Tajuk Rencana

Sepuluh Malam Terakhir Ramadan

3 Mai 2021 - 11.49 WIB

Memasuki sepuluh akhir Ramadan idealnya ditingkat amal ibadah, karena sepuluh malam terakhir diperkirakan keberadaan malam lailatul qadar. Namun kondisi sebaliknya, jamaah Salat Tarwih pun berkurang dan sebagian kaum ibu sibuk mempersiapkan Idulfitri, walau balek kampung dilarang.

Hari Raya Idulfitri dalam hitungan jari, beragam persiapan pun dilakukan umat Islam. Mulai dari belanja tepung, mentega dan lainnya untuk membuat kue. Belanja pakaian untuk hari raya, mukena, peci, sarung dan lainnya. Bagi yang mampu mereka mengecat rumah, membeli perabotan rumah baru. Bahkan ada yang membeli mobil baru. Pokoknya momen hari raya dijadikan serba baru.

Melihat tingginya daya beli umat Islam menjelang hari raya, tentu ini menjadi momen yang menguntungkan bagi pedagang. Tidak jarang pedagang yang nakal menaikkan harga barang jualannya. Tentunya kondisi ini merugikan konsumen, di sinilah perlunya pengawasan pemerintah, dalam hal ini dinas perdagangan dan lembaga konsumen Indonesia mengawasinya, termasuk Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Tingginya permintaan pasar, biasanya dimanfaatkan oleh pedagang untuk mendapatkan keuntungan setinggi-tingginya. Misalnya penjual makanan, mereka menjual makanan dengan menggunakan zat pewarna pakaian, sehingga murah dan tahan lama makanannya. Demikian juga produk-produk kedaluwarsa biasanya dijual bebas di pasar. Bahkan tidak sedikit produk kedaluwarsa diselipkan di parsel, karena konsumen tidak memperhatikan secara detail apa isinya.

Tak jarang menjelang hari raya, aksi kriminal copet dan perampokan pun meningkat, karena pasar lebih ramai dibandingkan hari biasa. Tengok saja pasar pusat, pasar bawah, dan pasar-pasar tekstil lainnya, jumlah pengunjung membeludak. Copet pun melihat kondisi keramaian ini sebagai peluang menjalankan aksinya. Di sini pihak keamanan, polisi hendaknya jeli, dan menurunkan personelnya di titik-titik rawan tindakan kriminal.

Sejatinya Idulfitri tidak semuanya harus baru. Di tengah keperluan semakin banyak, hendaknya kita mampu menahan diri. Bukankah selama puasa kita diajarkan untuk menahan diri. Menahan diri dari makan dan minum. Artinya kita dianjurkan hidup sederhana.

Lalu mengapa sampai terjadi kebalikannya? Saat Idulfitri kok malah poya-poya? Artinya puasa kita belum berbekas ke dalam diri kita. Kita berpuasa masih sebatas menahan lapar dan dahaga, tetapi tidak memahami sebagai bagian dari proses pendidikan (tarbiyah) pada diri kita. Semoga kita bisa menyambut Idulfitri secara sederhana. 

Perlu diingat, usai Idulfitri nanti banyak keperluan menanti dibayar. Mulai dari bayar SPP anak sekolah, bayar uang pendaftaran, bayar buku dan lainnya. Selain itu di masa pandemi Covid-19 ini kondisi ekonomi sangat memprihatinkan.*




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook



petuah ramadan
Menyelamatkan Jiwa
Bagus Santoso (Wakil Bupati Bengkalis)

Menyelamatkan Jiwa

Selasa, 11 Mei 2021

TERBARU


EPAPER RIAU POS  11-mei.jpg

telatah ramadan

Colok Tujuh Likou

Selasa, 11 Mei 2021
Colok Tujuh Likou