Cari Opini


Home >> Opini >> Marfi Ario (Mahasiswa Program Doktoral UPI dan Dosen Pendidikan Matematika Uviversitas Pasir Pengaraian)

Opini
Marfi Ario (Mahasiswa Program Doktoral UPI dan Dosen Pendidikan Matematika Uviversitas Pasir Pengaraian)

Ilmu dan Komitmen

Senin, 09 Januari 2023 WIB

Ilmu dan Komitmen

Berdasarkan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI) Desember 2022, program studi terbanyak di Indonesia adalah program studi bidang Pendidikan dengan total 6.127 program studi. Bukan hanya program studinya, mahasiswa terbanyak di Indonesia juga adalah mahasiswa dari program studi bidang Pendidikan dengan total 1.371.105 mahasiswa. Sayangnya, angka tersebut tidak berbanding lurus dengan kualitas pendidikan di Indonesia. Pendidikan Indonesia saat ini belum dapat dikatakan berkualitas.

Salah satu indikatornya dapat dilihat dari pencapaian Indonesia pada tes berskala internasional seperti PISA (Programme for International Student Assessment). Tes PISA adalah penilaian internasional tiga tahunan yang diselenggarakan oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) untuk mengukur kemampuan anak-anak usia 15 tahun di bidang membaca, matematika dan sains. Peserta tes PISA sekitar 70 negara. Pelaksanaan tes PISA terakhir yang telah dipublikasikan yaitu 2018.

Hasil PISA 2018 menunjukkan bahwa kemampuan anak Indonesia masih berada pada kelompok kurang. Skor rata-rata Indonesia untuk kemampuan membaca, matematika dan sains berturut-turut yaitu 371, 379, dan 396. Sedangkan rata-rata seluruh negara pada tiga kemampuan tersebut yaitu 487, 489, dan 489. Dalam sistem PISA, nilai 40 setara dengan satu tahun pembelajaran. Skor anak-anak Indonesia berada sekitar 100 poin di bawah rata-rata yang mengindikasikan bahwa kemampuan membaca, matematika dan sains anak Indonesia tertinggal 2,5 tahun dibandingkan anak-anak di negara-negara OECD. Skor yang diperoleh Indonesia pada 2018 tidak berbeda jauh dengan skor pada tahun-tahun sebelumnya.

Dari data sungguh sebuah Ironi. Satu sisi, jumlah prodi dan mahasiswa bidang Pendidikan merupakan yang terbanyak di negeri ini, tetapi di sisi lain kualitas pendidikan kita masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara di dunia. Oleh karena itu, perbaikan terhadap pendidikan Indonesia harus terus dilakukan.


Jika kita berbicara tentang perbaikan pendidikan di Indonesia, maka salah satu hal paling penting yang harus diperbaiki adalah praktik pembelajaran di kelas. Tokoh paling berperan dan menjadi ujung tombak dalam hal ini adalah para guru (termasuk juga dosen). Jika pembelajaran di kelas berkualitas, maka pendidikan Indonesia juga akan berkualitas. Sehebat apapun kurikulum yang dibuat oleh pemangku kebijakan, jika tidak dieksekusi dengan baik oleh guru, maka sia-sia semuanya. Kalaupun anggaran terus diperbesar, tapi praktik pembelajaran di kelas tidak sesuai dengan seharusnya, maka kualitas pendidikan akan jalan di tempat.

Penulis melihat ada suatu masalah yang terus berulang tentang praktik pembelajaran di kelas. Permasalahan ini hasil pengamatan penulis selama menjadi mahasiswa (S1-2008, S2-2013, dan S3-2022) dan dosen (sejak 2016) di Jurusan Pendidikan. Coba bayangkan situasi berikut (siapapun yang pernah berkuliah atau menjadi dosen di jurusan Pendidikan, akan mudah mengerti dengan kondisi ini). Pada 2010, mahasiswa bidang Pendidikan menulis skripsi tentang suatu model pembelajaran kontemporer yang mampu meningkatkan hasil belajar dengan latar belakang penelitian yaitu guru saat itu belum menerapkan model pembelajaran dengan konsep student center.

Guru masih menggunakan pembelajaran konvensional dengan model pembelajaran langsung. Suatu model pembelajaran yang tidak direkomendasikan oleh banyak teori-teori pembelajaran. Singkat cerita, mahasiswa angkatan ini kemudian lulus dan menjadi guru. Pada 2015, mahasiswa bidang Pendidikan kembali menulis skripsi dengan topik yang sama, yaitu penerapan model pembelajaran dengan konsep student center. Latar belakang yang diangkat juga sama, karena guru saat itu (2015) masih menerapkan model pembelajaran yang belum sesuai dengan teori-teori pembelajaran. Padahal, guru saat itu (2015) adalah senior mereka yang pada 2010 menulis skripsi serupa dan mengomentari guru sebelumnya.

Lalu di 2020, hal ini terjadi lagi. Mahasiswa menulis skripsi dengan topik yang sama dan latar belakang yang sama juga. Padahal guru yang mereka komentari adalah mereka yang menulis skripsi di 2015 yang dulunya mengomentari hal yang sama. Begitu seterusnya berulang bertahun-tahun bahkan hingga saat ini.

Mengapa kondisi tersebut terjadi? Mengapa ketika menjadi mahasiswa, mereka tahu teori pembelajaran dan mengomentari guru-guru sebelumnya, tetapi setelah menjadi guru, mereka melakukan hal yang sama dengan guru yang dulu mereka komentari? Jawaban pertanyaan ini secara ringkas disebabkan oleh dua hal. Pertama, karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman guru tentang model atau strategi pembelajaran kontemporer. Kedua, disebabkan kurangnya komitmen guru dalam menjalankan teori yang telah diketahuinya.

Masalah pertama bisa diselesaikan dengan belajar. Hal ini dimulai sejak guru tersebut masih menjadi mahasiswa. Setiap mahasiswa bidang Pendidikan harus belajar dengan baik agar menguasai teori-teori pembelajaran. Teori ini kemudian akan menjadi bekal ketika ia telah menjadi guru. Jika saat ini ia sudah tidak menjadi mahasiswa, maka ia dapat meningkatkan pengetahuannya melalui seminar, workshop, dan mengikuti komunitas belajar sesama guru lainnya.

Setiap guru wajib menambah dan memperbaharui pengetahuannya, khususnya tentang perkembangan praktik pembelajaran kontemporer. Masalah kedua, tentang komitmen. Banyak guru yang tahu tentang teori pembelajaran, tetapi tidak menerapkannya karena berbagai alasan. Mulai dari beban tugas yang banyak hingga masalah sulitnya menerapkan teori tersebut. Memang harus diakui, bahwa menerapkan model pembelajaran dengan konsep student center jauh lebih sulit dibandingkan dengan pembelajaran langsung. Model-model pembelajaran yang mengedepankan keaktifan siswa dalam membangun sendiri pengetahuannya memang memerlukan usaha lebih besar. Mulai dari persiapan yang lebih banyak hingga kesabaran ekstra ketika melaksanakannya.

Jika dalam pembelajaran langsung misalnya guru hanya menyampaikan rumus dan memberikan contoh soal, dalam pembelajaran kontemporer guru harus menerapkan teori scaffolding (bimbingan) hingga siswa menemukan sendiri rumus tersebut. Terkadang guru tidak sabar dan tidak mau merepotkan diri dalam membimbing siswa menemukan rumus tersebut. Guru merasa lebih mudah dengan menyampaikan saja rumus tersebut secara langsung dan memberikan contohnya. Hanya guru dengan komitmen tinggi yang mampu menerapkan model dan strategi pembelajaran kontemporer yang disarankan oleh para ahli.

Lantas, apa peran perguruan tinggi (khususnya dosen) bidang Pendidikan dalam mengatasi hal ini? Solusi untuk masalah pertama, dosen harus benar-benar memberikan ilmu dan teori-teori pembelajaran kepada mahasiswa bidang Pendidikan. Setiap lulusan Program Studi Pendidikan harus dipastikan telah menguasai teori-teori pendidikan atau pembelajaran. Tanpa pengetahuan yang cukup, maka mustahil guru bisa melakukan praktek pembelajaran yang baik.

Solusi untuk masalah kedua berupa komitmen, maka dosen harus memberikan teladan. Ketika dosen mengajar mahasiswa, maka dosen juga harus menerapkan teori-teori pembelajaran di kelasnya. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori saja, tetapi mendapat teladan langsung dari dosennya. Begitu mahasiswa tersebut menjadi guru, maka diharapkan ia bisa mencontoh dosennya dulu ketika ia kuliah.

Penulis ingin berbagi best practice yang pernah penulis dapatkan ketika mengikuti perkuliahan Kajian Pedagogik bersama Bapak Prof Turmudi MEd, MSc, PhD yang menjadi inspirasi dalam praktik pembelajaran berkualitas. Pada perkuliahan ini, beliau memberikan banyak ilmu tentang pedagogik (ilmu bagaimana mengajar). Tapi tidak sebatas memberikan teori, praktik pembelajaran yang dilaksanakan sesuai dengan teori yang disampaikan. Proses pembelajaran berpusat kepada mahasiswa. Diskusi di kelas ini menjadi sangat hidup sehingga seringkali perkuliahan ini melewati jam perkuliahan yang telah ditetapkan. Di akhir perkuliahan, beliau memberikan soal pemecahan masalah, lalu memberikan scaffolding kepada kami hingga berhasil memecahkan masalah tersebut.

Dari perkuliahan ini kami diajarkan tentang teori scaffolding dan mengalami secara langsung bagaimana beliau mempraktikkan teori tersebut kepada kami. Sungguh suatu pembelajaran yang ideal. Memadukan teori dan praktik secara bersamaan. Kelas ini telah mengajari dan menginspirasi penulis bagaimana pembelajaran dikelas seharusnya dilaksanakan.

Pengalaman di atas penulis sampaikan untuk memberikan gambaran sederhana tentang hal yang dapat dan harus dilakukan dosen agar mampu memberikan teladan kepada mahasiswa calon guru. Jika semua dosen melakukan hal yang sama, maka besar harapan guru juga akan melakukan hal yang sama di kelas-kelas mereka. Jika guru-guru Indonesia telah menerapkan pembelajaran berkualitas di kelasnya, maka harapan pendidikan berkualitas akan dapat terwujud. Dengan demikian, pendidikan Indonesia bukan saja menang dalam kuantitas tetapi juga kualitas. Skor PISA yang selalu konsisten di bawah rata-rata suatu saat dapat konsisten di atas rata-rata.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh guru yang telah memberikan dedikasi dan komitmen yang kuat dalam praktik pembelajaran di kelas mereka. Penulis meyakini selalu ada guru-guru hebat yang menerapkan pembelajaran berkualitas di kelas mereka. Melalui guru-guru seperti inilah, harapan kualitas pendidikan dapat terwujud. Semoga pendidikan Indonesia segera mampu menyamai atau melebihi kualitas pendidikan di negara-negara maju.***