Cari Opini


Home >> Opini >> Ket Tjing (Penyuluh Agama Buddha Kota Pekanbaru)

Opini
Ket Tjing (Penyuluh Agama Buddha Kota Pekanbaru)

Makna Hari Waisak

2022-05-21 15:12:08 WIB

Makna Hari Waisak

Hari Waisak merupakan hari raya utama bagi umat Buddha. Kata "Waisak" berasal dari bahasa Pali "Vesakha" atau di dalam bahasa Sansekerta disebut "Vaisakha". Nama "Vesakha" diambil dari bulan dalam kalender buddhis yang biasanya jatuh pada bulan Mei dalam kalender Masehi. Namun, hari Waisak terkadang jatuh pada akhir bulan April atau awal bulan Juni.

Tahun ini hari Waisak 2566 Tahun Buddhis ditetapkan oleh pemerintah jatuh pada Senin, 16 Mei 2022.

Hari Raya Waisak di kalangan umat Buddha sering disebut dengan Hari Raya Trisuci Waisak. Disebut demikian karena hari Waisak memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Sang Buddha Sakyamuni, yakni kelahiran Pangeran Sidharta Gautama, tercapainya penerangan sempurna oleh Pertapa Gautama, dan  wafatnya (parinirwana) Sang Buddha Gautama, atau Buddha Sakyamuni.

Tiga peristiwa tersebut yaitu saat kelahiran (623 SM), mencapai penerangan sempurna (588 SM), dan wafatnya Sang Buddha (543 SM) terjadi pada hari yang sama ketika bulan purnama di bulan Waisak pada tahun tahun yang berbeda. Pada hari Waisak, biasanya umat Buddha merayakannya dengan pergi ke tempat ibadah Buddhis seperti wihara, dan melakukan ritual puja-bhakti.

Umumnya umat Buddha melaksanakan puja-bhakti dengan tujuan untuk mengingat kembali Dharma ajaran Buddha, meneladani perilaku Buddha-Bodhisattva,  dan melaksanakan ajaran agama Buddha.

Bagi umat Buddha, hal tersebut berarti menaati peraturan moral ajaran Buddha, seperti menghindari pembunuhan makhluk hidup, mencuri, berbuat asusila, berbohong, dan mabuk-mabukan.

Selain kelima latihan moral tersebut yang dikenal dengan sebutan Pancasila Buddhis, umat Buddha ketika hari Waisak biasanya berusaha mengembangkan cinta kasih dengan cara menggelar bakti sosial seperti memberikan bantuan bahan sembako kepada mereka yang membutuhkannya, mendonorkan darah, bervegetarian, dan membebaskan hewan hidup ke alam terbuka sebagai simbol cinta kasih dan penghargaan terhadap lingkungan, serta merenungkan atau berintrospeksi diri terhadap perbuatan yang telah dilakukannya, sehingga diharapkan di masa mendatang tidak akan mengulangi perbuatan yang tidak baik.

Bersempena dengan peringatan dan  perayaan Hari Trisuci Waisak, semoga umat Buddha dapat meningkatkan keyakinannya dan senantiasa berusaha hidup sesuai Dharma sebagaimana sabda Sang Buddha yang tertulis dalam kitab suci Dhammapada ayat 183, "jangan berbuat kejahatan, perbanyaklah kebajikan, mensucikan batin, inilah inti ajaran para Buddha".

Semoga gema Waisak dapat menyadarkan bahwa pada hakikatnya semua umat manusia dan semua makhluk mendambakan kehidupan yang tenang, damai, dan bahagia, untuk itu perlu saling menghormati hak hidup setiap makhluk apapun latar belakangnya. Seharusnya setiap orang tidak boleh menindas, membully, dan merendahkan harkat dan martabat orang lain, serta melakukan perbuatan tercela lainnya. Kita hendaknya tidak boleh berbahagia diatas penderitaan orang atau makhluk lainnya.

Selamat Hari Trisuci Waisak 2566 Tahun Buddhis, semoga semua makhluk hidup berbahagia.***