ilmu), tapi lebih jauh mampu menyingkap berbagai rahasia-Nya dan mengamalkan apa yang difirmankan-Nya dalam kehidupan nyata. Tatkala Alquran hanya sebatas simbol dan asesoris kehidupan, maka frekuensi menuju komunikasi dengan Allah tak terjadi.

Ketiga, melakukan koneksi frekuensi para wali Allah. Bukan berarti manusia tak bisa langsung melakukan komunikasi dengan Allah, namun kadang banyak kekuatan signal frekuensi diri terhijab oleh dosa dan keangkuhan diri. Wasilah pada para hamba yang dimuliakan-Nya dapat mempercepat signal frekuensi berkomunikasi dengan Allah. Hamba yang dimuliakan tak pernah terbersit ingin dipandang mulia, apalagi memandang diri mulia. Hamba yang mulia hanya disibukkan berdekatan pada Khaliq pada setiap apa yang dilakukannya. Dalam seluruh aktivitas dirinya hanya keindahan bersama dengan kebenaran Allah yang begitu indah. Komunikasi hamba-Nya ini akan dapat signal frekuensi hamba menuju keindahan tiada tara bersama keagungan-Nya.

Keempat, menjalin provider kedua orang tua. Hal ini sesuai sabda Rasulullah, bahwa "ridha Allah tergantung ridha kedua orang tua dan murka Allah tergantung murka kedua orang tua" (HR Thabrani).

Bila frekuensi "wali qutub" tak menyala untuk anaknya, bagaimana mungkin seorang anak mampu menempatkan frekuensi Allah secara tepat.

Kelima, melalui signal frekuensi anak yatim. Hal ini dinyatakan oleh Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Saya dan orang yang memelihara anak yatim di surga, seperti ini (sambil merenggangkan jari telunjuk dan jari tengah)." (HR Bukhari).

Begitu banyak jalan untuk memperoleh koneksi frekuensi bersama Allah. Namun, ternyata, nikmat merasakan kebersamaan hamba dengan Khaliq tak semua mampu mendapatkannya. Tergantung frekuensi diri apakah mampu terkoneksi dengan frekuensi Sang Khaliq. Bagi yang terhubung, dirinya akan mampu menjawab nikmat Allah dengan kesyukuran dan ujian Allah dengan kesabaran. Berbeda bila frekuensi tak terkoneksi secara baik. Koneksi diri dengan Allah tatkala musibah menghampiri, namun memutuskan "silaturrahim" dengan Allah tatkala nikmat diperoleh. Apatahlagi bila bersemayam kesombongan dalam diri, maka akan semakin jauh frekuensi menikmati manisnya rasa cinta Allah. Berinteraksi dengan mitra kesombongan saja dapat memutuskan silaturrahim dengan Allah, apatahlagi bila sifat sombong menjadi motor dan sifat pada diri, maka signal frekuensi Allah akan hilang sama sekali pada dirinya. Di sinilah kekuatan frekuensi mengalami kelabilan.

Hanya masing-masing diri yang bisa merasakan, bukan dipaksa merasakan dengan tipuan asesoris yang menggunung.Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU



EPAPER RIAU POS  2021-03-03.jpg