Cari Opini


Home >> Opini >> Jesica Nauli Siringoringo (Alumnus Politeknik Statistika STIS-BPS)

Opini
Jesica Nauli Siringoringo (Alumnus Politeknik Statistika STIS-BPS)

Pendidikan Akar Kebahagiaan

2022-02-16 15:26:06 WIB

Pendidikan Akar Kebahagiaan

Kebahagiaan merupakan perasaan yang didambakan semua orang. Kebahagiaan bersifat internal dari dalam perasaan seseorang, tapi biasanya seseorang yang bahagia akan memancarkan kebahagiaan tersebut ke sekitarnya dan secara kolektif akan membuat masyarakat sejahtera. Melalui satu individu yang berbahagia, tumbuhlah masyarakat yang berbahagia.

Jika seseorang ditanyakan apakah ia sedang bahagia, maka jawaban yang dilontarkan cenderung subjektif. Setiap orang punya parameter masing-masing atas kebahagiaannya. Badan Pusat Statistik (BPS) membuat sebuah ukuran atas kebahagiaan tersebut melalui Indeks Kebahagiaan. Pembentukan indeks tersebut didasari atas berbagai pertanyaan mendasar di tengah-tengah masyarakat, seperti apakah daerah dengan kemiskinan tinggi, pengangguran tinggi, atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang rendah berarti masyarakatnya tidak bahagia?

Indeks kebahagiaan tersebut dibentuk atas tiga dimensi, yaitu dimensi kepuasan hidup, perasaan, dan makna hidup. Tiga dimensi ini diharapkan mampu untuk menangkap kesejahteraan masyarakat yang sesungguhnya dibandingkan menggunakan berbagai indikator ekonomi.

Pada tahun 2021, indeks kebahagiaan Riau menurun menjadi 71,80 dibandingkan periode penghitungan sebelumnya, yaitu tahun 2017 sebesar 71,89. Penurunan yang relatif kecil ini mungkin tidak dirasakan dalam keseharian masyarakat, namun setidaknya kebahagiaan masyarakat Riau masih terjaga meski pandemi Covid-19 melanda. Apabila dilihat secara spesifik menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan, diperoleh hasil bahwa masyarakat yang tidak pernah sekolah merupakan kelompok yang paling tidak bahagia. Di sisi lain, kelompok yang paling bahagia adalah masyarakat yang menamatkan kuliah hingga jenjang S2 dan S3. Keduanya memiliki selisih yang jauh sebesar 17,73. Top 3 indeks kebahagiaan ternyata memang diduduki oleh jenjang perguruan tinggi, yaitu Diploma (I, II, III, IV), dan Sarjana (I, II, III). Apakah gelar sarjana membuat seseorang semakin bahagia?

Anggapan bahwa pendidikan merupakan investasi terbesar untuk masa depan tampaknya terbukti melalui data. Tidak dapat dipungkiri bahwa kelompok dengan gelar sarjana memiliki sumber pendapatan yang lebih stabil. Hal ini akan mengalir ke sumber kebahagiaan lainnya, seperti lebih mudah memperoleh fasilitas kesehatan sehingga lebih sehat secara fisik, dapat mengakses aktivitas hiburan sehingga lebih sehat secara mental, hingga memperoleh kebebasan lainnya dari berbagai hal yang menyusahkan. Hal ini sesuai dengan dimensi pertama dari indeks kebahagiaan, yaitu kepuasan hidup.

Sebuah penelitian di wilayah Spanyol menunjukkan bahwa efek langsung dari pendidikan adalah peningkatan kepercayaan diri, rasa bangga, dan hati yang senang memperoleh ilmu baru. Hal ini sesuai dengan dimensi kedua dari indeks kebahagiaan, yaitu perasaan. Dengan pendidikan yang lebih tinggi, seseorang dapat pula melakukan berbagai hal yang memberikan tujuan yang konkrit dalam hidupnya. Dalam arti, kelompok ini memiliki kesempatan lebih untuk berpartisipasi dalam kebaikan masyarakat. Hal ini sesuai dengan dimensi ketiga dari indeks kebahagiaan, yaitu makna hidup.

Hasil penilaian pendidikan dari Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 oleh OECD menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara lainnya di mana Indonesia menduduki peringkat enam terbawah. Terdapat 69,90 persen siswa yang memiliki kemampuan membaca rendah, siswa dengan kemampuan matematika rendah sebesar 71,90 persen, dan siswa dengan kemampuan sains rendah sebesar 60 persen. Tampaknya untuk mencapai kebahagiaan melalui perolehan gelar sarjana secara merata merupakan mimpi yang masih jauh untuk dicapai oleh Indonesia.

Hasil laporan penilaian tersebut merupakan tamparan besar bagi pemerintah untuk lebih giat dalam memperhatikan kualitas pendidikan. Pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk peningkatan kualitas pendidikan, seperti evaluasi kurikulum secara berkala, dan berfokus pada pengukuran kemampuan nalar melalui Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Seperti diketahui bahwa kurikulum Indonesia saat ini adalah kurikulum 2013 dimana pada kurikulum ini guru memiliki peran aktif untuk membimbing siswa dalam kegiatan akademik, non akademik, maupun menggali bakat siswa. Pergantian Ujian Nasional (UN) menjadi AKM juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di mana AKM berfokus untuk mengukur kompetensi siswa dalam literasi, numerasi, dan nilai-nilai Pancasila. Dalam arti, kualitas pendidikan tidak hanya bergantung pada teori saja, namun yang lebih penting lagi adalah mengaplikasikan teori tersebut secara konkret, dan memiliki nalar yang kritis.

Dimulai dari orang terdekat di sekitar, kita dapat mengajak dan memberi informasi seputar pendidikan untuk memastikan bahwa seluruh anak memperoleh pendidikan berkualitas. Dalam mewujudkan hal tersebut, cara sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan transformasi besar di tengah khalayak saat ini, yaitu teknologi. Membaca, belajar matematika, dan belajar sains yang notabene menjadi dasar ukuran kelayakan pendidikan dapat diakses dengan mudah melalui dunia digital.

Sadar maupun tidak, menjadi individu bahagia tentunya menjadi tujuan setiap orang saat bangun di pagi hari. Khususnya pada hari kasih sayang ini, kita bisa memulai untuk menyadari bahwa pendidikan sejatinya merupakan akar dari kebahagiaan. Mari wujudkan kebahagiaan itu bersama. Yuk!***