Cari Opini


Home >> Opini >> Machasin (Dosen Prodi Doktor Ilmu Lingkungan FEB Unri)

Opini
Machasin (Dosen Prodi Doktor Ilmu Lingkungan FEB Unri)

Pemimpin Model Ban Kempis

2022-03-14 09:54:36 WIB

Pemimpin Model Ban Kempis

Siapa bilang menjadi pemimpin itu gampang? Kalau sekadar menjadi pemimpin tentu banyak orang ingin menjadi pemimpin. Tapi, menjadi pemimpin yang benar-benar pemimpin tidaklah mudah menemukannya. Semakin tinggi level posisi seorang pemimpin semakin sulitlah mencarinya. Ada pameo yang menyatakan ganti pemimpin ganti strategi, dan setiap pergantian pemimpin akan diikuti juga dengan pergantian pemimpin level di bawah nya. Hipotesis tersebut tidak sepenuhnya benar? karena pergantian pemimpin sejatinya merupakan proses alami bukan karena adanya pergantian pemimpin pada level pimpinan teratas saja. Namun sayangnya sering terjadi aspek politis menjadi dasar pertimbangan melakukan kebijakan pergantian pemimpin pada level di bawahnya. Akibatnya proses regenerasi kepemimpinan yang sudah dirancang oleh pemimpin sebelumnya semakin kabur, abu–abu dan bahkan gelap gulita.

Pola regenarasi pergantian pemimpin yang tidak sesuai dengan persyaratan standar jabatan terlihat dari adanya beberapa katagori pejabat berikut: Ada pejabat yang super hebat karirnya melompat sangat cepat, ada pula pejabat yang berputar terus dari satu jabatan kejabatan lain. Ada pejabat sebagai juara bertahan tetap dalam posisinya sampai pension. Ada pejabat diperpanjang masa tugasnya walaupun tidak Nampak prestasinya, ada pejabat kehormatan karena sang pemimpin segan kepadanya dan membayar janji yang telah diikrarkan sebelumnya. Ada pula pejabat dropping dari daerah lain karena kedekatannya dengan penguasa.Tragisnya lagi ada pula pejabat yang di–nonjob- kan, dan diturunkan  pangkatnya tanpa melalui proses evaluasi yang cermat. Inilah potret model pengembangan regenerasi kepemimpinan dan manajemen karir yang sangat mencemaskan, di mana jalur karir, jenjang karir dan pengembangan karir tidak didasarkan pada persyaratan kompetensi dan profesionalisme jabatan, namun  lebih ditentukan oleh variabel mediasi yaitu intervensi dan kedekatan menemani pemimpin kemanapun pergi.

Menjadi pemimpin itu enak, dan saking enaknya duduk menjadi pemimpin, sampai-sampai mereka lupa berdiri, lupa bahwa dirinya harus diganti dan  lupa melakukan kaderisasi sebagai penggantinya. Pemimpin laksana air, yang  mempunyai makna bahwa air akan membersihkan dan menyegarkan semua makhluk dan semua benda ciptaan Tuhan. Tanpa membeda-bedakan, tanpa pandang bulu, dan tanpa pilih kasih. Dengan meneladani air, seorang pemimpin harus cair dan responsif, yang berarti harus luwes, lunak dan tidak memaksakan diri. Dalam arti ini, pemimpin harus dapat bekerja sama dengan siapa pun dan dalam keadaan apa pun, bicaranya jujur dan sederhana. Intinya pemimpin harus mampu menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas dan integritas. Zona integritas inilah yang menjadi pintu masuk bagi seseorang yang akan dipilih sebagai pemimpin. Di pundak sang pemimpinlah masyarakat menggantungkan semua harapannya, yakni keadilan dan kesejahtraan. Saat anda duduk sebagai pemimpin berikanlah yang terbaik sehingga jasa anda akan dikenang sepanjang masa baik oleh institusi maupun oleh karyawan yang dipimpinnya.

Pergantian pemimpin bisa disebabkan karena berbagai hal, seperti: yang bersangkutan tidak mampu mengimplementasikan dan menterjemahkan visi dan misi organisasi, terkena sanksi hukum karena melanggar moralitas dan integritas, atau karena faktor alami yakni pejabat lama memasuki masa pension dan harus diganti dengan pemimpin baru. Pertanyaannya, haruskah proses penggantian pemimpin melibatkan pihak ketiga? Apakah pihak ketiga mampu menjamin bahwa kandidat calon pemimpin yang akan direkrut mampu memenuhi kebutuhan organisasi. Apakah  organisasi dapat menggambarkan dengan tepat tantangan yang mungkin akan dihadapi individu kepada pihak ketiga yang akan melakukan assesment? Apakah pihak ketiga mampu mengimajinasikan kompleksitas peran dan tanggungjawab pekerjaan yang akan dilakukan  serta keunikan budaya organisasi untuk nantinya melihat pengalaman dan menggali potensi yang dimiliki calon pemimpin dalam mencari kesesuaian? Sementara itu sang pemimpin dituntut harus orang yang mumpuni, tahu liku-liku, suka duka dan cara cara berkinerja di lembaga yang akan dipimpinnya tersebut. Fakta teramati, seseorang yang direkrut melalui jasa pihak ketiga dan dinyatakan lulus, ternyata tidak mampu membawa perubahan dan peningkatan kinerja organisasinya bahkan semakin menurun dan banyak permasalahan internal yang tidak terselesaikan.

Kuncinya untuk  mengembangkan organisasi secara professional perlu untuk membedah kunci sukses sang pemimpin dan menemukan kompetensi inti apa saja yang dibutuhkan oleh calon pemimpin tersebut. Organisasi dituntut memiliki kesempurnaan dengan berbagai standar Namun seharusnya kita juga perlu melihat apakah orang yang direkrut sudah memenuhi kriteria kesempurnaan tadi. Merekrut orang yang salah sudah pasti membuat organisasi seperti ban kempes; sulit berjalan karena roda organisasi tidak mampu berputar dengan sempurna. Harapan kita semua janganlah memilih pemimpin seperti ban kempis. Semoga.***