Home >> Opini >> Musfardi Rustam Doktor Epidemiologi Alumnus Universitas Indonesia

Opini
Musfardi Rustam Doktor Epidemiologi Alumnus Universitas Indonesia

Habis Gelap Terbitlah Vaksin Covid-19

3 Maret 2021 - 09.55 WIB

Habis Gelap Terbitlah Vaksin Covid-19

Setahun sudah kita seperti dalam ‘kegelapan’ yakni kedaruratan kesehatan masyarakat pandemik Covid-19 diberlakukan di Indonesia.  Diujung ‘gelap’ itut terbitlah Vaksin Covid-19. Ini patut kita syukuri. Apalagi saat ini belum berjalan maksimalnya protokol kesehatan di masyarakat serta belum tersedianya obat yang ampuh dalam pengobatan Covid-19  yang memunculkan berbagai dampak di masyarakat. Belum lagi hoaks soal vaksin begitu massif.

Dalam memerangi hoaks yang berkembang di masyarakat maka diperlukan strategi penguatan sosialisasi dan advokasi Fatwa MUI Nomor 02 Tahun 2021 tentang vaksin Covid-19  Sinovac tgl 11 Januari 2021 yang merekomendasikan keamanan dan kehalalan vaksin sebagai ikhtiar untuk mencegah terjadinya penularan wabah Covid-19 -19.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan persetujuan penggunaan dalam kondisi emergency atau darurat kesehatan masyarakat untuk vaksin sinovac. Seberapa efektifkah vaksin sinovac dalam memberikan kekebalan? Secara epidemiologi efikasi vaksin sebesar 65,3 persen atau 0,65. Efikasi vaksin mengukur perbedaan risiko infeksi atau penyakit antara individu yang divaksinasi maupun yang tidak divaksinasi. Efikasi vaksin 65,3% artinya vaksin sinovac dapat menurunkan penyakit sebesar 65% di populasi masyarakat yang divaksin dibandingkan kelompok masyarakat yang tidak divaksin (Plasebo).

Dari efikasi vaksin ini didapatkan rasio risiko (RR) sebesar 0,35 atau satu banding tiga (1:3) yang bermakna seseorang yang tidak divaksin Covid-19 berisiko kena Covid-19 3 kali lebih besar dibandingkan seseorang yang divaksin.  Efek vaksin yang luas dimasyarakat dalam meningkatkan kekebalan kelompok (herd Immunity) perlu dibarengi partisipasi tinggi vaksinasi. Sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menyimpulkan bahwa dalam menanggulangi pandemi tidak hanya bisa mengandalkan vaksin saja tanpa pembatasan sosial atau social distancing maka kita perlu mecapai target sasaran 100 persen penduduk apabila efektifitas vaksin hanya 60 persen.

Sangat sulit dan mahal dilaksanakan apabila target sasaran 100 persen yang ingin dicapai. Manajemen distribusi logistik pada semua golongan usia serta kebijakan pelaksanaan benar-benar didukung seluruh lapisan masyarakat. Dalam penelitian ini juga menyimpulkan apabila vaksinasi Covid-19  hanya mencakup 75 persen penduduk maka efektifitas vaksin harus setidaknya 80 persen.

Vaksin Sinovac adalah inactivated vaccine yaitu virus yang dimatikan dan tidak akan menyebabkan infeksi serius apabila telah disuntikkan. Vaksin inaktif dari organisme yang meyebabkan penyakit atau pathogen yang menjadi target. Virus terdeteksi oleh sel imun namun tidak menyebabkan seseorang menjadi sakit. Vaksin ini diberikan dalam 2 dosis yaitu pada hari ke 0 (Nol) dan ke 14 (empat Belas). Tujuan pemberian vaksinasi untuk memutuskan transmisi penularan, menurunkaan jumlah kesakitan/kematian dan meningkatkan kekebalan kelompok di masyarakat.      

Vaksinasi merupakan upaya pencegahan primer sebagai upaya memasukkan vaksin ke tubuh seseorang untuk meningkatkan kekebalan secara aktif terhadap penyakit sehingga apabila suatu saat terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan saja serta tidak menjadi sumber penularan penyakit. Cakupan vaksinasi harus dicapai agar tercapai kekebalan kelompok (herd immunity) di masyarakat.  

Kekebalan kelompok adalah kekebalan terhadap penyakit infeksi Covid-19 yang diperoleh tidak langsung karena sebagian besar populasinya sudah kebal. Konsep meratanya distribusi sasaran yang akan divaksin di suatu wilayah merupakan upaya mutlak dilakukan. Pemberian vaksin ini diharapkan mampu memberikan kekebalan pada masyarakat dan mampu mengendalikan kasus Covid-19 . Strategi komunikasi yang tepat dan menyeluruh perlu dilaksanakan untuk meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap vaksinasi. Pendekatan kemitraan pemerintah dan sektor swasta perlu dibina untuk membangun pemahaman yang benar tentang vaksinasi ini (vaccine literacy) sehingga masyarakat siap untuk di vaksin.

Hal yang perlu dipersiapkan dalam komunikasi vaksin yang efektif  yang pertama yaitu semua bicara dan saling mendengarkan. Semua informasi sangat jelas dan berbasis ilmiah tentang efektifitas, mutu dan keamanan vaksin. Pendekatan kedua menciptakan suasana menyenangkan dan komunikasi dua arah yang saling akrab ditambah perumusan komunikasi yang lengkap, benar dan terarah, media komunikasi maupun sasarannya. Pendekatan ketiga adalah mengarahkan pada perubahan perilaku sehingga masyarakat itu mengerti dan mau dilakukan vaksinasi.***

Musfardi Rustam Doktor Epidemiologi Alumnus Universitas Indonesia,  Dosen Luar Biasa Epidemiologi




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook



petuah ramadan
Kepada yang Hidup
Munzir Hitami (Mantan Rektor UIN Suska Riau)

Kepada yang Hidup

Rabu, 21 April 2021

EPAPER RIAU POS  hal-1-ok.jpg