Cari Opini


Home >> Opini >> Yuli Usman (Sekretaris BKPSDM Kota Pekanbaru)

Opini
Yuli Usman (Sekretaris BKPSDM Kota Pekanbaru)

Mencari Sosok Pemimpin Bangsa

Senin, 24 Oktober 2022 WIB

Mencari Sosok Pemimpin Bangsa

Pemilihan presiden Indonesia pada pemilu serentak dengan anggota legislatif akan berlangsung 2 tahun lagi. Agenda pergantian pemimpin nasional dan wakil rakyat ini merupakan agenda rutin 5 tahunan. Negara Indonesia membutuhkan pemimpin yang memiliki kepribadian sempurna dan berkarakteristik visioner.

Tenas Effendi, dalam bukunya Tunjuk Ajar Melayu halaman 654 menjelaskan seorang pemimpin wajib memiliki kepribadian sempurna, dia berusaha terus-menerus menyempurnakannya. Disebutkan secara jelas acuan bagi seorang pemimpin yang terkait dengan sifat, perilaku, hak, kewajiban dan sebagainya.

Yang dikatakan pemimpin, didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, dituakan oleh orang banyak, dikemukakan oleh orang ramai, di angkat menurut patutnya, dikukuhkan menurut layaknya, yang dikatakan pemimpin, dada lapang, fikiran panjang, dalam sempit ia berlapang, sebelum berkata berkira-kira, sebelum tegak mengagak-agak, sebelum duduk menengok-nengok, sebelum melangkah berpelangkah.

Menurut budaya politik melayu, terdapat sepuluh sifat pemimpin atau pemerintah yang baik yang dicintai rakyatnya yaitu ; pertama, berilmu; yang ilmunya boleh berguna; yang kajinya boleh mengaji; yang cakapnya boleh dikakap,; yang mulutnya boleh diikut. Kedua, tahu membedakan baik dengan yang buruk; benar dimulut benar dihati; benar menurut syariah dan sunnah; benar tegak menurut adat; benar berjalan kepada hukumnya; benar melangkah pada undangnya; benar tidak alih-beralih.


Ketiga, mampu memilih pembantunya dengan benar; tidak menimbang sama berat; bijak menimbang hati orang; bijak menimbang perasaan orang; bijak menimbang hak milik orang; bijak menimbang harta pusaka orang; bijak menimbang aib malu orang; bijak menimbang adat lembaga orang; bijak menimbang petuah amanah orang; bijak menimbang lebih dan kurang; bijak menimbang muka belakang.

Keempat, baik rupa dan budi pekerti, artinya elok duduk dengan tegaknya, elok tingkah dengan lakunya, elok budi dengan bahasanya, elok tegur dengan sapanya, elok tutur dengan katanya, elok langkah dengan lenggangnya. Kelima, pemurah; artinya, dermawan, keenam, tau balas budi. Ketujuh berani, kedelapan, cukup dalam makan dan tidur, kesembilan, tidak berfoya-foya dan kesepuluh laki-laki.

Petuah amanah melayu menyebutkan pemimpin yang dicintai rakyat yaitu ; yang dikatakan pemimpin: Mau menampin tahan berlejin. Mau bersakit tahan bersempit. Mau berteruk tahan terpuruk. Mau berhimpit tahan berlengit. Mau bersusah tahan berlelah. Mau berpenat tahan bertenat. Mau berkubang tahan bergumbang. Mau bertungkus lumus tahan tertumus. Mau ke tengah tahan menepi. Mau terfitnah tahan terkeji

Mau memberi tahan berbagi. Mau bersusah tahan merugi. Dalam  pantun adat dikatakan : Elok kain karena beragi. Elok benang karena dipintal. Elok pemimpin karena berbudi. Elok barang karena berakal. Elok kain karena benang. Bila dicelup amat lah cantik. Elok pemimpin berdada lapang. Seumur hidup berbuat baik. Apa tanda kain pelekat. Raginya halus berwarna-warni. Apa tanda pemimpin umat. Budinya halus mulia pekerti.

Orang tua-tua menegaskan, "Kalau memilih pemimpin, jangan memandang elok mukanya, tetapi pandang elok hatinya ". Ungkapan lain mengatakan, " bila hendak memilih pemimpin, pilih yang mulia budi pekertinya" Selanjutnya dikatakan, "Memilih jangan karena suku, tetapi memilih karena laku". ***