Home >> Opini >> Supriyadi (Staf di BKKBN Riau)

Opini
Supriyadi (Staf di BKKBN Riau)

Menurunkan Angka Stunting

31 Mai 2021 - 10.54 WIB

Menurunkan Angka Stunting

Indonesia saat ini sedang berusaha keras menurunkan angka stunting. Hal ini setidaknya terlihat dari keseriusan Presiden Joko Widodo yang menargetkan angka stunting harus bisa diturunkan menjadi 14 persen pada 2024,  sementara kondisi saat ini angka stunting berada pada kisaran 24 persen (riskesdas 2018). 

Stunting adalah kondisi kurang gizi kronis pada anak berusia 0-59 bulan yang diukur berdasarkan indeks tinggi badan menurut umur (TB/U). Stunting tidak hanya berdampak pada fisik, melainkan juga mental dan emosional khususnya pada perkembangan kecerdasan dalam berpikir. Anak stunting akan tumbuh menjadi remaja yang juga stunting. Stunting juga akan berdampak pada kecerdasan sebab anak yang mengalami stunting perkembangan otaknya tidak maksimal.  Tentunya hal ini jika tidak segera ditangani secara serius dan besar-besaran akan menggerogoti kualitas kehidupan bangsa. Kecerdasan yang berkurang akibat perkembangan otak yang tak maksimal dalam jangka panjang bisa berdampak pada daya saing bangsa yang kurang kompetitif yang akhirnya akan menciptakan banyak pengangguran pada generasi yang akan datang hingga meningkatkan angka kemiskinan.

Menurut laporan Word Bank pada 2017, Indonesia merupakan negara pada peringkat ke-4 di dunia yang memiliki jumlah stunting tertinggi. Jumlah kasus stunting di Indonesia hanya sedikit lebih rendah dibandingkan dengan negara India, Pakistan, maupun negara Nigeria. Inilah persoalan genting yang dianggap oleh Presiden Joko Widodo untuk segera diatasi dalam rangka meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia ke depan. Membangun negara yang memiliki daya saing dan maju harus dimulai sejak dari dalam kandungan bahkan sejak dari perencanaan kehidupan berumah tangga bagi remaja.

Mulai dari Hulu 

Mengatasi persoalan stunting tidak bisa hanya dikerjakan dari hilir saja, artinya ketahuan anak sudah stunting baru kemudian dilakukan penanganan. Mengatasi persoalan stunting seyogyanya dikerjakan mulai dari hulu bahkan bisa dimulai dari remaja terutama remaja putri dalam merencakanan kehidupan berumah tangga. 

Remaja putri harus dididik agar menikah di usia yang ideal dan tidak beresiko yaitu di atas 19 tahun. Selain itu, remaja putri juga harus mempersiapkan gizi terutuma yang mengandung zat zink atau zat besi agar tidak anemia dan untuk kebutuhan calon bayi yang dikandungnya ketika kelak mereka berumah tangga.

Pemahaman-pemahaman mengenai pentingnya gizi untuk pertumbuhan anak yang ada dalam kandungan kelak ketika para remaja ini berumah tangga harus diberikan sedini mungkin sehingga mereka akan mampu mengimplementasikan ketika mereka berumah tangga. 

Kecukupan gizi harus menjadi prioritas utama bagi seorang perempuan yang sudah mulai mengandung, kecukupan gizi  ini diperuntukan untuk bayi yang dikandungnya dan juga untuk dirinya sendiri. Seorang ibu yang lagi mengandung tidak boleh kekurangan gizi sedikit pun. Selain itu, ibu hamil juga harus dijaga kesehatan fisik dan psikisnya. Jangan sampai sakit-sakitan dan juga stres. Jika seorang ibu hamil kurang makan-makanan yang bergizi, sakit-sakitan dan juga mengalami stress maka hal ini bisa berdampak pada bayi yang dikandungnya. Bayi yang ada dalam kandungan bisa terancam menjadi bayi yang stunting kelak ketika lahir di dunia.

Upaya memberikan pengertian pada ibu yang sedang menyusui juga merupakan hal penting. Banyak ibu-ibu muda yang kebanyakan tidak mau menyusui atau memberikan ASI kepada anaknya karena berbagai faktor. Padahal kita mengetahui bahwa ASI merupakan makanan terbaik untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Selain memberikan ASI juga perlu pemberian makanan yang berkualitas pada anak.

Jadi pencegahan stunting, bisa dilakukan mulai dari hulu dari mulai awal perencanaan kehidupan berkeluarga bagi remaja hingga remaja tersebut berumah tangga, mengandung dan melahirkan hingga usia anak berumur 2 tahun atau lebih dikenal dengan 1000 Hari Pertama Kehidupan. Tidak melulu dari hilir ketika anak sudah ketahuan stunting. 

Indonesia Bebas Stunting

Kita semua bermimpi bahwa Indonesia akan bebas dari persoalan stunting. Namun kita pun menyadari bahwa dimanapun, bahkan di negara maju pun kejadian stunting akan selalu ada. Untuk itu tentunya kita berharap bahwa dengan keseriusan kita semua kita bisa menekan angka stunting menjadi sekecil mungkin atau berada di sekitaran enam persen pada 2045 sebagaimana harapan pemerintah. Di mana pada tahun tersebut Indonesia menuju 100 tahun merdeka yang merupakan 1 (satu) abad Indonesia merdeka. Mari sama-sama kita mencegah terjadinya potensi stunting dari lingkungan terkecil yaitu keluarga. Bersama kita bisa.***
 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook



TERBARU


EPAPER RIAU POS  25-juni.jpg