Cari Opini


Home >> Opini >> Monalisa Hasibuan DKK (Bappedalitbang Riau)

Opini
Monalisa Hasibuan DKK (Bappedalitbang Riau)

Menakar Pencemaran di Sungai Kampar

Rabu, 21 September 2022 WIB

Menakar Pencemaran di Sungai Kampar

Kabupaten Kampar mempunyai banyak potensi yang masih bisa dimanfaatkan, terutama di bidang perkebunan dan perikanan darat. Masyarakat memanfaatkan potensi sungai  untuk kegiatan budi daya ikan, khususnya Sungai Kampar Kiri. Jenis ikan yang dibudidaya antara lain ikan patin, baung, tapah dan nila. Budidaya ikan menggunakan keramba di sepanjang sungai tersebut, selain memberikan dampak positif menimbulkan dampak negatif, berupa penurunan kualitas air sungai akibat pemberian pakan yang tidak mengikuti kaidah budidaya ikan yang baik, seperti proses pembesaran ikan yang dilakukan dengan cara memberikan limbah ayam mati (usus/ jeroan ayam) dalam jumlah banyak.

Limbah organik ini dapat meningkatkan jumlah Biochemical Oxygen Demand (BOD) di dalam air sungai, karena penumpukan limbah organik dalam jangka waktu yang lama. Peningkatan beban pencemaran parameter BOD juga disebabkan oleh limbah rumah tangga, aktivitas pertanian dan perkebunan. Kontribusi pencemaran lainnya terhadap kualitas air sungai ditimbulkan oleh kegiatan pertambangan emas tanpa izin (PETI) serta pertambangan bahan galian C milik masyarakat di beberapa ruas sungai yang meningkatkan konsentrasi beban pencemar  Total Suspended Soil (TSS) serta berakibat keruhnya air sungai dan turunnya kandungan oksigen dalam air, yang pada akhirnya mengakibatkan turunnya kualitas serta estetika air sungai.

Menakar pencemaran Sungai Kampar Kiri dilakukan dengan menggunakan parameter jumlah oksigen terlarut yang diperlukan mikroorganisme untuk menguraikan bahan organik yang tersuspensi di perairan, atau Biochemical Oxygen Demand (BOD), keperluan oksigen secara kimia untuk menguraikan bahan organik dalam perairan, atau Chemical Oxygen Demand (COD), bakteri coli dari kotoran (feses manusia dan hewan) Fecal Coliform dan deterjen total (MBAS) yang ada di perairan. Pemilihan parameter ini berdasarkan kesesuaian dengan beberapa aktivitas di sekitar DAS Kampar, yakni industri dengan bahan utama nabati, pemukiman penduduk, pertanian, perikanan dan lain-lain.

Kapasitas Asimilasi (KA) merupakan batasan beban pencemar yang masuk ke sungai dapat dibersihkan secara alami melalui peristiwa fisik, kimia dan biologi. Perhitungan nilai Kapasitas Asimilasi Lokasi PKA  Desa Teratak Buluh  yang berada ± 43,59 kilometer dari lokasi PKA Desa Rantau Berangin (TPP-12) Sungai Kampar, menggunakan metode regresi linear yang mengkorelasikan antara konsentrasi parameter  BOD, COD, Fecal Coliform dan MBAS data terukur  pada lokasi PKA Desa Teratak Buluh (TPP-13) dengan beban pencemaran pada PKA Desa Rantau Berangin (TPP-12) sebagai data series.


BOD ialah pengukuran pengurangan kadar oksigen di dalam air yang dikonsumsi oleh makhluk hidup (organisme) di dalam air selama periode lima hari pada keadaan gelap, tidak terjadi proses fotosintesis. Pengurangan kadar oksigen ini disebabkan oleh kegiatan organisme (bakteri) mengonsumsi atau mendegradasi senyawa organik dan nutrient lain yang terdapat di dalam air yang memerlukan oksigen. Penghilangan oksigen pada bagian dasar perairan lebih banyak disebabkan proses dekomposisi bahan organik yang memerlukan oksigen terlarut (aerob).

Parameter BOD menggambarkan keperluan oksigen yang diperlukan mikroorganisme dalam air untuk menguraikan senyawa organik yang ada pada air menjadi karbondioksida dan air. Semakin tinggi BOD semakin banyak oksigen yang diperlukan untuk proses biologi.

Peningkatan beban pencemar BOD sebagian besar berasal dari limbah domestik, di mana pola kebiasaan penduduk yang bermukim di sekitar sungai. Menjadikan sungai sebagai sarana untuk mandi, mencuci dan buang hajat (MCK), tempat membuang sampah padat atau limbah cair dari rumah tangga, rumah makan, ditambah dengan sisa bahan makanan ikan dan ternak dari kegiatan keramba ikan dan peternakan masyarakat yang berupa bahan organik, dan bila terurai dalam air akan menyebabkan peningkatan bahan pencemar BOD. Besarnya beban pencemar BOD ini juga dapat dihasilkan dari penggunaan pupuk pada perkebunan sawit dan perkebunan karet masyarakat serta dari limbah cair pabrik kelapa sawit yang juga banyak terdapat di sekitar Kecamatan Kampar Kiri.

Kandungan COD yang tinggi menggambarkan banyaknya kandungan bahan organik yang dapat diurai melalui proses kimia dan memerlukan konsentrasi oksigen yang tinggi, dimana COD menunjukkan banyaknya oksigen total yang diperlukan untuk mengoksidasi senyawa organik secara kimiawi. Banyaknya oksigen yang digunakan setara dengan zat organik yang dapat dioksidasi oleh bakteri aerobik.

Sungai merupakan sistem yang sangat dinamis, dimana kualitas air dapat berubah-ubah dari hulu hingga hilir bergantung pada aktivitas di sekitar badan perairan. Coliform total kemungkinan bersumber dari lingkungan dan tidak berasal dari pencemaran tinja. Sementara itu, fecal coliform terindikasi kuat diakibatkan oleh pencemaran tinja, keduanya memiliki risiko menjadi patogen di dalam air terutama untuk bakteri fecal coliform. Masuknya bahan pencemar ini akan berdampak pada kualitas air sungai. Kualitas air sungai dikatakan menurun jika kualitasnya tidak memenuhi kriteria baku mutu, sehingga dalam pemanfatannya harus melewati proses pengolahan atau jika dimanfaatkan secara langsung dapat berdampak pada kesehatan. Potensi pemukiman sebagai sumber pencemaran limbah organik cukup tinggi, salah satu parameter yang biasa digunakan untuk mengidentifikasi adanya kontaminasi limbah domestik pada suatu kawasan adalah karakteristik biologi berupa keberadaan bakteri Coliform.

Materi deterjen yang keluar dari saluran pembuangan air menuju perairan tidak melalui proses penguraian,  sehingga ABS (Alkyl Benzene Sulfonat) yang merupakan salah satu kandungan dari deterjen masih dalam bentuk konsentrasi kompleks yang kemudian terikat dengan bahan organik yang terdapat di akar mangrove, sehingga menjadi molekul kompleks yang lebih berat dan mengendap di dasar perairan.

Deterjen yang terlarut dalam air dapat menimbulkan busa yang menghalangi penetrasi cahaya sehingga menghambat fotosistensis dan membunuh mikroalga, serta menghalangi difusi oksigen dari udara sehingga suplai oksigen ke badan air berkurang. Senyawa fosfat dalam deterjen juga dapat menyebabkan eutrofikasi yang mengakibatkan ledakan populasi (blooming) tanaman air dan fitoplankton.***