Cari Opini


Home >> Opini >> Imam (Ghozali Dosen STAIN Bengkalis)

Opini
Imam (Ghozali Dosen STAIN Bengkalis)

Bulan Syakban; Bulan Kemanusiaan

2022-03-11 11:02:09 WIB

Bulan Syakban; Bulan Kemanusiaan

Berkaitan dengan bulan Syakban, Imam Abu Daif Al-Yamani dan Imam Syhabuddin Al-Qasthalani mengatakan bahwa: " Sesungguhnya bulan Syakban adalah bulan selawat, karena ayat tersebut turun di bulan Syakban." Ayat yang dimaksud oleh mereka yaitu Q.S. Al-Ahzab ayat 56 yang mempunyai arti sebagai berikut: "Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya berselawat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman shalawatlah kamu untuk  untuk nabi dan ucapkan salam penghormatan kepadanya."

Beberapa hadis lain menceritakan keutaman bulan Syakban yang dilukiskan bulan yang sangat mulia setelah bulan Ramadan. Hal ini karena bulan ini sebagai pintu masuk bulan bulan Ramadan, sehingga disunnahkan melakukan puasa, amal saleh dan memperbanyak membaca selawat kepada Nabi Muhammad saw pada bulan ini juga, nabi menjelaskan status bulan yang mustajab ketika umat Islam berdoa kepada Allah swt namun menurut nabi, umat Islam sering melupakan bulan tersebut. Mereka sibuk menghiasi kepentingan dunia dan melupakan keindahan bulan tersebut. Umat Islam tidak memperhatikan esensi bulan yang penuh dengan keagungan.

Bulan Syakban sebagai bulan Nabi Muhammad mengingatkan kepada umat Islam untuk memperbanyak membaca selawat dan salam sebagaimana yang telah dilakukan oleh Allah dan para malaikat-Nya. Firman ini merupakan wujud legalitas hukum bahwa baik Allah dan malaikat-Nya telah memberikan suatu status yang sangat agung kepada nabi dengan dua kalimat yaitu "selawat" dan "salam".  Dua kata mengandung makna "pujian", "doa" dan cermin dari visi-dan misi nabi dalam mengembang risalah dengan selalu menebarkan "rahmat" dan " kedamaian " kepada umat manusia sebagai misi perdamaian atau rahmat lil alamin.

Doa dan pujian Allah dan para malaikat sebagai wujud nyata bahwa Nabi Muhammad saw telah mewakafkan dirinya sebagai Abdullah (hamba Allah) secara totalitas. Kehidupan didedikasikan untuk mendidik masyarakat Jazirah Arab yang jahiliyah dan sangat bar-bar  merubahnya menjadi masyarakat yang bertamadun, yaitu suatu masyarakat yang hidup penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan yang agung. Maka dalam waktu yang sangat singkat, terjadi modernisasi kehidupan dalam tatanan nilai dan cara pandang masyarakat Arab yang progresif melebihi bangsa-bangsa lain se-zamanya.

Nilai-nilai kemanusiaan yang dibangun oleh Nabi Muhammad tentu saja nilai-nilai yang lahir dari kalimat tauhid. Kalimat yang secara tekstual merupakan bentuk pengakuan diri seorang hamba terhadap ketauhidan Allah, juga wujud dari cara pandang ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas. Sang nabi yang agung selain mengajarkan kalimat tauhid sebagai bentuk pengakuan dan keimanan seseorang, juga mengajarkan kepada setiap orang yang sudah bertauhid adalah sudah menjadi satu saudara dalam satu akidah dan satu agama.

Itu sebabnya, nilai-nilai kemanusiaan yang lahir dari tauhid seperti: menghargai sesama manusia, menjunjung tinggi HAM, keadilan harus dipertahankan dan tidak boleh dicabik-cabik oleh kepentingan politik apapun dan atas nama apapun. Tauhid telah mengikat diri bahwa sesama muslim adalah satu kesatuan dan harus saling menghormati dan menghargai dalam keberagaman pendapat dan pandangan politik. Dari sini sebenarnya, perbedaan sekeras apapun sebenarnya pada sisi teknis operasional kehidupan keduniaan, yang sebenarnya dari sisi keimanan dan agama adalah saudara. Itu sebabnya, sangat ironis ketika perbedaan dalam tataran kehidupan muamalah malah menjadi pemicu retaknya nilai tauhid dalam kehidupan.

Itu sebabnya, bulan Syakban mengajarkan kepada umat Islam untuk senantiasa introspeksi diri secara komprehensif tentang hubungannya dengan Allah dan sesama manusia. Jika baik hubungan dengan Allah, idealnya hubungan dengan sesama manusia pun baik.***