Cari Opini


Home >> Opini >> Endang Istikomah

Opini
Endang Istikomah

Membangun Landasan Manajemen Pendidikan (Di Era RI 4.0 dan Society 5.0)

2022-06-01 14:12:36 WIB

Membangun Landasan Manajemen Pendidikan (Di Era RI 4.0 dan Society  5.0)

Istilah Revolusi Industri (RI) 4.0 dan Society 5.0 sangat sering didengar di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia, yang kehadirannya telah mempengaruhi cara hidup masyarakat dalam berbagai bidang, tak terkecuali bidang pendidikan. Namun faktanya, masih banyak orang yang belum faham apa sebenarnya RI 4.0 dan society 5.0, apa dampak bagi keberlangsungan hidup manusia, dan upaya apa saja yang diperlukan untuk menghadapi tantangan dan permasalahan di era RI 4.0 dan society 5.0. RI 4.0 mengkhawatirkan banyak pihak, karena hampir semua sistem kehidupan dalam berbagai bidang dapat dijalankan secara otomatis, sehingga peran manusia akan semakin banyak yang digantikan oleh mesin. Untuk meminimalisir kekhawatiran dan sebagai solusi dari perkembangan RI 4.0, Federasi Bisnis Jepang menciptakan Society 5.0 dengan tujuan untuk mengintegrasikan ruang maya dengan ruang fisik. Pada era RI 4.0 siapa pun bisa mengakses dan berbagi informasi melalui internet serta fokus pada aspek melakukan pekerjaan secara otomatis.

Untuk menghadapi era RI 4.0 dan society 5.0, bidang pendidikan perlu membangun landasan manajemen pendidikan yang kokoh. Menyediakan SDM unggul baik pendidik maupun peserta didik. Pendidik sebagai SDM yang secara efektif melakukan penataan untuk mencapai sasaran (manajemen pendidikan) harus memiliki kemampuan pedagogik yang mumpuni.

Pedagogi adalah metode pengajaran, baik sebagai subjek akademis atau konsep teoritis, hubungannya dengan mengajar adalah mengajar sebagai tindakan mendorong kegiatan belajar melalui penemuan dan pengetahuan yang diperoleh. Pedagogi penting karena memberikan pendidik wawasan tentang praktik terbaik untuk pengaturan/ manajemen kelas. Hal ini memungkinkan mereka untuk memahami bagaimana peserta didik yang berbeda belajar, sehingga mereka dapat menyesuaikan pelajaran mereka, sesuai dengan kebutuhan. Akibatnya, ini akan meningkatkan kualitas pengajaran mereka karena akan diterima dengan baik oleh peserta didik.

Menejemen Pendidikan Berorientasi pada Tujuan
Manajemen sering diartikan sebagai ilmu, kiat dan profesi. Manajemen tentunya tidak bisa lepas dari langkah-langkah yang harus ditempuh dalam rangka efektifnya suatu proses dalam upaya mencapai  tujuan. Langkah langkah  dimaksud sekaligus merupakan fungsi dari sistem manajemen yang  efektif. Langkah-langkah manajemen tersebut diawali dari sistem perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penggerakan (actuating), pengendalian/ pengarahan (direction),pengkordinasian (coordinating), pengawasan (monitoring) dan penilaian (evaluating).

Prinsip manajemen pendidikan yang berorientasi pada tujuan, berarti menetapkan tujuan-tujuan yang harus dicapai peserta didik dalam proses pembelajaran dan menyusun langkah-langkah untuk mencapai tujuan tersebut. Orientasi pendidikan berbasis tujuan atau sasaran dikenal dengan istilah Goal-Based Scenarios (GBS). GBS dikenalkan oleh Roger Schank. GBS merupakan: Pertama,  model pembelajaran konstruktif yang menggabungkan pembelajaran berbasis kasus (case-based learning) dengan praktek secara langsung (learning by doing). Kedua, pembelajaran dilakukan melalui serangkaian langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

Semua aspek di dalam kehidupan individu selalu terkait dengan pencapaian suatu hasil atau tujuan. Jika sasaran atau tujuan tersebut merupakan dasar pada proses pemikiran manusia, maka model pembelajaran haruslah didominasi dengan konsep tujuan tersebut. Tidak mengherankan apabila pembelajaran di sekolah mengalami kegagagalan jika konsep tujuannya tidak jelas. Untuk menciptakan suatu tujuan tertentu memerlukan kreativitas dan dan disesuaikan dengan kebutuhan untuk menghadapi RI 4.0 dan Society 5.0.

Menejemen Pendidikan Berbasis pada Proses
Konsep manajemen pendidikan berbasis proses ini lebih menekankan pada proses dari pada isi pelajaran. Konsep ini berlandaskan pada aliran Humanistik yang memandang siswa sebagai individu yang dapat dan mau menjelajah, mencari dan meneliti sendiri. Adapun tujuan dari konsep ini memberikan pengelaman belajar melalui proses 5M pada pendekatan saintifik yaitu: mengamati, menanya, mencoba, mengelolah dan mengkomunikasikan.

Berdasarkan pendekatannya, manajemen pendidikan berbasis proses ini menekankan administrasi.  Dapat disimpulkan bahwa jika lembaga pendidikan memiliki tatakelola atau manajemen yang baik, maka lembaga tersebut senantiasa siap menghadapi era RI 4.0, society 5.0 dan dalam situasi apa pun. Dengan demikian, maka pembelajaran yang diselenggarakan di lembaga pendidikan akan berjalan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.***


Endang Istikomah, Mahasiswa S3 Pascasarjana UPI Bandung