Home >> Opini >> Maryati Arifudin (Guru SMKN Kehutanan Pekanbaru)

Opini
Maryati Arifudin (Guru SMKN Kehutanan Pekanbaru)

Yakinlah Badai Pasti Berlalu

21 April 2021 - 12.10 WIB

Yakinlah Badai Pasti Berlalu

Badai pasti sesuatu yang tidak pernah diharapkan kehadirannya. Walaupun tidak pernah diharapkan, namun badai setiap saat akan hadir dalam episode kehidupan di dunia.

Salah satu episode kehidupan yang tidak dapat luput dari sapaan “badai” adalah episode kehidupan rumah tangga. Badai dalam kehidupan berumah tangga ibarat aroma wajib kehidupan rumah tangga. Pasang surutnya rumah tangga menuntun kita untuk mampu mengelola aromanya. Mau aroma badai berlalu begitu saja atau aroma itu dirawat sampai usia senja.

Mencium aroma badai saja kita tak mau, apalagi berharap badai hadir bahkan merawatnya sampai di usia senja. Nah, bagaimana strategi mengelola badai rumah tangga agar dapat berlalu begitu saja? Ataukah badai itu kita hentikan? Mampukah kita menghentikannya dengan memperhatikan risikonya.

Salah satu ujung munculnya badai rumah tangga biasanya diawali dari rasa kecewa. Terutama kekecewaan pada pasangan merupakan sumber utama badai rumah tangga. Hal ini muncul akibat membandingkan pasangan rumah tangganya dengan pasangan rumah tangga orang lain. 

Benarkah masalah ini, menjadi salah satu penyebab munculnya badai kehidupan dalam membangun rumah tangga? 

Sebuah sifat manusiawi dari hamba ciptaan Allah, bahwa akan selalu tampak lebih indah pada pandangan matanya apa-apa yang bukan miliknya. Demikian pula ketika melihat pasangan rumah tangga orang lain, seakan kesempurnaan dimiliki oleh pasangan itu.

Tutup mata rapat-rapat, sesungguhnya di balik pandangan mata manusia, terdapat pandangan semu. Percayalah setiap rumah tangga pasti mempunyai masalah yang tidak mungkin diperlihatkan di muka umum.  Buka mata hati lebar-lebar! Bahwa siapa saja orang yang telah memberanikan diri untuk meminangmu maka ia adalah pasangan terbaikmu. Dengan Bismillah ia mengikatmu dan akan menjadikan pasangan hidupmu yang tangguh untuk menghalau badai di rumah tangga.

Bolehlah mempunyai cita-cita mengidolakan pasangan orang lain. Tapi ingat apa yang tampak pada pasangan orang lain itu, maka itu terbaik untuk mereka, bukan untukmu. Mereka yang akan mampu menundukkan badai yang hadir dalam rumah tangga mereka. 

Bagaimanakah  cara menundukkan badai agar berlalu?

Mari kita renungkan percakapan antara Imam Yunus bin Abdil A’la dengan Imam Assyafii ra, sebuah peristiwa beda pendapat antara murid dengan sang guru, Imam Assyafii ra. Suatu hari sang Guru mengunjungi muridnya.
Yunus: “Aku berusaha mengingat-ingat setiap orang yang bernama Muhammad bin Idris. Seingatku tiada yang lain selain Assyafii. Kemudian aku buka pintu dan aku dikagetkan dengan kehadiran Imam Assyafii. Beliaupun menasehatiku.”

Imam Assyafii: “Wahai Yunus. Ratusan masalah telah menyatukan kita. Masa hanya satu masalah saja harus membuat kita bercerai? Wahai Yunus, janganlah engkau berusaha membela diri dalam setiap perbedaan pendapat. Seringkali menata hati jauh lebih baik dibanding menata sikap atau pendapat. Wahai Yunus. Jangan kau hancurkan jembatan yang telah kau bangun setelah kau lewati. Bisa jadi suatu hari kau membutuhkanya kembali.”

Setiap badai pasti akan bisa terselesaikan atau dapat dilalui. Asalkan, masing-masing menyadari mau menundukkan egonya. Tundukkan ego itu dengan menyampaikan keinginanmu pada pasanganmu dengan cara yang baik, agar akar badai permasalahanmu cepat berlalu.

Belajarlah dari dialog sang guru dengan si murid di atas. Sang guru rela mendatangi muridnya guna menghalau badai itu. 

Hindarilah badai yang sangat membahayakan rumah tangga. Berbagai wujud badai yang mewarnai aroma rumah tangga, antara lain masakan istri yang tidak seistimewa ibunda. Sampaikan saran terbaiknya pada istri. Jangan dibandingkan antara ibumu dengan sang istri, pasti akan melukai perasaannnya. Percayalah! proses menyamakan selera makan salah satu proses taaruf sebenarnya. Nikmati saja masakannya, sanjung dia agar pipinya merah merona seperti buah cabai. 

Saat itu sampaikan dengan kalimat yang bijak,”Istriku cantik terimakasih telah memasak untukku. Besok lagi jika masak tolong kurangi cabai merahnya. Saya belum terbiasa dengan si cabai merah. Namun, cukuplah hari ini aku berbahagia mampu memandang pipimu yang mempesonaku”. 

Belum lagi masalah muncul jika suami istri semuanya bekerja. Diskusikan dengan pasanganmu, bahwa tugas-tugas rumah tangga tanggung jawab istri. Namun, jika istri kerepotan urus rumah tangga, maka sang suami ikut meringankan beban tugas itu. 

Jangan sampai setiap badai rumah tangga yang muncul dijadikan alasan untuk mengakhiri rumah tangga yang telah dibangun. Pasti suatu saat diri kita akan menyesalinya! Karena akibat alasan yang tidak jelas dan dibuat-buat oleh masing-masing pasangan akan melunturkan janji suci. Ingatlah, bahwa bunga saja perlu waktu untuk mekar. Jangan sampai karena kesalahan yang setitik, dirimu tak mampu untuk bersabar melihat kuncup bunga bermekaran lagi. Buktikan pada dirimu bahwa bunga butuh waktu untuk mekar dan kamu bersabar menantinya.***




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook



petuah ramadan
Menyelamatkan Jiwa
Bagus Santoso (Wakil Bupati Bengkalis)

Menyelamatkan Jiwa

Selasa, 11 Mei 2021

EPAPER RIAU POS  17-mei.jpg

telatah ramadan

Colok Tujuh Likou

Selasa, 11 Mei 2021
Colok Tujuh Likou