Tajuk Rencana

Jangan sampai Seperti India

5 Mai 2021 - 10.59 WIB

Pemerintah India kini kalang kabut menangani pasien Covid-19. Pemerintah negara itu seperti tidak tahu harus berbuat apa. Karena terlalu banyak, akhirnya korban yang berjatuhan tidak tertangani dengan baik.

Sangat lamban. Gambaran tersebut kini tepat untuk pemerintah federal India dalam penanganan corona. Sebab itu, pengadilan di Delhi memilih turun tangan. Pengadilan akan menjatuhkan hukuman kepada para pejabat yang gagal mengirimkan logistik yang bisa menyelamatkan nyawa pasien yang sudah semakin banyak. 

Pengadilan mendesak pemerintah untuk memasok 490 metrik ton oksigen ke Delhi seperti yang dijanjikan sebelumnya. Rumah sakit di berbagai penjuru India memang sudah mengeluarkan status SOS meminta bantuan oksigen. Satu per satu pasien yang seharusnya tertolong justru meninggal karena tidak ada suplai oksigen. Pada Sabtu (1/5) lalu misalnya. Sebanyak 12 pasien di Batra Hospital meninggal dunia, salah satunya adalah dokter. Mereka adalah pasien yang nyawanya bergantung pada bantuan oksigen. Saat itu selama 80 menit suplai oksigen benar-benar kosong. 

Pengadilan menilai situasi saat ini tidak biasa dan sudah sangat genting. RS sudah kewalahan, pun demikian dengan krematorium dan tempat-tempat pemakaman. Bahkan penduduk seperti mulai putus asa mengharapkan bantuan yang tidak kunjung datang.

Kemarahan pengadilan memang pantas. Sebab Pemerintah India seperti abai. Bahkan tetap menggelar pemilu di berbagai wilayah negeri itu. Penghitungan suara hasil pemilu masih dilakukan. Sebagian besar prosesnya tentu tidak menjalankan protokol kesehatan. 

India sudah tidak biasa. Terus-menerus memecahkan rekor. Kemarin angka kematian harian mencapai 3.689 orang. Itu adalah yang tertinggi sejak pandemi kali pertama menyapu India. Kasus hariannya mencapai 392.488. Sehari sebelumnya, India menjadi negara pertama di dunia yang angka penularan hariannya tembus 400 ribu. Menurut banyak pakar, jumlah riil di lapangan jauh lebih tinggi. Vaksinasi juga tidak bisa dilakukan karena stok di sebagian besar wilayah sudah habis. 

Penyebab melonjaknya kasus positif di India memang belum diketahui secara pasti. Apakah memang murni karena terjadinya pelanggaran protokol kesehatan atau mutasi virus SARS-CoV-2. Virus mutasi asal India, B.1.617, memang lebih cepat menular. Namun, WHO belum menyatakan apakah ia lebih berbahaya dari mutasi di Inggris ataupun Afrika Selatan. 

Kita harus mengambil pelajaran dari kasus di India. Pemerintah harus bersungguh-sungguh menekan angka penularan. Larangan berkumpul-kumpul harus berlaku bagi semua orang. Sehingga tidak ada yang merasa diperlakukan tidak adil. Semoga dengan kepatuhan kita semua menjalankan protokol kesehatan, kita mampu keluar dari wabah Covid-19.***




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook




EPAPER RIAU POS  2021-06-17.jpg