Cari Opini


Home >> Opini >> Viki Pratama (Guru SMP IT Al Kahfi Sumatera Barat)

Opini
Viki Pratama (Guru SMP IT Al Kahfi Sumatera Barat)

Memurnikan Kembali Makna Agama

Jumat, 06 Januari 2023 WIB

Memurnikan Kembali Makna Agama

Dewasa ini timbul semacam tradisi dari kalangan para politikus yang berbondong-bondong datang ke lembaga Islam, sebutlah misalnya ke pesantren, ormas Islam bahkan ke organisasi kemahasiswaan yang berlabelkan Islam semua itu rutin mereka lakukan setiap menjelang pesta demokrasi. Mulai dari tingkat kecamatan hingga ke tingkat nasional (pemilihan presiden).  Agama seolah menjadi barang “dagangan” yang laris untuk meraup suara umat islam yang menjadi mayoritas negeri ini. Benarlah kata Ibnu Rusyd bahwa agama adalah alat dagangan yang laris.

Itu adalah gambaran fungsi agama dalam tradisi perpolitikan Indonesia, tak cukup sampai di situ, masih segar di pikiran kita akan berbagai kasus pelecehan seksual di berbagai pondok pesantren di tanah air, pelakunya beragam mulai dari guru, santri senior bahkan anak dari kiai yang terpandang di daerah tersebut tak luput dari perilaku hina ini, belum lagi predator seksual yang memangsa 13 orang santriwatinya untuk memuaskan hawa nafsunya. Tak berhenti sampai di situ tuduhan buruk akan agama masih terus berlanjut setelah rangkuman kasus oleh Majalah Tempo perihal lembaga sosial yang menyalahgunakan dana sumbangan kepedulian umat untuk kekayaan pribadi.

Dari semua kasus yang penulis uraikan tadi jika dianalisis lebih mendalam memiliki benang merah yang sama, yaitu sama-sama membawa agama! Kalau kita pelajari lebih jauh (dalam pandangan Islam) dampak dari membawa perilaku buruk nan keji tadi dengan agama, bagi mereka yang tidak Islam, akan menganggap bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan penganutnya untuk berbuat cabul, membenarkan perilaku buruk seorang politis dengan dalil agama, belum lagi bagi mereka yang tidak bisa membedakan mana yang perbuatan oknum dan mana ajaran agama, alhasil kemuliaan agama Islam tertutupi oleh para penganut atau pengikutnya yang banyak melakukan perbuatan tercela.

Agama Islam hanya dianggap sebagai simbol tidak melihat agama sebagai sesuatu yang bermakna. Jadi tak heran kalau banyak dari orang tidak mengamalkan ajaran agama karena menganggap ajaran agama hanya sebatas kajian di dalam masjid kalau sudah di luar masjid agama tidak memiliki peran lagi, cahaya iman itu tak sampai menghujam ke hatinya hanya sebatas lisan tak bermakna. Orang atau oknum yang melihat agama hanya sebatas simbol  menurut Ibnu Rusyd akan selalu ada sepanjang sejarah, sebutlah misalnya pada masa akhir Khalifah Abbassiyah dengan pengangkatan khalifah yang kurang kompeten yang membuat Mongol dengan mudahnya menumbangkan kekuasaan muslim saat itu.


Begitupun dengan sejarah perjuangan Indonesia ketika Aceh yang mulanya sulit dikuasai oleh penjajah Belanda akhirnya mudah diobrak-abrik setelah diutusnya Snouck Hurgronje untuk mengotak-atik keyakinan kaum muslim Aceh saat itu. Alasan ini tidak bisa kita jadikan alasan juga untuk tidak melibatkan agama dalam kehidupan hanya karena perilaku buruk oleh sebagian oknum tertentu, karena manusia dan agama adalah suatu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Dalam pandangan Islam (Islamic Worldview) semua manusia yang lahir ke alam dunia ini lahir dalam keadaab Islam, sebagaimana yang kita ketahui ketika di alam rahim manusia tadi telah bersaksi dan mengakui bahwa Allah sebagai Tuhan, orang tua, lingkungan, pendidikan yang merubah fitrah alamiah tadi.

Islam sebagai agama paling sempurna dan tidak berhenti pada ilmu dan iman saja, tapi harus disempurnakan pada aspek amal dan praktik dalam kehidupan sehari-hari. Sederhana mustahil orang salat tapi masih suka berkata kasar ataupun berperilau tercela lainya. Karena esensi makna salatnya tadi terlihat pada perilaku mulia yang ia tampakkan pada sehari-hari termasuk dalam kehidupan bermasyarakat.

Oleh karena itu menurut Ustadz Abdul Rohman bahwa di dalam Alquran, apabila manusia ingin selamat dan terhindar dari kerugian kehidupan ini maka ia harus mengamalkan agama, berkomitmen dan konsisten akan hal itu, semua itu menjadi tiga kesatutan yaitu ilmu, iman dan amal.

Terakhir, sebagai pengingat bersama, menurut Imam Al-Ghazali dalam Bidyah Al-Hidyah bahwa yang merusak agama sesungguhnya adalah pelajar (penganut) agama itu sendiri. Yaitu, orang yang belajar untuk saling bersaing, membanggakan diri, menarik perhatian orang lain, dan mendapatkan harta. Tidak hanya agamanya yang dirusak, bahkan dirinya yang dirusak oleh faktor dalam dirinya atau jiwanya sendiri. Wallahualam bissawab.***