Home >> Opini >> Mujawaroh Annafi

Opini
Mujawaroh Annafi

Menanti Asa dari Pelosok Negeri

21 Agustus 2021 - 10.15 WIB

Menanti Asa dari Pelosok Negeri


Tidak dapat dipungkiri, di zaman serba digital ini dimana jaringan sudah tersedia 5G, masih ada tempat di Indonesia yang bahkan untuk menelepon pun masih harus mencari sudut-sudut ruangan agar ponsel menangkap jaringan, atau harus berkendara belasan kilometer, hingga mendaki bukit berjam-jam agar dapat bertukar kabar, berbalas pesan, dan berselancar di dunia maya.

Masih ada, di Desak Koto Lamo, Kampar Kiri Hulu, di kawaan hutan Rimbang Baling misalnya. Seorang ibu sengaja membuat dudukan khusus di dapurnya untuk mencari sinyal, atau duduk di bawah sebuah pohon dengan senyuman merekah saat mendengar suara anak-anaknya yang merantau di kota. Masih di desa yang sama, seorang remaja mendaki bukit untuk belajar secara daring, bermain game, dan media sosial.

Tak hanya itu, pemerataan jaringan internet memang belum seluruhnya tercapai. Di Kelurahan Madani, Kecamatan Reteh, Kabupaten Indragiri Hilir jaringan 4G sudah tersedia dan dapat dinikmati dengan lancar, namun sedikit masuk ke dalam, jaringan internet mulai hilang timbul, mendekati perbatasan Jambi, jaringan internet benar-benar hilang.

Di masa serba digital ini, keberadaan jaringan internet seperti menjadi suatu hal yang penting. Majunya generasi bangsa ditentukan dari generasi yang melek digital. Informasi bertebaran di mana-mana melalui internet. Pendidikan juga sangat bergantung dengan internet, pelayanan-pelayanan juga banyak menandalkan internet demi kemudahan berkomunikasi.


Banyak hal positif bisa didapatkan dengen melek digital, kemudahan, pengetahuan baru, informasi, hiburan, penunjang kegiatan sehari-hari, hingga menghasilkan pundi-pundi rupiah. Terlebih di masa pandemi ini, berbagai layanan dari pendidikan hingga kesehatan dan lainnya, dibuka secara digital untuk memudahkan pembelajaran dan memudahkan masyarakat agar tetap beraktivitas, tanpa perlu tatap muka guna mencegah penularan Covid-19.

Rata-rata, masyarakat mampu untuk membeli smartphone untuk menunjang keperluan-keperluan dan menjangkau layanan digital, atau hanya sebagai gaya hidup saja. Tapi, kealfaan jaringan internet menjadi kendala.

Anak-anak muda milenial sangat bersemangat dengan hadirnya teknologi-teknologi baru. Seiring berjalannya waktu, anak-anak milenial di pelosok desa yang tak terjangkau jaringan pun bisa merasa jenuh dan menyerah mengejar laju pertumbuhan digital yang sulit untuk dicapai.

Meskipun banyak daerah di pelosok negeri yang tidak dapat menikmati jaringan, perlahan-lahan namun pasti jaringan mulai merambah ke desa-desa terpencil. Dari yang dulunya dari yang dulunya 3G sudah bisa menikmati 4G, dari yang hanya 2G sudah ada yang menikmati 3G, bahkan dari yang sebelumnya tak terjangkau jaringan, kini sudah bisa menelepon meski harus mencari sudut-sudut tertentu, atau mengegas sepeda motor belasan kilometer.

Hal tersebut menjadi penanda, bahwa pelosok negeri tak dilupakan oleh negara kita. Indonesia sangat luas, dari Sabang sampai Merauke, menjangkau semuanya bukanlah hal yang mudah. Perlu waktu yang tidak sebentar agar pemerataan digital dapat terwujudkan dan dapat dinikmati oleh masyarakat di seluruh tanah air.

 

Pemerintah Genjot Pemerataan Digitalisasi

Selain itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) juga tidak tinggal diam dengan permasalahan di pelosok negeri ini, dengan menggenjot pembangunan insfrastruktur telekomunikasi informasi dan komunikasi (TIK), sinergias antar ekosistem  digital, serta kolaborasi anatara stakeholder guna mempercepat proses digitalisasi di Indonesia.

Menteri Kominfo Johnny G Plate pernah menyampaikan, pemerintah telah mengalokasikan anggaran untuk mendukung wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), yang akan dilakukan oleh Badan Layanan Umum (BLU) Bakti Kemkominfo, serta pemberian insentif regulasi bagi operator seluler dalam menggelar layanan di wilayah non-3T.

Pembangunan insfrastruktur TIK juga dipercepat 10 tahun lebih awal dari rencana sebelumnya pada tahun 2032 menjadi 2022. Jika rencana tersebut tercapai, masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok akan bisa menikmati jaringan internet.

Pada tahun 2020 tercatat ada 283 desa atau kelurahan di Riau yang belum memiliki akses internet atau belum 4G. Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Riau juga telah menyurati Kementerian Kominfo untuk pembangunan internet desa digital di Riau.

Pada tahun 2021, pembangunan insfrastruktur jaringan internet akan dilakukan untuk 120 desa yang tersebar di daerah Riau. Kabar ini menjadi angin segar bagi masyarakat Riau terutama di daerah yang belum terjamah internet.

 

Antusias Masyarakat Sambut  Digitalisasi

Internet terbukti memberikan banyak kemudahan di kehidupan sehari-hari. Masyarkat pun antusias menyambut digitalisasi. Selain bersabar dan menanti pembangunan insfrastruktur jaringan, masyarakat juga berupaya untuk tetap dapat menikmati jaringan internet dan menunjang aktivitasnya, salah satunya adalah dengan memasang wifi. Seperti banyak terjadi di berbagai tempat,  wilayah pemukiman area perkebunan dan pertambangan, atau yang terletak di pelosok yang jauh dari perkotaan biasanya belum tercakup sinyal internet.

Biasanya, masyarakat di pelosok bukannya tidak mampu untuk memiliki teknologi-teknologi masa kini, hanya karena keterbatasan insfrastruktur yang membuat masyarakat enggan memilikinya. Namun, beberapa masyarakat yang memiliki tekad dan dana yang cukup bisa memasang wifi dan menjadi pembuka dunia maya di suatu daerah. Bahkan, hal ini juga menjadi peluang usaha internet RT/RW serta internet voucher bagi masyarakat sekitar.

Tak hanya itu, aktivis-aktivis dari berbagai lembaga juga banyak bertebar kebaikan di pelosok negeri untuk membantu masyarakat dalam penyediaan wifi, terutama di bidang pendidikan.

Pandemi Covid-19 memang memaksa masyarakat untuk bergerak lebih cepat menyongsong digitalisasi. Dengan pemasangan wifi di daerah tak terjangkau jaringan internet, menjadi harapan baru sembari menunggu insfastruktur dari pemerintah.

Salah satunya, seperti yang dilakukan di Desa Air Buluh, Kecamatan Mudik, Kuantan Singingi Provinsi Riau. Aktivis dan lembaga sengaja memberikan bantuan pemancar jaringan wifi, agar pelajar dari desa tersebut tak lagi harus naik turun bukit dan belajar di dalam kebun sawit untuk emncari jaringan internet agar bisa belajar daring.

Sudah menjadi tugas pemerintah untuk mewujudkan pemerataan pembangunan di seluruh daerah di Indonesia. Sebagai masyarakat, juga sudah menjadi suatu keharusan untuk berinovasi dan mencari jalan keluar agar bisa berpartisipasi dalam digitalisasi demi majunya bangsa. (anf)






TERBARU





Shocktober - FOX Hotel Pekanbaru