Cari Opini


Home >> Opini >> Farah Salsabilla (Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Diponegoro)

Opini
Farah Salsabilla (Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Diponegoro)

Kekerasan Terhadap Pekerja Rumah Tangga

Sabtu, 31 Desember 2022 WIB

Kekerasan Terhadap Pekerja Rumah Tangga

Konsep hak asasi manusia menjelaskan bahwa setiap individu memiliki hak dan kebebasan dasar yang sama tanpa memandang ras, kebangsaan, agama, etnis, dll. Hak asasi manusia bersifat universal dan tidak dapat dicabut dan merupakan sesuatu yang diberikan kepada manusia berdasarkan kebajikan. Prinsip utama hak asasi manusia adalah bahwa setiap individu adalah makhluk yang bermoral dan berakal sehat yang berhak atas integritas dan hak-hak individu. Namun, saat ini dunia dipenuhi banyak permasalahan terhadap pelanggaran hak asasi manusia.

Hal ini juga terjadi di Timur Tengah, salah satunya Lebanon, dimana buruh atau migran yang bekerja disana berupah rendah dan hidup sebagai budak.  Lebanon adalah rumah bagi lebih dari 250.000 pekerja rumah tangga migran, yang berasal dari negara-negara Afrika dan Asia dan bekerja di rumah tangga pribadi. Sebagian besar pekerja ini adalah perempuan. Pekerja rumah tangga migran di Lebanon terjebak dalam jaring yang ditenun oleh sistem “kafala”, sistem sponsor migrasi yang secara inheren kejam, yang meningkatkan risiko mereka menderita eksploitasi tenaga kerja, kerja paksa dan perdagangan manusia.

Apa itu Sistem Kafala? Dalam istilah Bahasa Arab “kafala” secara kontekstual berarti pensponsoran atau penjaminan. Kafala, atau sistem sponsor, mendefinisikan hubungan antara pekerja asing dan sponsor lokal mereka, atau kafeel, yang biasanya menjadi majikan mereka. Sistem Kafala merupakan sistem opresif yang mengontrol pekerja migran tidak terampil di negara-negara Arab, kebanyakan dari mereka adalah perempuan dari Afrika dan Asia Selatan.

Sistem tersebut mengharuskan setiap pekerja untuk disponsori oleh warga negara tuan rumah, Sponsor diberi banyak kendali atas pekerja, termasuk di mana mereka bekerja, gaji mereka, dan pergerakan ke luar negeri. Mengingat ketergantungan pekerja pada sponsor mereka untuk hidup dan tinggal di negara tersebut, mereka sangat rentan terhadap eksploitasi tenaga kerja.


Ras dan gender juga berperan dalam sistem tenaga kerja yang bermasalah ini, dan pekerja Asia Selatan dan Afrika yang berkulit lebih gelap sering direkrut untuk pekerjaan yang kurang diinginkan seperti pekerjaan rumah tangga. Sementara perempuan dalam posisi pekerja rumah tangga kerap menghadapi pelecehan dan kekerasan seksual.

Intinya, Sistem Kafala menciptakan dinamika kekuasaan, yang memungkinkan pemberi kerja memiliki kendali penuh atas karyawannya. Mirisnya, para pekerja tidak dilindungi oleh undang-undang terhadap pelanggaran dasar ketenagakerjaan dan mereka dapat dideportasi jika mereka berbicara tentang kondisi yang dialami.

Para kritikus menyebut sistem itu “ perbudakan modern ”, dengan mengatakan perlakuan buruk muncul dari ketidakseimbangan kekuatan sponsor-pekerja dan impunitas hukum sponsor. Selain itu, Timur Tengah tertinggal dari kawasan lain dalam meratifikasi perjanjian internasional yang melindungi pekerja. Misalnya, tidak ada negara tuan rumah yang telah meratifikasi Konvensi Pekerja Rumah Tangga ILO , yang mewajibkan penandatangan untuk menetapkan upah minimum, menghapus kerja paksa, dan memastikan kondisi kerja yang layak, di antara perlindungan lainnya

Lebanon secara terbuka tidak menyertakan perlindungan terhadap pekerja rumah tangga di dalam undang-undang ketenagakerjaan. Meski demikian Legislatif Lebanon berupaya merevisi ulang undang-undang yang mengatur sistem Kafala tahun ini. Di atas kertas, langkah legislatif  jelas ke arah yang benar, tetapi tidak jelas apakah pihak berwenang akan benar-benar memberlakukan undang-undang ini. ***