Home >> Opini >> Bagus Santoso (Wakil Bupati Bengkalis)

Opini
Bagus Santoso (Wakil Bupati Bengkalis)

Ulama dan Tamadun (Catatan Seminar Peran Ulama dalam Pembentukan Tamadun Melayu Selat Melaka)

31 Maret 2021 - 09.55 WIB

Ulama dan Tamadun  (Catatan Seminar Peran Ulama dalam Pembentukan Tamadun Melayu Selat Melaka)

Berbicara tentang peran ulama dalam pembentukan Tamadun Melayu Selat Melaka, maka kita tidak bisa terlepas dari sosok ulama-ulama besar di semenanjung Selat Melaka terdahulu. Mana saja wilayah Selat Melaka itu? Yakni pesisir Sumatera yang berhadapan langsung dengan Selat Melaka, mulai dari Banda Aceh, Loksumawe, Pedir, Idi, Tanjung Pura, Deli, Panai, Bengkalis, Bagansiapi-api, Tanjung Pinang. Wilayah-wilayah ini posisinya berhadapan langsung dengan Selat Melaka.

Lalu kita cari siapa saja tokoh ulama besar di wilayah ini? Kita bagi tiga priode. Pertama, priode awal, yakni abad 16-17. Kedua, priode abad 18-19. Ketiga, priode abad 19-20.

Di priode awal, ulama besar yang muncul ini berasal dari Banda Aceh. Hamzah Fansuri (diperkirakan hidup sekitar abad 16, ada yang menyebut lahir 1590), dimakamkan di Peukan Bada, Aceh Besar. Beliaulah sosok pertama ulama besar penulis kitab yang menggunakan bahasa Melayu dalam karya ilmiah.

Di wilayah Aceh, setelah Hamzah Fansuri muncul ulama-ulama besar lainnya, yakni Nuruddin Arraniry, Syamsuddin Sumatrani (murid Hamzah Fansuri), Abdul Rauf Al-Singkli, sampai ke Burhanuddin penyebar Islam di Pariaman (Sumbar).

Mereka semua level ulama klasik (abad 16-18) yang pengaruhnya sampai ke penjuru nusantara, bukan hanya di Selat Melaka, termasuk ke Kerajaan Patani (Petani) yang sekarang wilayah Melayu dikuasi oleh Thailand.

Ulama-ulama besar di abad 16-18 ini bukan hanya membangun jaringan tamadun melayu di selat melaka, tetapi luas ke nusantara, maka munculkan Abdul Somad Al-Palimbani, Nawawi Al-Bantani dan ulama besar lainnya. Mereka membangun jaringan ulama sampai ke Timur Tengah (Haramain; Makkah-Madinah).  Wilayah Palembang adalah bagian ujung dari selat melaka, yang pada akhirnya bermuara ke Banten, sebagai pelabuhan besar di Jawa.

Tahap kedua, ulama besar yang berperngaruh di Pesisir Melaka pada abad 18-19, adalah Daud Patani (wafat  1847), Shaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (1860–1916), yakni ulama dari Minangkabau yang melahirkan banyak kitab dan menjadi khatib di Masjidil Haram, Raja Ali Haji (1808-meninggal di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, 1873) adalah ulama, sejarawan, dan pujangga abad XIX. Tuanku Imam Bonjol (1772–1864) yang pada gilirannya perjuangan diteruskan Tuanku Tambusai yang lahir Rokan Hulu 5 November 1784 dan wafat di Negeri Sembilan, Malaysia, 12 November 1882.  Pengaruh mereka sangat besar bagi tamaddun melayu.

Ketiga, ulama-ulama besar abad 19-20 awal yang berpengaruh di Selat Melaka, H Abdul Karim Amrullah ayah Buya Hamka (1879-1945), Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (1908-1981), Syaikh Idris, 1896-1989, kedua orang tuanya berasal dari Lubok Merbau, Perak Darul Ridzuan. Beliau merupakan penulis Kamus Marbawi (kamus Arab-Melayu). Kamusnya banyak digunakan oleh santri dan pelajar di madrasah untuk mempelajari bahasa arab. Orang tua kita dulu selalu menyimpan kamus marbawi ini, demikian besar jasanya bagi pembentukan cendikiawan di semenanjung Melaka.

Tuan guru Syeikh Abdul Wahab Rokan (1811-1926) yang pengaruhnya sampai semananjung Malaya. Walaupun makam beliau di Basilam Langkat, tetapi asal beliau dari Rokan Hulu, dan pengaruhnya di Riau ini sangat kuat.  

Perlu Penelitian Jaringan Ulama Bengkalis Abad XX
Jika di atas saya jelaskan bagaimana jaringan ulama di selat melaka yang berpengaruh di nusantara, bahkan mereka bisa membangun jaringan ke Timur Tengah, Haramain (Makkah-Madinah), maka saya di sini menjelaskan pentingnya menggali jaringan ulama di Bengkalis.

Bengkalis memiliki banyak ulama lokal. Buya Amrizal dan Marzuli Ridwan Al Bantany dkk telah menyelesaikan buku profil ulama kharismatik di Kabupaten Bengkalis. Kerja yang seperti ini perlu didukung agar masyarakat Bengkalis bisa mengenal ulama-ulama besar di Bengkalis. Ada Tuan Faqih Abdul Ghani, H Ustaz Mil (1918-2013), Kiyai Darwis dan lainnya. Mereka ulama yang menguasi ilmu fiqh, kitab-kita kuning dan ilmunya luas.

Bila perlu dibuat kajian tentang jaringan ulama Bengkalis, sebab para ulama di Bengkalis ini dulunya juga menuntut ilmu ke semenanjung Malaya bahkan sampai ke Jawa. Seharusnya kita pelajari bagaimana ulama-ulama, para tuan guru yang pernah hidup di Bengkalis ini belajar? Mereka dulunya merantau menuntut ilmu ke Sumbar, seperti Thawalib, Candung dan pondok lainnya, bahkan sebagian ada yang mondok ke Jawa.

Saya masih ingat beberapa tahun lalu, saat itu ada program mengirimkan anak wathan ke Kairo Mesir, untuk menuntut ilmu. Alhamdulillah hasilnya kini mereka sudah ada yang sudah magister dan mengajar di Bengkalis, STAIN Bengkalis dan pondok pesantren. Kelak mereka-mereka inilah yang akan menjadi ulama besar di Bengkalis.

Negeri ini bertuah karena doa dan adanya ulama-ulama terdahulu. Maka jangan abaikan mereka. Mari kita munculkan kader ulama-ulama di Kabupaten Bengkalis, agar negeri selalu guyub, harmonis, dan penuh berkah. Baldatun thoyyibantun wa robbun ghafur.***                                                       

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook



petuah ramadan
Kepada yang Hidup
Munzir Hitami (Mantan Rektor UIN Suska Riau)

Kepada yang Hidup

Rabu, 21 April 2021

TERBARU


EPAPER RIAU POS  hal-1-ok.jpg