Cari Opini


Home >> Opini >> Murparsaulian 

Opini
Murparsaulian 

Artificial Intellegence (AI); utopia atau dystopia?

Senin, 19 Desember 2022 WIB

Artificial Intellegence (AI); utopia atau dystopia?

Perdebatan tentang Artificial Intellegence (AI) antara utopia atau distopia, terungkap dalam syarahan Shadu Perdana bertajuk Paradoks Utopia, Rezim Digitalisme: Obsesi Ilmu dan Kebenaran Singularitas. Diskusi ini diinisiasi oleh Tsabitah Cyndicate dan KedaiReka dengan tokoh di balik layar Prof. Yusmar Yusuf (fenomenolog dan Budayawan Riau yang terkenal dengan pemikirannya yang progresif-alternatif). Hadir dalam syarahan tersebut antara lain; DR. Meyzi Herianto (Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik/Fisipol UNRI), DR. Meliani (alumnus [Doktor]; kajian kebencanaan perspektif Weberian [Cumlaude]), Saiman Pakpahan (Dosen FISIPOL UNRI yang berpikiran kritis), Resdati, S.Sos, MSi (dosen muda perempuan FISIPOL UNRI), Fedli Azis (Ketua Dewan Kesenian kota Pekanbaru), dan beberapa alumni FISIPOL UNRI yang memiliki pemikiran kritis dan kreatif seperti; Satya Wira Wicaksana, Haldi Yunian, dan lain-lain. Tak kalah kritis dan berpikiran tajam Bambang Putra Ermansyah tampil sebagai moderator yang berhasil memancing minda para peserta untuk berpikir ekstra keras.

Diskusi yang dimulai pukul 14.00 WIB hingga berakhir menjelang maghrib di ruang pertemuan mini-Norma Coffee jumat 16/12/2022) itu sangat hangat dengan perdebatan, saling adu pendapat dan ‘’mengejar’’ nara sumber Muhammad Natsir Tahar seorang Winterprenuer, Digital Business Consultant dan IT Support. Untungnya M Natsir yang sengaja diundang dari Batam itu mampu mengimbangi berbagai pertanyaan dari para aktifits muda yang kadang menusuk dan memaksa otak untuk berpikir lebih cepat dan berpikir tidak biasa (out of the box). Intelektualitas dan integritas M Natsir patut diapresiasi dengan keuniversalan ilmu yang dimilikinya serta bergaya anak muda pula secara pemikiran dan penampilan.

M Natsir membuka diskusi dengan Humanisme Vs Dehumanisme yang mengambil alas AI sebagai alternatif. Berangkat dari fenomena perkembangan platform digital yang begitu pesat.  Dimulai dari gejala dehumanisme ultra-modern (1997) yang ditandai dengan kekalahan juara Catur Dunia Gerry Kosparov melawan Deep Blue, sebuah computer IBM yang mampu mengkalkulasikan 200 juta Langkah per detik. Pada 10 Februari 1996, Garry Kasparov menyerah kalah di game pertama dari enam pertandingan melawan Deep Blue.

Peristiwa digitalisasi terus berlanjut pada fase akhir dari Revolusi Industri 3.0 dengan sistem otomasi dan kontrol logika yang dapat diprogram. Lalu revolusi industry 4.0. Analisis dan big data, Autonomous Robot, Virtual Reality, IoT, Augmented Reality, Additive Manufacturing (3D), dan Cyber Security bukan barang baru lagi. Kemudian diikuti dengan Singularitas teknologi yang ditandai dengan kemunculan Robot, penyatuan Biotech dan Infotech, Brain Chip dan Cyborg. Lalu kini kita sedang menuju masyarakat 5.0.

Inilah fakta awal bahwa mesin komputer mampu mengalahkan keterampilan manusia. Akankah eksistensi manusia sampai pada periode kritis (unskilled/skilled labour) terhadap dominasi otomasi teknologi dan AI? mungkinkankah robot jelmaan AI itu mampu menggantikan keberadaan manusia atau setidaknya merebut beberapa profesi yang biasa dilakukan oleh manusia. Bahkan untuk profesi yang memerlukan intuisi dan perasaan, seperti hakim yang memutuskan sebuah keputusan tidak hanya dari data dan fakta di persidangan, namun juga menggunakan hati Nurani. Mungkinkah diselipkan sisi humanisme di tengah fenomena mimpi manusia yang bisa disimpan dalam chip atau penanaman brain chip. Lalu diikuti dengan penciptaan manusia Cyborg atau penggabungan biotech dan infotech dalam satu tubuh.

Pertanyaan ini menggelitik peserta diskusi. Manusia yang diklaim sebagai mahluk paling sempurna mulai dipertanyakan. Dosen muda Fisip Unri Saiman Pakpahan menyebutkan Artificial intelligence, secara sederhana dapat dipahami sebagai upaya yang dilakukan oleh suatu sistem yang bisa diatur dalam konteks ilmiah dan juga sering disebut kecerdasan entitas ilmiah. Mengapa, apa dan bagaimana artificial intelligence (AI) diyakini mampu menggantikan manusia mengerjakan banyak hal? Saiman menjelaskan tahapan paling rendah dari sebuah AI adalah Artifical Narrow Intelligence (ANI). AI ditahapan dan jenis ini masih bekerja pada pekerjaan yang homogen dan terbatas, tetapi hasil kerja dari ANI ini sangat berkualitas. 

Saiman menyebutkan tahapan berikutnya dalam AI adalah Artificial General Intelligence, (AGI). Artificial Intelligence pada tahapan ini, diharapkan mampu menyerupai (imitasi) sistem kognitif manusia, dan mampu bekerja setara manusia dalam leveling kognitifAI dalam tahapan ini menghendaki ribuan artificial narrow intelligence untuk terintegrasi dan inline satu AI dengan lainnya untuk bekerja sesuai dengan aktifitas dari lahir sampai kematian manusia. 

Tahapan terakhir dari sebuah AI tambah Saiman adalah Artificial Super Intelligence (ASI). Pada tahapan ini, AI sudah setara dengan manusia dalam konteks berfikir rasional, kognitif dan bahkan mampu menemukan temuan temuan baru. Narasi ini menurut Saiman, terutama tentang tahapan dan jenis AI di dunia, baru sebatas ANI, yang mengerjakan pekerjaan manusia secara singular, bekerja dalam beberapa aspek, dan digerakkan oleh kecerdasan otak manusia. Lalu, entitas apa yang menggantikan peradaban? Tanya Saiman lagi? Saiman menjawab sendiri pertanyaannya itu bahwa manusia harus memiliki kecerdasan sebelum kecerdasan tersebut disuntik kepada entitas AI, yang bekerja secara sistem, mekanis dan robotic

Saiman melihat peluang dalam imajinasi penggiat AI yang meyakini bahwa kedaulatan Negara, individu, kelompok, masyarakat dan semua yang memiliki aroma human, akan digantikan oleh AI dengan dalil keterbatasan manusia dan efisiensi kerja AI. 

‘’Namun, kita belum mendapat kabar tentang bagaimana keyakinan para ilmuan terhadap ‘unduhan’ keberhasilan AI dalam konteks ke ibu an dan air mata. Butuh kegilaan lebih lanjut dalam falsafah berfikir untuk menerobos masuk dalam rumah peradaban manusia, yang sudah dirintis’’ terang Saiman yang dikenal dengan pemikirian kritisnya itu dalam sebuah ulasannya dari syarahan ini bertajuk Techo Imperium, Peradaban Utopis?

Fedli Azis, seorang seniman teater yang juga ketua Dewan Kesenian Kota Pekanbaru mengaku terkejut dengan kedegilan pemikiran yang muncul dalam diskusi itu. "Saya Terkesan. Ada Mutiara di Kampus itu", tulisnya dalam sebuah tulisan. Dia mengakui peristiwa ini langka terjadi. Apalagi setelah para senior-senior dari kalangan seniman sudah berstatus "Allahyarham" seperti Al azhar, Hasan Junus, Idrus Tintin, Bustamam Halimi, Dasri al Mubari dan banyak lagi. Fedli berharap peristiwa diskusi seperti ini dapat terus berlanjut di masa hadapan. ‘’Peristiwa kali ini justru terjadi di kalangan kampus, terutama FISIPOL Unri, yang sebelumnya tak pernah terdengar. Bicara dan mengungkapkan pendapat sebebas-bebasnya tentang filsafat dan ilmu lainnya,’’ tulisnya dalam sebuah tulisan.

Dijelaskan Fedli lagi, ‘’Dia (manusia) bebas, cenderung ingin menjadi "Tuhan" bagi dirinya sendiri, jika perlu bagi orang lain. Ia senantiasa mencipta dan melahirkan kebaruan-kebaruan tanpa campur tangan Tuhan. Lewat ilmu, teknologi-teknologi dan semacamnya’’, jelasnya mengamati perkembangan teknologi saat ini yang dikhawatirkan akan melampaui kehebatan manusia sebagai pencipta dari teknologi itu sendiri.

Satya Wira Wicaksana, seorang anak muda berpikiran kritis dan kreatif menyebutkan keterjebakan manusia pada narasi dan pembahasan distopia mengenai robot dan AI, pada dasarnya tidak lebih dari eskapisme. Dia pernah menodong Simon See Senior Director and Chief Solution Architect Nvidia AI dengan pertanyaan; bisakah kita mengunduh skill melalui AI ini, sehingga kita tidak perlu repot belajar lagi? Bisakah kita membentuk algoritma sebagaimana ‘algoritma’ pada sisi emosional manusia? Simon menjawab singkat; download skill? Absolutely not. Cracking algorithm? Secara teoretis, itu bisa saja terjadi. Tapi, jauh, sangat jauh sekali kita untuk mencapai ke sana’’. Pertanyaan dan jawaban Simon ini diceritakan Satya dalam sebuah ulasannya terkait kesannya dari syarahan Shadu perdana ini.

‘’Lantas, mengapa kita bisa menjadi seabsurd itu? Perbincangan, yang selalu mengarah pada invasi robot karena telah mencapai evolusinya, mengenai AI dan peradaban manusia, tampaknya ada yang tinggal --- atau premis itu sengaja ditinggalkan atau dilompati karena kenaifan kita? Tanya Satya dalam sebuah ulasannya dari peristiwa diskusi ini berjudul ‘’Kecerdasan Bisa Saja Artifisial, Tapi Kegagapan Tidak’’.

Menurut Satya ada lompatan premis yang berangkat dari perdebatan yang dengan hati-hati kita anggap selesai tentang apa dan bagaimana kebenaran itu. Masih pentingkah mengungkit perdebatan masa lalu untuk membahas AI? Hubungan ini menurutnya terletak pada ketidakmampuan AI untuk menjadi independen. ‘’Segala hal yang AI miliki merupakan turunan dari kreativitas manusia. Sehingga, ketika manusia gagal mendefinisikan apa itu kebenaran, maka yang terjadi hanyalah peperangan persepsi; bukan ide’’, urainya lagi. 

Menurut Satya, dependensi AI untuk menerima pengetahuan dan ilmu yang kemudian dikomputasi pada akhirnya mengarah pada kegagalan AI untuk membentuk hal yang orisinil dan baru, sebagaimana manusia; selalu mereplikasi dan merekonstruksi empirismenya menjadi sesuatu yang dianggap baru yang pada dasarnya hanyalah sebuah kompilasi dari berbagai entitas yang sudah ada lebih dulu.

Dalam disksui ini Satya juga menyinggung klaim tentang kebenaran dalam diri manusia yang bermuara dari konsensus ekstrem dan sekaligus mengatakan kebenaran bersifat relatif. ‘’Ketika kita bersepakat akan sesuatu, maka sesuatu itu dijadikan kebenaran. Sangat kontradiktif secara laten’’, jelasnya mempertanyakan kebenaran seperti apa sebenarnya yang kita percayai. Apakah hanya karena konsensus bersama yang dijadikan tolak ukur untuk mendefenisikan sebuah kebenaran. Dia mengambil contoh misalnya dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap dicekoki dengan analogi; kita menganggap air adalah air karena kita bersepakat tentang itu. ‘’Padahal cara berpikir seperti itu sarat akan kerapuhan. Setidaknya, cara berpikir seperti itu luput dari pembahasan bahwa apa yang dibicarakan adalah kebendaan-itu-sendiri --- dalam terminologi Kant dengan klasifikasinya terhadap perbedaan antara Noumenon dan Phenomenon disebut “Das ding an sich” atau “Thing-at-itself” --- bukan kesepakatan akan penamaan’’ urainya Panjang lebar.

Singkatnya lanjut Satya, menyandarkan klaim kebenaran pada konsensus-ekstrem mengarahkan manusia kepada fatalisme berpikir. Terlebih ketika hanya bermodalkan persepsi untuk mencapai realitas itu sendiri.  Dengan begitu, kebenaran sudah pasti benar secara absolut. Tentu, argumentasi ini memiliki konteks; bukan membicarakan mengenai penamaan dan preferensi yang amoral (tanpa kaidah moral, bukan tidak bermoral). ‘’ Wajar saja kita selalu menyematkan perbincangan distopia dan kekaguman sekaligus dalam pembahasan AI. Diam-diam kita ingin kabur dari pesimisme, tapi naif untuk melihat ke pembahasan paling awal dan paling dasar dari manusia dan terjerembab pada developmentalisme akut ‘’, urainya panjang lebar. Dia sempat mempertanyakan, apakah AI adalah sebuah diskursus yang sangat cyberpunk?

Sejalan dengan itu, dirupsi teknologi, manusia digantikan oleh AI hampir dalam semua aktifitas global berada pada dua sisi, utopia atau distopia, tergantung dari sudut mana kita memandangnya (point of view). Kecil kemungkinan ekstistensi manusia dapat bertahan bila terus dihadapkan pada singularitas dengan kecanggihan mesin pembelajar (deep learning) yang progresif itu. Di sisi lain manusia sebagai mahluk yang kompleksitas tidak akan bisa tergantikan oleh apapun termasuk robot atau cyborg jelmaan AI. Harus ditemukan jalan tengah agar humanisme dapat dipertahankan (manusia Vs Robot AI).

Ini bukanlah sebuah kegalauan untuk dirisaukan. Tapi adalah sebuah ranah kehidupan yang terus berjalan sesuai perkembangan ilmu pengetahuan yang terus melesat maju. Cara yang paling ampuh bagi manusia adalah bagaimana memilki keterampilan beradaptasi secara cepat di tengah perubahan yang ektra cepat. Di akhir diskusi ini Prof. Yusmar Yusuf mengusik peserta diskusi dengan pertanyaan mampukah manusia mengesampingkan ego sebagai mahluk paling sempurna? Bumi adalah bagian kecil dari alam semesta. Bukan tidak mungkin ada mahluk lain di planet lain yang mempunyai hak hidup yang sama di alam semesta yang maha luas ini.

 

Murparsaulian 
Penyair, penggiat media kreatif. Alumnus Universidad Autonomous de Barcelona, Spanyol