Home >> Opini >> Sunarti (Dosen IAIN Batusangkar/Alumni S2 PGMI UIN Suska Riau)

Opini
Sunarti (Dosen IAIN Batusangkar/Alumni S2 PGMI UIN Suska Riau)

Revolusi Mental di Balik Covid-19

28 Mai 2021 - 09.22 WIB

Revolusi Mental di Balik Covid-19

Dewasa ini sering kali kita dihadapkan dengan berbagai cobaan, di antaranya wabah Covid-19 yang telah melanda dan meluluhlantahkan sendi-sendi kehidupan sejak awal tahun 2020 yang sampai saat ini belum juga menunjukkan tanda-tanda mereda. 

Upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 ini membutuhkan keyakinan yang kuat serta semangat yang tinggi, lebih dari itu didukung oleh kesadaran yang tinggi yang berakar dari perubahan sikap mental dari masing-masing kita untuk segera berubah, terutama gaya hidup kesehatan dan kepedulian sosial kita. Tanpa adanya perubahan sikap mental yang kuat setidaknya mentaati prokes kesehatan, maka perilaku kita sulit akan berubah yang akhirnya juga akan sulit memutus peneyebaran Covid-19 dari kehidupan kita. Di sinilah arti pentingnya revolusi mental untuk memutus mata rantai peneyebaran Covid-19 yang mesti dilakukan secara bersama-sama. Revolusi mental dalam diri kita ini setidaknya tercermin pada perobahan pola pikir (kognitif) yang akan mengubah sikap (afektif), selanjutnya mengubah tindakan kita (psikomotor) dalam menghadapi Covid-19. Tegasnya Covid-19 dan revolusi mental adalah dua hal yang tidak terpisahkan bagaikan satu tarikan nafas. 

Secara praktis revolusi nental yang dimaksudkan adalah mengubah cara pandang, pola pikir, sikap-sikap, nilai dan perilaku dari seseorang, dalam hal ini tentu bagaimana cara kita mengubah pola pikir, sikap dan tindakan kita yang berpihak untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Tanpa adanya revolusi mental yang kita bangun bersama, tentu akan sulit nantinya memberantas penyebaran Covid-19 ini. Hal ini sangat sejalan sekali dengan anjuran pemerintah untuk merubah pola pikir kita dalam menjaga kesehatan, yang tertuang dalam bentuk sikap kita mentaati protokol kesehatan, dan selanjutnya kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari yaitu: 

Mematuhi 3 M 

Protokol kesehatan dengan adigiumnya 3 M; memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak niscaya akan  menjadi kebiasaan baru (new normal) ketika didukung oleh revolusi mental seperti disebutkan di atas. Dengan revolusi mental pada tiga ranah kognitif, afektif dan psikomotorik yang berjalin kelindan tentu  3 M ini akan niscaya menjadi bagian dalam keseharian kehidupan kita, sedemikian rupa akan meniscayakan pula terputusnya penyebaran Covid-19 dalam kehidupan kita. Pada posisi ini 3 M tidak lagi menjadi beban dalam kehidupan kita tapai justru menjadi kebutuhan yang dengan ikhlas kita laksanakan karena 3 M telah menjadi pakem maindset kehidupan kita hari ini dan selanjutnya, sehingga kesadaran menjaga kesehatan dan tanggung jawab sosial setidaknya terukur dari kesediaan kita menunaikan 3 M dalam kondisi saat ini dan tidak tertutup kemungkinan akan terus berlanjut dalam bentuk sikap dan perilaku yang menggiring kita akan kepedulian kesehatan pribadi dan kesehatan lingkungan seperti pola hidup bersih, nyaman yang didasari kuatnya sikap tanggung jawab untuk kepentingan pribadi kita akan tetapi sekaligus tanggung jawab keselamatan soaial kita bersama.    

Kesemua ini tentu dapat kita raih jika Revolusi Mental telah menjadi bagian dalam diri kita, terus berlangsung tanpa lagi terbatas oleh ruang dan waktu. Puan Maharani (2020) misalnya  menyebutkan bahwa gerakan Revolusi Mental dalam menanggani Covid-19 ini hampir disepakati oleh para ahli, di mana sikap dan perilaku di antaranya integritas, etos kerja dan gotong royong menjadi penentu untuk memutus penyebaran  Covid-19. 

Alhasil revolusi nental merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan untuk mengakhiri penyebaran Covid-19 di dalam masyarakat, karena bukankah revolusi mental selain  meniscayakan  lahirnya perubahan sikap dan perilaku dalam kehidupan manusia, termasuk perubahan sikap dan perilaku kita terhadap upaya memutus penyebaran Covid-19, sesungguhnya juga revolusi mental akan meniscayakan pula setiap perilaku yang lahir merupakan bentuk kesadaran dan tanggung jawab individu demi kebaikan dan keselamat bersama.  Memutus mata rantai penyebaran Covid-19 tentunya akan segera berhasil atau setidaknya terkurangi bila perilaku 3 M kita merupakan hasil dari upaya revolusi mental yang kuat di dalam setiap diri  kita. 

Semua itu kita tanamkan pada diri kita guna memerangi Covid-19 ini sedemikian rupa menjadi wajah baru dalam keseharian pola kehidupan kita sekarang dan akan datang, baik itu pada perubahan mindsed, sikap dan perilaku kita saat ini  maupun pasca Covid-19. Kita akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi, lebih peduli terhadap keselamatan diri kita dan keselamatan orang lain dan menjadikan kesehatan merupakan asset yang sangat berharga bagi keberlangsungan kehidupan kita bersama.***
 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook



TERBARU


EPAPER RIAU POS  25-juni.jpg