Cari Opini


Home >> Opini >> Muhammad Natsir Tahar

Opini
Muhammad Natsir Tahar

Kami Tidak Segila Nietzsche

Selasa, 20 Desember 2022 WIB

Kami Tidak Segila Nietzsche

Setiap kata memiliki kutukannya sendiri untuk dipahami berbeda oleh audiens. Seperti frasa “kebenaran singularitas” yang menjadi tema sentral dalam diskusi filsafat dan ilmiah dengan label Syarahan Syahu Perdana, di Norma Cofee, Pekanbaru, Jumat, 16 Desember kemarin.

Tema diskusi itu lengkapnya berbunyi: Paradoks Utopia, Rezim Digitalisme: Obsesi Ilmu dan Kebenaran Singular(itas). Saya diterbangkan dari Batam ke Pekanbaru khusus untuk mengantarkan syarahan (kuliah) dialogis ini oleh siapa lagi kalau bukan Prof. DR. Yusmar Yusuf, M.Psi seorang filosof, fenomenolog, penghasut intelektual sekaligus pelontar joke-joke satire paruh waktu.

Saya ditarik ke dalam inner circle Prof. Yusmar lebih dari lima tahun terakhir mungkin tidak sampai untuk segila Nietzsche, tapi paling tidak kami kerap menikmati kegilaan itu dengan keluar dari common sense dan bertapak pada jejak-jejak filsafati untuk membongkar fenomena pragmatisme dan kedangkalan pada penyingkapan gerak kosmos, serta kadang-kadang menertawai diri sendiri.  

Balik ke soal diskusi tadi, saya mereduksi tema besar tersebut menjadi “Humanisme Vs Demuhanisme dalam Perspektif Happy Ending (Utopia)”. Dan eureka! Dekan terpilih FISIP UNRI, DR. Meyzi Herianto (seorang intelektual eksentris yang progresif) menginisiasi diskusi ini bersama Prof. Yusmar serta ingin menjadikan helat Tsabitah Cyndicate dan KedaiReka tersebut sebagai pilot project, artinya akan banyak diskusi serupa yang mengambil lokus di kampus dan melekat pada FISIP UNRI.  


Tampil di depan para dosen muda progresif lainnya macam DR. Meliani (alumnus [Doktor]; kajian kebencanaan perspektif Weberian [Cumlaude]), kandidat doktor Saiman Pakpahan (Dosen FISIPOL UNRI yang berpikiran kritis), Resdati, S. Sos, MSi (dosen muda perempuan FISIPOL UNRI), serta Murparsaulian seorang penyair, penggiat media kreatif dan Alumnus Universidad Autonomous de Barcelona, Spanyol ini bisa membuat adrenalin terpacu.

Juga hadir para trigger, yang menyebabkan diskusi yang berlangsung tiga jam ini terasa sangat singkat. Mereka adalah para alumni FISIPOL UNRI yang memiliki pemikiran kritis dan kreatif seperti; Satya Wira Wicaksana, Haldi Yunian, dan beberapa mahasiswa calon-calon free thinker. Bahkan Bambang Putra Ermansyah alias Ibam yang bertugas sebagai moderator, ikut mendebat dengan perspektif kelimuan yang tajam. Begitu ketatnya perdebatan ini membuat Ketua Dewan Kesenian Kota Pekanbaru Fedli Azis tidak sempat bicara, ia kemudian menuangkan testimoninya lewat tulisan, dan saya sangat terkesan dengan istilah “Jalur Purba Kedunguan”.

Saya tidak akan mengurai tema diskusi itu melalui tulisan ini, dan akan dibahas pada tulisan yang lain. Saya ingin melangkapi jawaban kepada bung Wicaksana yang ternyata memiliki ekspekstasi berbeda terhadap frasa “kebenaran singularitas” dan itu baik, karena kajian filsafat punya tugas untuk menangkap semua dalil dan fenomena.

Sebagai audien, Wicaksana menerima pesan bahwa kebenaran singularitas itu bermakna sebagai kebenaran tunggal, dan ini memang sangat filosofis. Sedangkan singularitas yang saya bahas pada diskusi tersebut adalah penyatuan biotech dan infotech ke dalam tubuh manusia, untuk meng-upgrade dirinya menjadi cyborg dan sangkaan-sangkaan futurisme lainnya. Ini berbeda pula dengan singularitas pada makrokosmos yang terkait dengan big bang atau black hole yang identik dengan Stephen Hawking dan Lawrence Krauss, misalnya.

Wicaksana mengejar jawaban itu, bahwa adakah kebenaran tunggal di semesta ini? Dari sini saya ingin mengatakan bahwa tidak ada kebenaran absolut yang dapat ditangkap oleh indra manusia. Kebenaran hanya absolut pada dirinya (an sich) sedangkan manusia hanya membuat definisi dan persepsi dalam konsensus sekaligus kontradisi di dalam ruang-ruang dialog antar sesama makhluk sosial.

Mengutip Nietzsche, pengetahuan manusia tidak pernah absolut, sehingga manusia tidak butuh mengoleksi pengetahuan seperti barang antik. Pengetahuan hanyalah tafsir terhadap realitas, dan bukan realitas itu sendiri.

David Hume lebih kejam lagi, pengetahuan itu katanya bahkan tidak pernah ada. Yang indrawi bagi nabi empirisme John Locke sebagai pengetahuan yang valid, dicoret oleh Hume. Pengetahuan bagi Hume adalah kumpulan citra atau kesan. Seperti film animasi, kita melihat objek hidup dan bergerak, padahal hanyalah susunan gambar mati yang sangat rapat.

Pemikir dunia punya raksasa bernama Immanuel Kant yang mampu memadukan dua arus besar filsafat yakni empirisme dan rasionalisme, antara logika induktif dan deduktif sekaligus. Namun pikirannya dibantai oleh Nietzsche secara belum terbantahkan.

Nietzsche mematahkan Kant karena masih bermain di wilayah dogmatik, dan selalu tergoda pada angan-angan metafisika. Kant masih bermimpi tentang idealisasi moral yang tidak holistik. Kita butuh pemikir lain di atas Nietzsche untuk mendukung Kant, atau kita akan segila Nietzsche.

Tentang penulis:

Writerpreneur| Digital Business Consultant and IT Support| Postgraduate Diploma In Business Management, Kingston International School, Singapore. Peraih 27 sertifikat terverifikasi dari sejumlah universitas dunia, seperti University of Michigan (USA), Coventry University (UK), Deakin University and Deakin Business Course (Australia), King's College London (UK), Philantrhopy University and Sustainably Knowledge Group (USA), University of Leeds and Institute of Coding (UK), Griffith University (Australia), Monash University (Australia), British Council (UK), University of Reading and Henley Business School (UK), dan Accenture (UK).