Cari Opini


Home >> Opini >> Oleh Rosdiah Herlina SPd (Guru MAN 1 Kabupaten Siak).

Opini
Oleh Rosdiah Herlina SPd (Guru MAN 1 Kabupaten Siak).

Dimensi Teknologi Informasi Pengaruhnya terhadap Soft Skill Siswa

Rabu, 12 Oktober 2022 WIB

Dimensi Teknologi Informasi Pengaruhnya terhadap Soft Skill Siswa

PERKEMBANGAN dunia pendidikan Indonesia dewasa ini sudah menunjukan peningkatan yang sangat signifikan. Kepedulian pemerintah terhadap kualitas dan mutu pendidikan anak bangsa terlihat dari penggunaan dana pendidikan sebesar 20 persen dari total anggaran nasioanal. Akhir-akhir ini pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek)  telah menyosialisasikan penerapan kurikulum baru bernama Kurikulum Merdeka dengan implementasi Kurikulum Merdeka Belajar yang menekankan tentang literasi dan numerasi secara umum.

Hal ini  diharapkan terjadi transformasi serta penyempurnaan kurikulum sebelumnya. Ketika dunia dan Bangsa Indonesia dilanda musibah pandemi corona (Covid-19)  awal tahun 2020, dampak negatif terbesar adalah pada dunia pendidikan. Kemdikbudristek telah mencari formula baru agar pendidikan tidak terhenti dan terus berjalan  dengan cara menggunakan materi teknologi informasi. Oleh karena itu, kita mengenal Zoom Meeting, Google Classroom dan lain sebagainya. Aplikasi-aplikasi tersebut dipaksa untuk melayani kebutuhan pembelajaran jarak jauh melalui on line (dalam jaringan/daring). Sejak itulah seluruh siswa atau pelajar kita akrab dengan alat teknologi informasi berupa gawai atau gadget. Penggunaannya juga mulai dari siswa sekolah dasar sampai ke jenjang perguruan tinggi.

Apakah pengguanaan gadget tersebut efektif? Bagaimana pengaruhnya terhadap karakter kepribadian siswa? Tentu hal ini memerlukan kajian yang komprehensif. Pendidikan formal di Indonesia lebih mengarah pada konsep pendidikan dengan basis hard skill (keterampilan teknis) lebih mengedepankan personal untuk mengembangkan intelligence quotiont (IQ) dibandingkan kemampuan soft skill. Soft skill adalah keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain termasuk dengan dirinya sendiri. Soft skill bawaan individu yaitu kemampuan yang dimiliki individu secara alami mencakup kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, dan komunikasi atau berinteraksi dengan orang lain. Hasil penelitian National Association of College and Employers (NACE) yang menyebutkan keahlian kerja berupa 82% soft skill dan selebihnya 18% hard skills (Yanti Dewi Wijaya, 2019).

Di era tekhnologi digital terjadi perubahan iklim belajar di sekolah. Siswa tidak hanya berpusat pada guru untuk mendapatkan pengetahuan, tetapi dunia internet telah memberikan lebih dari yang di inginkan. Tergantung kepribadian seseorang dalam memfilter setiap informasi yang didapat. Besarnya pengaruh gadget menjadikan peran guru berkurang jika siswa cakap tekhnologi. Berbanding terbalik dengan sekolah yang jauh dari jangkauan internet, jangankan untuk belajar, gawai saja sulit didapatkan.


 

Kearifan Menggunakan Gawai

Kita semua menyadari bahwa penggunaan gawai masa kini sangat berpengaruh terhadap kelancaran serta kemudahan berkomunikasi antarsesama. Kita juga melihat pengguna gawai mulai dari anak usia taman kanak-kanak sampai orang dewasa. Untuk anak-anak perlu ada pengawasan atau kontrol yang ketat yang dilakukan oleh orang tua. Pengawasan ini dilakukan terhadap pengguna anak usia sekolah. Bagi anak-anak penggunaan gawai yang berlebihan akan berdampak sebagai berikut: anak akan lebih terlihat introver terhadap teman-teman seusianya,  jarang berkomunikasi verbal dengan tenannya, sekaligus lebih cuek dan mementingkan pribadinya daripada lingkungan sosial. Dampak selanjutnya adalah stimulus respon sosial rendah.

Cina merupakan negara maju dan terkenal dengan sistem pendidikannya yang ketat dan tingkat persaingannya yang tinggi. Namun, negara yang juga menjadi salah satu produsen gawai ini melarang siswa ke sekolah menggunakan gawai. Kementerian Pendidikan Cina secara langsung mengeluarkan kebijakan tersebut. Terdapat sejumlah alasan mengapa gawai atau tablet dilarang ketika memulai kegiatan belajar di sekolah. Negeri Tirai Bambu itu khawatir dengan nasib kaum muda Cina yang kecanduan menggunakan internet.

Menurut data dari Pusat Informasi Jaringan Internet Cina, sebagian besar anak-anak dan remaja di Cina mengakses internet melalui gawai pribadi, dengan 74% di antaranya berusia 18 tahun. Selain itu, sejumlah penelitian Cina menyebutkan larangan membawa HP akan meningkatkan konsentrasi murid dan mencegah kecanduan internet. Siswa di Cina dilarang membawa gawai ke sekolah tanpa izin tertulis dari orang tua. Bahkan apabila sudah kelewatan, gawai akan dihancurkan di depan murid yang melanggar aturan.

Bagaimana di Indonesia? Baru-baru ini sebuah studi penelitian yang dilakukan di negara Finlandia 80% siswa yang menggunakan gawai akan menimbulkan gejala kurang peduli sikapnya dengan lingkungan sosial. Penelitian ini selaras dengan keadaan di Indonesia. Melihat fenomena tersebut, siswa yang menggunakan gawai terlalu berlebihan akan berkurang soft skill-nya terhadap teman, guru, dan orang tua. Kearifan penggunaan gawai sebagai pembelajaran yang dapat menunjang pengetahuan seperti di Sekolah Pelita di Jawa Tengah. Alat media pembelajaran sudah terkunci dari hal-hal negatif yang datangnya dari luar sehingga alat tersebut hanya dapat digunakan semestinya saja.

 

Pembatasan Penggunaan Gadget di Sekolah

Pembatasan penggunaan gawai bukan untuk menghambat kemajuan pengetahuan siswa mengenai teknologi informasi, tetapi ada dan tersedia waktu secara khusus bagi siswa untuk tetap mengedepankan kemandirian sosial. Misalnya, gotong-royong di sekolah, kegiatan kelompok atau dinamika kelompok, debat terbuka maupun implementasi profil pelajar Pancasila yang nilai dan falsafahnya adalah untuk melestarikan nilai-nilai luhur dan budi pekerti siswa, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Hal itu sebagai upaya mengembalikan kepribadian serta jati diri seorang pelajar yang tetap semangat mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan sesuai bidang dan kompetensi yang dimilikinya. Harapan akhirnya, siswa-siswa  mampu berkompetisi secara knowledge maupun kepribadian baik antarsesama. Hard skill dan soft skill dapat berimbang sehingga membentuk pelajar yang ikhsan dunia akhirat.

Pemahaman penggunaan gawai melalui pengawasan yang baik juga akan membantu siswa menjelajahi dunia informasi tanpa ragu. Soft skill yang dimilki  pelajar juga merangsang semangat untuk belajar menatap masa depan yang gemilang sesuai dengan cita-cita kemerdekaan bangs aini,  serta menjadikan insan manusia yang dapat dihargai oleh manusia lainya.

Semoga aset-aset serta bibit penerus pembangunan bangsa ini mampu menunjukkan jati diri bangsa yang bermartanbat tanpa dirusak oleh budaya-budaya asing yang masuk. Tidak hanya melalui kapal atau alat transportasi lainnya, tetapi melaui gawai yang dipegang olehnya. Harapannya,  pendidikan di Indonesia mampu bersaing di tingkat regional maupun internasioanal.***