Home >> Opini >> Rahmi Carolina

Opini
Rahmi Carolina

Karhutla di Masa Pandemi Lebih Menakutkan

19 Maret 2021 - 10.13 WIB

Karhutla di Masa Pandemi Lebih Menakutkan

Sejak tahun 1997 bahkan hingga kini, asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih terus saja terjadi. Atau lebih tepatnya sejak saya masih sangat kecil, hingga saat ini sudah memiliki anak kecil pula. Kebakaran hutan dan lahan tak pernah absen. Apa yang sebenarnya terjadi?

Down to Earth (DTE) mempublikasikan bahwa ledakan pertumbuhan kelapa sawit benar-benar mulai terjadi pada tahun 1990-an, tetapi landasannya telah dipersiapkan satu dekade sebelumnya. Selama tahun 1980-an, Bank Dunia dan Asian Development Bank (ADB) mendanai beberapa proyek perkebunan kelapa sawit, beriringan dengan dukungan untuk program transmigrasi pemerintah Indonesia.

Legislasi pendukungnya memastikan bahwa para keluarga miskin dari Jawa, Bali dan Madura dipindahkan ke Kalimantan, Sumatera serta ‘pulau-pulau luar’ yang dijadikan sasaran lainnya untuk membuka wilayah hutan dan menjadi sumber buruh murah bagi perusahaan industri perkebunan, sementara insentif finansial ditawarkan kepada perusahaan-perusahaan kelapa sawit.

Pada akhir masa Suharto di tahun 1998, jumlah total area yang ditanami perkebunan kelapa sawit diperkirakan telah mencapai 2,5 juta hektar. Industri kelapa sawit menjadi semakin didominasi oleh konglomerat raksasa yang mengendalikan dua pertiga perkebunan swasta pada tahun 1997.

Hasil produksi minyak kelapa sawit Indonesia sebagian besar ditujukan untuk kebutuhan ekspor. Dibandingkan dengan minyak sayur lain seperti, kedelai, rapeseed dan biji bunga matahari, minyak sawit hingga saat ini paling diminati. Kebutuhan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan meroketnya harga minyak juga ikut mendorong tingginya permintaan akan minyak sayur, selain untuk keperluan bahan dasar kebutuhan pangan dan kosmetik.

Tingginya minat pasar dunia dan melambungnya harga sawit membuat masyarakat berbondong-bondong ikut membuka lahan untuk perkebunan kala itu. Menurut Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari), perambahan di Riau khususnya Tesso Nilo sudah dimulai sejak tahun 1997. Hingga september 2019, sebanyak 83 ribu hektar lahan telah beralih fungsi menjadi perkebunan sawit di sekitar taman nasional tersebut.

Namun, Taman Nasional Tesso Nilo yang berada di kampungku, di Kabupaten Pelalawan itu juga tak luput dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi pada tahun 2019 silam. Hingga Oktober 2019, Jikalahari mengungkapkan bahwa lebih dari 200 hektar lahan terbakar disana. Sejumlah orang juga kerap merambah hutan, lalu membuka lahan dengan cara membakar karena dianggap lebih murah dan mudah.

Lahan Gambut Kering, Karhutla Tiba

Provinsi Riau yang sebagian wilayahnya merupakan rawa, memiliki luas lahan gambut kurang lebih 50% dari total luasan provinsi itu sendiri, yang tersebar di hampir seluruh wilayah kabupaten. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi Riau) menuturkan dari total luasan Provinsi Riau ±9 juta hektar, lebih dari 4 juta hektarnya merupakan gambut dengan kedalaman yang bervariasi.

Gambut merupakan lahan basah yang terbentuk dari timbunan materi organik yang berasal dari sisa-sisa pohon, tumbuhan, lumut, dan jasad hewan yang membusuk. Timbunan tersebut menumpuk selama ribuan tahun hingga membentuk endapan yang tebal. Pada umumnya, gambut ditemukan di area genangan air, seperti rawa, cekungan antara sungai, maupun daerah pesisir. Gambut terbentuk ketika bumi menghangat sekitar tahun 9.600 Sebelum Masehi.

Organisasi Pantau Gambut dalam publikasinya menjelaskan lahan gambut mengandung dua kali lebih banyak karbon dari hutan tanah mineral yang ada di seluruh dunia. Ketika terganggu atau dikeringkan, karbon yang tersimpan dalam lahan gambut dapat terlepas ke udara dan menjadi sumber utama emisi gas rumah kaca.

Sejatinya lahan gambut memiliki sifat yang menyerupai spons. Menyerap dan menahan air secara maksimal pada saat musim hujan dan musim kemarau. Namun kondisi lahan gambut mulai terganggu akibat adanya konversi lahan atau pun pembuatan kanal-kanal untuk kepentingan perkebunan. Kanal-kanal tersebut dibuat untuk memecahkan dan mengaliri air yang tersimpan di lahan gambut sehingga gambut menjadi kering. Saat hal ini terjadi maka keseimbangan ekologis gambut pun ikut terganggu.

Biasanya lahan gambut yang sengaja dikeringkan secara terus menerus demi kepentingan perkebunan ini, dilakukan untuk mencegah air kembali membanjiri gambut. Ketika lahan gambut berada dalam keadaan kering, tanaman dan semak belukar di atasnya, hingga lahan gambut itu sendiri, akan sangat mudah terbakar. Bisa karena kemarau panjang atau bahkan sengaja dibakar untuk membuka lahan yang baru.

Lahan gambut yang kering memang menjadi masalah yang besar, pasalnya gambut yang terbakar akan mengeluarkan banyak CO2 yang tersimpan di dalam gambut, dan akan terlepas ke udara sehingga mempercepat peningkatan suhu bumi yang berakibat pada perubahan iklim. Tentu hal ini juga membuat Indonesia disorot dunia. Selain itu gambut yang terbakar akan sulit dipadamkan. Karena selain terbakar di atas permukaan, api juga merembet di dalam, di bawah permukaan. Sulutan api akan sambung-menyambung dan menjadi sangat sulit dipadamkan jika telah terlanjur menyebar kemana-mana. Jadi berhentilah mengkonversi hutan jadi lahan sawit.***

Rahmi Carolina, Pemerhati Lingkungan dan Campaigner di Youth for Peatland

 

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook



petuah ramadan
Kepada yang Hidup
Munzir Hitami (Mantan Rektor UIN Suska Riau)

Kepada yang Hidup

Rabu, 21 April 2021

EPAPER RIAU POS  hal-1-ok.jpg

telatah ramadan

Lawe

Rabu, 21 April 2021
Lawe