Cari Opini


Home >> Opini >> Hasan Supriyanto (Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kota Pekanbaru)

Opini
Hasan Supriyanto (Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kota Pekanbaru)

Kenapa HIV dan AIDS Masih Menjadi Perhatian? (Catatan Peringatan Hari AIDS Sedunia 2022)

Rabu, 07 Desember 2022 WIB

Kenapa HIV dan AIDS Masih Menjadi Perhatian? (Catatan Peringatan Hari AIDS Sedunia 2022)

Peringatan hari AIDS sedunia diperingati setiap tanggal 1 Desember yang tahun ini jatuh pada hari Kamis (1/12/2022). Kondisi ini sejalan dengan masih adanya temuan kasus HIV dan AIDS di Indonesia termasuk di Provinsi Riau dan Kota Pekanbaru. Pertanyaannya adalah kenapa HIV dan AIDS masih patut menjadi perhatian? Karena kasus HIV masih tetap besar.

Temuan kasus kumulatif HIV  di Provinsi Riau sejak tahun 1997 berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Riau hingga  bulan  Oktober 2022 adalah sebanyak 8.034 kasus. Khusus untuk periode Januari - Oktober 2022 ditemukan kasus HIV sebanyak 591 kasus. Temuan kasus tersebut tersebar di semua kabupaten dan kota di Riau. Dari jumlah kasus tersebut sebagian besar ditemukan di Kota Pekanbaru.

Sebagain besar kasus tersebut ditemukan pada jenis kelamin laki-laki yang mencapai 68 persen dan 32 persen pada perempuan. Temuan kasus HIV juga mayoritas ditemukan pada usia produktif atau usia 25 - 49 tahun yang mencapai 75 persen. Bahkan ditemukan juga kasus pada usia di atas 50 tahun yang mencapai 7 persen dan kasus pada anak di bawah 4 tahun yang mencapai 2 persen. Gambaran temuan kasus HIV di Provinsi Riau hampir sama dengan temuan kasus AIDS.

Jika dilihat berdasarkan pekerjaan dan profesi, temuan kasus HIV dan AIDS ditemukan pada berbagai pekerjaan dan profesi. Salah satu kelompok masyarakat yang mengalami peningkatan kasusnya adalah pada ibu rumah tangga. Temuan kasus pada ibu rumah tangga sangat berhubungan erat dengan temuan kasus pada laki-laki dan pada kelompok usia produktif.


Kedua fenomena ini sangat mungkin menjadi penyebab utama kasus HIV dan AIDS masuk dalam rumah tangga termasuik ke anak.  Gambaran di atas, menurut Penulis sudah cukup menjadi jawaban kenapa HIV dan AIDS masih patut menjadi perhatian.

Salah satu keprihatinan terhadap epidemi HIV dan AIDS adalah semakin meningkatnya kasus pada ibu rumah tangga. Ironisnya ibu rumah tangga ini bukan tergolong kelompok yang melakukan perlaku berisiko, tetapi tertular dari pasangan resmi atau suami.

Lebih mengkhawatirkan, dari ibu rumah tangga yang positif ini akan berpotensi menularkan pada bayinya apabila tidak terdeteksi sejak awal dan dilakukan upaya pencegahan. Kondisi ini tentu saja patut menjadi perhatian berbagai pihak khususnya pemerintah sebagai pemegang mandat pengelolaan negara.

Secara khusus temuan kumulatif kasus HIV dan AIDS pada ibu rumah tangga di Provinsi Riau berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Riau hingga September 2022 mencapai 513 kasus. Situasi ini diduga terjadi penyebaran virus di rumah tangga. Jika dikonfirmasi dengan data dugaan ini sangat memungkinkan terjadi. Selain temuan kasus pada laki-laki dan usia produktif tinggi, temuan kasus karena faktor resiko heteroseksual juga tinggi.

Jika situasi ini tidak segera diantisipasi dan dilakukan upaya penanggulangannya,  dapat menyebabkan dampak lanjutan yang serius. Salah satu dampak yang memungkinkan terjadi adalah menimbulkan ketidak harmonisan keluarga. Dan lebih jauh dapat menyebabkan kerentanan generasi penerus. Tentu semua kita tidak mau jika semakin banyak anak-anak yang terinfeksi HIV dan AIDS akibat semakin meningkatnya kasus pada ibu rumah tangga.

Perlu sosialisasi secara terus menerus dengan berbagai pendekatan untuk pencegahan. Ketahanan keluarga juga menjadi penting dan strategis untuk diwujudkan. Selain itu upaya untuk mendorong keberanian masyarakat tes secara sukarela dan mengetahui statusnya juga penting dilakukan. Karena tes HIV  bentuk upaya pencegahan dalam rangka menemukan kasus dari awal.***