Home >> Opini >> Noliza Statistisi Muda di BPS Kota Pekanbaru

Opini
Noliza Statistisi Muda di BPS Kota Pekanbaru

Setahun Bersama Virus Corona

3 Maret 2021 - 09.49 WIB

Setahun Bersama Virus Corona

Sudah satu tahun Indonesia hidup dengan pandemi virus corona. Banyak dampak dan perubahan kehidupan yang disebabkan oleh pandemi ini. Seluruh aspek kehidupan kita terganggu karena hal ini. Apakah kita bisa bertahan dengan situasi seperti ini? Dan bagaimana kelangsungan kehidupan kita di tahun-tahun berikutnya?

Indonesia pertama kali mengkonfirmasi kasus Covid-19 pada Senin 2 Maret Tahun 2020. Saat itu, Presiden Joko Widodo mengumumkan ada dua orang Indonesia positif terjangkit virus Corona yakni perempuan berusia 31 tahun dan ibu berusia 64 tahun. Menurut Tim pakar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menilai memprediksi virus Corona telah masuk ke Indonesia sejak minggu ke-3 Januari 2020. Sejak saat itu lah wabah virus corona terus merajalela ke berbagai daerah. Dimana setiap hari di informasikan pasien yang terjangkit dan meninggal terus bertambah.

Hal ini lah mendorong setiap pemerintah daerah mulai melakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), termasuk Provinsi Riau. Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Provinsi Riau perlu dilakukan untuk menekan angka pasien Covid-19 yang terus meningkat terutama di Kota Pekanbaru. Kota Pekanbaru salah satu kota dengan angka tertinggi penderita Covid-19 di antara 12 kabupaten/kota di Riau. Kebijakan PSBB tentunya memberikan dampak yang besar terhadap seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Aspek Ekonomi

Akibat PSBB, dunia usaha, tempat hiburan, wisata, dan tempat ibadah di tutup. Kegiatan perekonomian/usaha terbatas dan makin lemah. Banyak perusahaan-perusahaan yang mengalami penurunan omset, akibatnya tidak sedikit karyawan yang dirumahkan atau di PHK. Ada juga perusahaan yang tidak melakukan PHK, tetapi karyawan digaji tidak penuh. Sementara untuk usaha kecil dan mikro banyak yang gulung tikar. Sehingga menyebabkan meningkatnya pengangguran.

Berdasarkan data BPS, tingkat pengangguran terbuka di Kota Pekanbaru pada tahun 2019 sebesar 7,74 persen menjadi 8,56 persen di tahun 2020. Peningkatan pengangguran akhirnya memberikan dampak terhadap tingkat kesejahteraan dan kemiskinan masyarakat. Terbukti penduduk miskin Kota Pekanbaru meningkat dari 2,52 persen pada Maret tahun 2019 menjadi 2,62 persen pada Maret tahun 2020.

Dalam aspek ini, Pemerintah sudah berusaha melakukan kebijakan-kebijakan untuk membantu perekonomian masyarakat, diantaranya Program Keluarga Harapan (PKH), program Kartu Sembako, Bantuan Langsung Tunai (BLT), dan keringan listrik.

Aspek Pendidikan

Sejak diberlakukanya PSBB, semua sekolah tidak melakukan pembelajaran tatap muka. Pembelajaran dilakukan secara daring (dalam jaringan) atau video. Hal ini membuat para guru, anak, dan orang tua terkejut karena ketidaksiapan dengan situasi yang terjadi. Sistem pembelajaran seperti ini menuntut para guru, siswa dan orang tua harus bisa menggunakan teknologi.

Kendalanya, apakah setiap guru bisa menggunakan teknologi yang ada? Dan apakah setiap siswa memiliki handphone atau PC dengan kuota internet untuk melakukan pembelajaran daring? Karena masih ada penduduk kita dibawah garis kemiskinan, untuk makan saja sulit, apalagi untuk membeli kuota internet dan handphone yang memiliki kualitas untuk pembelajaran daring. Untuk mengatasi dampak ini, pemerintah sudah berusaha memberikan bantuan kuota internet untuk anak sekolah.

Dampak lainnya pendidikan secara sistem daring ini menuntut orang tua lebih banyak berperan serta mendampingi anak-anaknya untuk belajar. Namun tidak semua orang tua bisa full mendampingi anak-anaknya karena harus bekerja mencari nafkah. Setelah hampir satu tahun menjalani pemebelajaran secara daring, orang tua dan murid merasa tatap muka dengan guru lebih penting dalam hal pembelajaran.

Aspek Kesehatan

Dampak lain yang dirasakan dari virus corona ini menyebabkan orang yang memiliki penyakit lain tidak berani berobat ke rumah sakit/puskesmas dan mereka pun sulit mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal. Selain itu juga menyebabkan terhambatnya pelayanan imunisai lengkap pada balita. Tentu hal ini bisa menjadi permasalahan baru lagi untuk masa mendatang jika balita tersebut tidak mendapatakan imunisasi lengkap.

Upaya pemerintah dalam memberikan bantuan di aspek kesehatan bisa terlihat dari penambahan APD untuk rumah sakit/puskesmas, menyediakan tempat penginapan bagi tenaga kesehatan di hotel, pemberian rapid tes dan swab masal, serta menanggung biaya pasien covid yang di rawat. Selain itu, di tahun 2021, pemerintah berusaha memberikan vaksin sinovac secara bertahap untuk seluruh masyarakat.

Sudah hampir satu tahun kita hidup berdampingan dengan virus corona, segala aspek kehidupan kita mengalami krisis dan dampak yang buruk. Namun sampai saat ini, bisa kita lihat masih ada masyarakat kita yang tidak percaya akan adanya virus corona tersebut. Masih banyak kita temui masyarakat yang tidak memakai masker dan tetap kumpul-kumpul. Sementara informasi tentang pasien Covid-19 juga terus bertambah setiap harinya.

Untuk itu seluruh lapisan masyarakat harus lebih sadar akan bahayanya pandemi virus corona ini, karena kunci untuk menanggulangi pandemi virus corona ini kita semua harus disiplin terhadap protokol kesehatan sehingga angka penularan virus corona bisa berkurang dan dapat ditekan. Tentunya, kita semua sudah mendambakan dapat hidup normal kembali.***

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook



petuah ramadan
Kepada yang Hidup
Munzir Hitami (Mantan Rektor UIN Suska Riau)

Kepada yang Hidup

Rabu, 21 April 2021

EPAPER RIAU POS  hal-1-ok.jpg