Cari Opini


Home >> Opini >> Imam (Ghozali Dosen STAIN Bengkalis)

Opini
Imam (Ghozali Dosen STAIN Bengkalis)

Tabrani Rab dan Politik Lokal

Jumat, 26 Agustus 2022 WIB

Tabrani Rab dan Politik Lokal

Salah satu Tokoh Riau yang selalu menjadi perhatian saya adalah Prof.Tabrani Rab. Kesukaan saya terhadap tulisannya sama kesukaan saya terhadap tulisan-tulisan nasional seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Emha Ainun Najdib ( Cak Nun ) dan Gunawan Muhammad (GM). Tentu saja ada perbedaan dan persamaan tulisan Tabrani Rab dengan penulis nasional ini. Jika Tabrani Rab membaca politik lokal ke nasional, maka ketiga penulis tersebut melihat dari nasional ke lokal.

Maklum mereka mempunyai tempat dan pergaulan yang berbeda. Orang-orang seperti Gus Dur, Cak Nun dan GM adalah tokoh yang hidup di pusat kota dan bergaul dengan tokoh-tokoh nasional. Perjalanan hidupnya keliling Indonesia telah menginspirasi tulisan-tulisannya agar menjadi catatan dan penggugah kesadaran para pengambil kebijakan di istana negara. Dari sudut subtansi ini, semua sama-sama menyuarakan nilai-nilai keadilan, persamaan hak dan kewajiban dan membrantas diskriminasi.

Tabrani Rab melihat dari sudut lokal, yaitu Provinsi Riau. Dia melihat bahwa pemerintah telah melakukan suatu ketidakadilan terhadap pembagian ‘kue’ pembangunan. Padahal sumbangsih Riau terhadap Indonesia sangat luarbiasa. Dari kontek sejarah, Riau melalui Kesultanan Kerajaan Siak telah menyumbangkan sebagian kekayaannya untuk kepentingan perjuangan kemerdekaan RI.

Dari segi Sumber Daya Alam, Riau telah menyumbangkan minyak bumi sebagai penghasil terbesar nomor dua di Indonesia. Dari segi bahasa, Riau telah menyumbangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Sederetan sumbangsih yang begitu besar tidak sebanding dengan balasan dari pemerintah pusat dalam memberi bantuan pembangunan ke Provinsi Riau.


Tabrani Rab sebagaimana Gus Dur sama-sama melawan ketidakadilan. Saya memang tidak pernah mendengar tentang ancaman fisik pemerintah terhadap keberanian Tabrani Rab dalam wujud percobaan pembunuhan. Ini berbeda dengan Gus Dur yang secara fisik pernah dua kali percobaan pembunuhan oleh orde baru.

Tabrani Rab dengan suara lantang mereformasi alam pikiran generasi muda Riau untuk menyuarakan arti sebuah keadilan dan kemakmuran dalam koredor yang tepat. Dia berani karena benar, dan tidak ada beban dalam menyuarakan kebenaran melalui tulisan. Namun mungkin karena jauh dari pusat Ibu Kota, "dentuman" tulisannya yang menggema keras di Riau tidak sampai di Jakarta, dan hanya terdengar sayup-sayup lalu hilang kembali.

Hebatnya dia tidak lelah menyuarakan sesuatu yang dianggap benar dengan cara cukup keras, bahkan dianggap tabu sekalipun dalam dunia politik dengan ide "Riau Merdeka". Tentu saja, gertakan ini bukan karena keinginan melepaskan diri dari NKRI. Bagaimanapun Riau telah memberikan sumbangsih yang sangat besar.

Ini sebuah pesan bahwa keadilan harus ditegakan dalam memberi kue pembangunan kepada Provinsi Riau. Saya tidak tahu, dengan adanya pengambilan alih migas ke Pertamina Hulu Rokan (PHR) itu merupakan hasil buah pikir dari Tabrani Rab. Yang jelas, pemikirannya akan senantiasa hidup di ruang-ruang diskusi generasi muda Riau. Ini sebuah sumbangsih yang cukup besar bagi sebuah peradaban. Semoga amal baiknya diterima disisi Allah swt. Amin.***