Cari Opini


Home >> Opini >> Imam (Ghozali Dosen STAIN Bengkalis)

Opini
Imam (Ghozali Dosen STAIN Bengkalis)

Santri untuk NKRI

Kamis, 20 Oktober 2022 WIB

Santri untuk NKRI

SEJARAH panjang perlawanan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan sama usianya dengan penjajahan di bumi nusantara. Santri sebagai manivestasi makna geneologi mata rantai ilmu agama yang berpusat di pesantren-pesantren, telah menempatkan diri sebagai “oposisi” terhadap penjajah dan melawan musuh dalam selimut, yaitu gerakan G 30 S PKI pada 1948 dan 1965.

Pemaknaan musuh dalam selimut kaum santri kemudian hari bukan sebatas ideologi ekstrem kiri yang berhaluan komunisme dan marxisme, juga ideologi ekstrem kanan yang bercita-cita mendirikan Khilafah Islamiyah. Era Reformasi telah membuka lebar-lebar masuknya kedua ideologi tersebut. Kedua Ideologi tersebut menyebarkan paham dengan pendekatan kesamaan isu berupa; memberantas ketidakadilan, penegakan hukum, demokrasi pada segala aspek kehidupan. Pertarungan pemikiran dalam narasi-narasi keumatan, kebangsaan dan kenegaraan semakin mempersempit perbedaan dan mempersulit identitasnya. Pada posisi seperti ini, perjuangan santri sangat dilematis, namun di sisi lain perjuangan itu harus ditegakkan sebagai amanat yang telah diberikan oleh para ulama pendahulunya yaitu menjaga dan mengisi kemerdekaan dalam membangun kebersamaan antarsuku, etnis, budaya, dan agama yang sering diistilahkan dengan duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Sebagai penjaga warisan ulama, santri harus menempatkan diri pelayan umat dan penjaga eksistensi negara. Jika dulu bahasa santri secara spesifik lebih dikenal dengan santri yang berada pada naungan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dengan dibuktikan tersebarnya lebih dari 30.000 pesantren. Ideologi nya merujuk pada KH Hasyim Asy’ari, Hubul Wathan Minal Iman mencintai tanah air sebagaian dari iman. Ajaran ini yang telah menginspirasi para santri seperti Bung Tomo dan para santri berjihad Arek-Arek Suroboyo yang diabadikan sebagai hari santri pada 22 Oktober 1945 dan Hari Pahlawan pada 10 November 1945. Keterkaitan dua tanggal tersebut, bahwa pada 22 Oktober telah merumuskan Resolusi Jihad di kalangan pesantren ( Jawa dan luar Jawa ), dan 10 November 1945 implementasinya dengan melakukan perlawanan fisik terhadap penjajah di Surabaya.

Perkembangan pesantren saat ini cukup pesat. Namun keberagaman ideologi di dalamnya tumbuh secara masif dan sering bertolak belakang, terutama dalam pandangannya terhadap konsep kebangsaan dan kenegaraan. Sebagian konsisten terhadap NKRI, di sisi lain ingin merobek dan menggantinya dengan sistem Khilafah. Ini seperti “bom waktu”, bahwa pertarungan ideologi bukan sebatas narasi semata, tapi kekhawatiran penulis membuka kisah tragis masa lalu; pertumpahan darah yang terjadi pada masa masa-masa permulaan Islam antara Ali bin Abi Thalib, Aisyah dan Muawiyah dan peperangan periode setelahnya. Itu sebabnya membangun persamaan ideologi di kalangan pesantren sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pendiri bangsa seperti KH Hasyim Asya’ri dan KH Ahmad Dahlan yang berkomitmen pada ideologi Pancasila, harus diperkuat sebagai jalan untuk meneruskan peran santri dalam mengisi kemerdekaan semakin bermakna dan berkualitas.***