Cari Opini


Home >> Opini >> Prof Dr Misri A Muchsin MAg (Penasihat Ansor di Aceh)

Opini
Prof Dr Misri A Muchsin MAg (Penasihat Ansor di Aceh)

Ramadan Bulan Tafakur

2022-04-11 11:53:33 WIB

Ramadan Bulan Tafakur

Bulan Ramadan merupakan salah satu bulan yang istimewa dan banyak kelebihan yang telah dijanjikan Allah SWT. Di samping itu hendaknya bulan Ramadan merupakan momentum yang sangat baik untuk mengola  batin untuk berdialog tentang kehidupan dan meretas diri terhadap apa yang telah dilakukan sepanjang hayat hingga saat ini kita berada atau bahasa singkatnya bertafakur diri terhadap apa yang telah kita lakukan selama ini.

Tentunya dengan tafakur kita akan melihat diri sendiri sejauhmana kehadiran kehambaan kita selama ini dengan Sang Khalik dalam ibadah vertikal dan hubungan sesama dalam ibadah horizontal. Jika seseorang merasa hidupnya tak ada harapan, sebaiknya dia bersegera untuk bertafakur menata kembali sang qalbu yang telah terkotori dengan dosa dan kemaksiatan.

Tafakur secara umum merupakan terminal pemberhentian sementara. Merenungi ciptaan Allah dalam bentuk manusia papa akan membangkitkan energi kesyukuran kita. Memikirkan bintang kemintang nan luas akan menghapuskan kebesaran rasa sombong kita. Membaca ayat-ayat Allah yang tersurat akan meluruskan niat-niat jahat yang terselip. Semua itu akan bermuara pada sebuah energi kebangkitan, energi untuk melanjutkan perjalanan pulang. Ia bisa berupa sabar yang mengakar, syukur yang berdebur, dan total dalam amal.

Hal ini menurut Imam Ghazali akan memudahkan hati untuk insaf, semakin teguh keyakinan bahwa akhirat lebih utama dan kekal, serta muncul harapan besar bahwa Allah pasti menolong.Alangkah meruginya kehidupan dijalankan tanpa ada nilai-nilai yang berguna untuk diri, keluarga dan masyarakat. Sebagi hamba  hendaknya kegiatan tafakur menjadi sumber energi yang terbarukan dari jiwa yang bersih

Momentum Ramadan, hendaknya kita maksimalkan diri bertafakur. Hal ini sebagai  jalan baik untuk menata hati, menata jalan kejujuran dan keikhlasan dalam berbuat. Rutinitas sering membunuh dan matinya akal. Sehingga pekerjaan tidak dilaksanakan secara maksimal, asal jadi, jauh dari inovasi. Rutinitas adalah beban bagi mereka yang lalai bersyukur, lalai bertafakur.

Kita mengetahui bahwa tafakkur merupakan proses sintesa ilmu yang meliputi dua tahapan. Tahapan pertama merupakan aplikasi akal muktasab yang aktivitasnya adalah proses-proses pembelajaran dalam sintesa ilmu-ilmu teoritis yang menitikberatkan kepada daya akal secara global dan tersusun dalam pola-pola tertentu. Sementara tahapan kedua adalah merupakan aplikasi akal fitrah yang mempunyai akses ke hati (al-qalbu) yang menerima cahaya Ilahi dalam bentuk makrifat yang selanjutnya mendapat reinterpretasi oleh akal untuk disusun menjadi sebuah bentuk definitif.

Seseorang hamba dalam kehidupan sehari-hari terkadang dihiasi dengan nilai taat juga maksiat yang dominan dalam penentuan karakteristik sifat-sifat yang berpengaruh dalam penerimaan intensitas cahaya Ilahi.  Dua kutub positif yang dipelopori malaikat yang mengajak kepada kebaikan dan maksiat yang dinakhodai syaitan dan jiwa nafsu setiap saat beradu. Jiwa yang disinari dominasi "malaikat" seseorang akan berada di jalur kebaikan dan perbaikan ke arah yang lebih baik serta ketaatan akan menyertainya. Juga sebaliknya.

Jika semua komponen telah berada di dalam posisi keseimbangan yang mana kaum sufi mengisyaratkannya dengan "jalan tengah" maka sebuah kemampuan suci akan diperoleh (ilmu ladunni) yang merupakan puncak afiliasi tafakkur. Dalam prosesnya tafakkur mendapat impuls-impuls yang bersumber dari interaksi pasif dan aktif daya-daya luar seperti: daya-daya malaikat, setan, nafsu, emosi, amarah yang akan berpotensi memberikan penyimpangan dalam proses tafakkur. Penyimpangan ini meliputi susunan formalitas struktural yang bisa bersifat positif dan negatif. Impuls-impuls ini terbagi dalam dua kategori.

Kategori pertama adalah wujud pencitraan interaksi akal dengan daya-daya luar yang akan menafsirkan definisi-definisi secara simbolik dan cenderung pragmatis sesuai dengan kapasitas dan intensitas daya-daya luar yang mempengaruhinya. Sedangkan kategori kedua adalah wujud pencitraan hati dengan daya- daya luar yang hanya menafsirkan definisi-definisi uluhiah yang cenderung dominan terhadap daya-daya luar. Imam Al-Ghazali menitikberatkan peran hati dalam proses tafakkur yang selanjutnya menghubungkannya dengan konsep-konsep penyucian hati.

Pada tahap awal tafakkur adalah media dalam proses" tazkiyatun nafs" sebelum pada akhirnya menjadi interpretasi makrifat dalam mihrab kaum arifin. Menurut beliau proses-proses tafakkur ideal adalah sebagai berikut: Pertama, tadzakkur yang merupakan upaya menghadirkan dua pengetahuan di dalam hati. Kedua, tafakkur merupakan proses mencari pengetahuan baru dari proses tadzakkur.

Ketiga, hasilnya pengetahuan yang dicari dan bersinarnya hati dengannya. Keempat, berubahnya keadaan hati dari apa yang telah ada disebabkan hasilnya cahaya makrifat. Kelima, Pelayanan anggota-anggota badan bagi hati menurut keadaan yang baru baginya. Dalam sufisme, tafakkur adalah termasuk tingkatan spritual yang tinggi dan dilihat dari tujuannya sudah sewajarnya kita memupuk niat agar senantiasa bertafakkur dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kita termasuk orang-orang yang bertafakkur.

Keberadaan bulan Ramadan adalah sarana terbaik bertafakur dan merenungi akan dosa- dosa. Adakah  kita bebas dari dosa? Tentu tidak, dosa tak ubahnya seperti tiupan angin di tanah berdebu. Walau wajah kita bersih berseri seri, tetap saja i butiran noda yang  melekat saat seseorang bepergian. Yakin saja ada bekas bekas noda yang menempel meski tak berasa.***