Cari Opini


Home >> Opini >> Ahmad Sholeh (Guru MAN 1 Kota Pekanbaru)

Opini
Ahmad Sholeh (Guru MAN 1 Kota Pekanbaru)

Arah Baru Mutu Pendidikan

Senin, 02 Januari 2023 WIB

Arah Baru Mutu Pendidikan

Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) sudah dihapuskan, diganti dengan ANBK (Asesmen Nasional Berbasis Komputer). Perubahan program tersebut mengubah arah program evaluasi pada satuan pendidikan. Pada awalnya UNBK sebagai salah satu penentu kelulusan, sedangkan ANBK hadir sebagai alat untuk melakukan pemetaan mutu sistem pendidikan dengan memotret input, proses dan output pembelajaran di satuan pendidikan susuai dengan progam Kemendikbudristek yakni mutu pendidikan merupakan satu kesatuan antara input, proses, dan output  satuan pendidikan.

Sudah menjadi pandangan umum di tengah masyarakat, bahwa suatu lembaga pendidikan, jika jumlah peserta didik dan pendaftar besar (input) lagi membludak, sementara kuota yang diterima jumlahnya sedikit sudah dianggap bermutu, ditambah pihak lembaga pendidikan berlomba-lomba mencetak brosur, benner, baliho berisi pernyataan meyakinkan sekolah “bermutu” tentu untuk menarik peminat pendaftar, disadari bahwa aspek jumlah peserta didik dan pendaftar (input) adalah salah satu bagian terkecil dari “mutu”.

Pandangan tersebut tampaknya masih mendominasi di tengah-tengah masyarakat sehingga agak sulit memberi pengertian tentang sisi mutu dari aspek yang lain. Ada juga anggapan lain mutu pendidikan dimiliki oleh lembaga pendidikan yang beken, bonafit, berada di wilayah perkotaan, anggapan ini tentu tidak sepenuhnya benar, terkadang sekolah yang bonafit, keren, lengkap segala fasilitas pendukungnya, bisa jadi kalah pada sisi tertentu dari sekolah yang apa adanya.
Pada tahap input ada hal-hal unik untuk diselesaikan, tidak adanya aturan jelas pada tahap ini, memungkinkan ada ruang bagi lembaga pendidikan tertentu memberi batasan misalnya yang boleh dan bisa mengikuti tes, lulus administrasi adalah kategori ranking, nilai raport dan syarat-syarat lain. Hal ini didukung argumentasi bahwa seseorang yang memiliki ranking atas sudah memiliki potensi-potensi baik, tidak jarang lembaga pendidikan berkompetisi juga untuk mendapatkan calon-calon terbaik dari peserta didik, parahnya lembaga pendidikan tingkat bawah kadang- kadang juga melakukan hal demikian, didukung kekhawatiran orangtua tentang nasib anaknya.

Di sini tampak ada nuansa negatif sisi saling menguntungkan, sementara jika satu lembaga pendidikan sudah mendapatkan pendaftar sesuai kriteria terbaik, sementara yang tidak sesuai kriteria, menjadi urusan lembaga pendidikan lain. Lembaga pendidikan pada akhirnya dihantui rasa khawatir dengan urusan-urusan peserta didik, terus khawatir memikirkan nasib peserta didik non unggulan.


Sebenarnya semua lembaga pendidikan tidak boleh khawatir dan takut, asalkan terbangun secara kuat iklim, budaya, dan pembiasaan potensi baik (berakhlak). Seharusnya siapa saja boleh masuk dan belajar di lembaga pendidikan tanpa syarat-syarat apapun. Iklim, budaya, pembiasaan yang kuat didukung kesadaran penuh dari semua elemen akan membawa nuansa berakhlak pada lembaga pendidikan.

Kolaborasi intens bersama orangtua (parenting) perlu terus dilakukan untuk menyadarkan orangtua bahwa anak-anak mereka memiliki keunikan-keunikan yang menggambarkan potensi besarnya, jika demikian rasanya akan memberi banyak kesempatan kepada siapa saja untuk menikmati kemerdekaan belajar yang sesungguhnya pada lembaga pendidikan apapun, didasarkan pada proses kolaborasi antarlembaga pendidikan dan orangtua bukan atas dasar kompetisi.

Bangunan potensi peserta yang beragam merupakan kunci mutu lembaga pendidikan, sangat disayangkan banyaknya penghargaan, sertifikat, pengakuan yang sudah dimiliki oleh lembaga pendidikan tertentu berhenti hanya pada selembar kertas pengakuan dibumbui seremonial saja, tetapi kurang maksimal memanfaatkan potensi besar lainnya, sangat disayangkan pula jika pemanfatan potensi-potensi peserta didik hanya untuk diarahkan sekadar menang dan juara pada ajang kompetisi tertentu, sehingga label sekolah favorit, mahal dan berkualitas segera didapatkan.

 Pada kenyataannya setelah berbagai label nama yang didapatkan lembaga pendidikan sulit untuk dipertahankan, menghabiskan banyak energi demi memenangi kompetisi, disamping melelahkan dan menguras sumber daya, bukan berarti kompetisi tidak penting tetapi nilai dari mutu pendidikan bukan hanya didominasi dari hasil berbagai kompetisi tetapi proses menguatkan, mengarahkan dan memberdayakan potensi-potensi beragam dari peserta didik agar mampu membimbing dan keilmuanya, mampu dimanfatkan oleh masyarakat, menyiapkan mereka agar mampu berdampingan dengan siapapun adalah proses tidak berkesudahan (thuluzzaman), agaknya proses yang panjang ini masih kalah dan terus didominasi oleh proses sekadar mengejar kompetisi tertentu.

Contoh sederhana peserta didik yang memiliki potensi menulis misalnya cerpen, puisi, artikel, riset jarang diberdayakan, seandainya mau dan ingin merubah cara pandang tentang mutu, lembaga pendidikan harus mulai bangga, menata dan melakukan publikasi, memasarkan, memberikan modal agar peserta didik mau menulis sebagai penguat potensinya, sehingga tulisan-tulisan itu mencerahkan masyarakat, masyarakat akan menikmati pikiran-pikiran peserta didik serta menghidupkan nuansa literasi baik di lembaga pendidikan dan masyarakat.

Dengan demikian peserta didik berkiprah langsung di tengah masyarakat melalui pemikiran dalam bentuk tulisan dan aksi nyata. Hal ini akan mampu menjawab dugaan bahwa tingkat literasi peserta didik tidaklah rendah, bahkan mampu merubah pola asesmen tidak lagi sibuk tentang literasi dasar dan numerasi, asesmen yang dilakukan akan mampu langsung lebih fokus pada survey karakter dan survey lingkungan belajar untuk kepentingan sepanjang zaman.

Peran lembaga pendidikan sebagai agen of change seharusnya tidak boleh menjadi sasaran survey berkaitan karakter dan lingkungan belajar, jika terjadi hal demikian, berarti ada proses yang terputus, bisa jadi lembaga pendidikan berubah arah pada kepentingan sesaat, bisa jadi peserta didik lupa bahwa mereka adalah pelaku utama agen, bisa jadi para stakeholder lupa tugas mulianya tanpa sekat ruang dan waktu lalu berasas jiwa-raga penuh keikhlasan (mukhlis). Sekiranya demikian maka perlu mengambil langkah cepat  dan sadar untuk membawa nilai-nilai yang dibangun pada lembaga pendidikan terus mewarnai kehidupan sehingga lembaga pendidikan tidak perlu khawatir jika peserta didik telah menyelesaikan proses pendidikan pada lembaga pendidikan (output) akan lebih siap untuk berdampingan dengan siapapun tanpa sekat agama, suku, budaya yang beragam susuai harapan pemerintah melalui slogan Profil Pelajar Pancasila. Lalu kenangan terbaik pendidik berproses bersama peserta didik menjadi ingatan terindah menguatkan langkah mengokohkan sanubari peserta didik pada kondisi apapun. Semoga***