SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) - Aroma khas belacan langsung menyambut setiap orang yang memasuki Desa Ketapang Permai, Kecamatan Pulau Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti.
Di desa pesisir yang sebagian besar warganya menggantungkan hidup sebagai nelayan itu, terasi bukan sekadar pelengkap masakan.
Produk olahan berbahan baku udang pepai tersebut telah menjadi denyut ekonomi masyarakat selama puluhan tahun dan kini berkembang menjadi salah satu komoditas unggulan yang membanggakan Meranti.
Baca Juga: Usai Protes Emak-Emak, Tujuh Kafe di Tapung Ditutup Polsek Tapung Bersama Tim Yustisi
Di balik proses pembuatannya yang masih sederhana, terasi Ketapang Permai menyimpan cita rasa yang sulit ditemukan di daerah lain. Rahasianya terletak pada bahan baku utama berupa udang pepai segar hasil tangkapan nelayan di perairan sekitar Pulau Merbau.
Kesegaran udang menjadi faktor utama yang menghasilkan aroma kuat, rasa gurih alami, serta kualitas yang membuat produk ini terus dicari para penikmat belacan.
Setiap musim panen udang, para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di desa tersebut mampu memproduksi sekitar 5.000 keping terasi hanya dalam waktu kurang dari satu bulan.
Dengan harga sekitar Rp2.000 per keping, produk itu telah dipasarkan ke berbagai daerah, mulai dari Selatpanjang hingga Pekanbaru. Permintaan yang terus berdatangan menunjukkan bahwa terasi Ketapang Permai semakin mendapat tempat di hati konsumen.
Kepala Desa Ketapang Permai, Safrizal, mengatakan usaha pengolahan terasi telah menjadi sumber pendapatan tambahan bagi banyak keluarga. Kehadiran industri rumahan tersebut bukan hanya memberi nilai tambah terhadap hasil tangkapan nelayan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.
"Produk ini menjadi tambahan pendapatan bagi banyak keluarga di Desa Ketapang Permai," ujarnya saat berbincang beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Polsek Jajaran Polres Kuansing Tingkatkan Patroli Malam dan Cek Pos Kamling. Ada Apa?
Menurut Safrizal, hingga kini para perajin masih mempertahankan proses produksi secara tradisional karena dinilai mampu menjaga cita rasa khas.
Udang pepai yang baru ditangkap terlebih dahulu dipilih berdasarkan kualitas terbaik, kemudian dibersihkan sebelum dicampur garam dengan komposisi tertentu. Selanjutnya bahan tersebut difermentasi selama beberapa waktu hingga menghasilkan aroma khas yang menjadi ciri utama belacan Ketapang Permai.
Setelah fermentasi selesai, adonan digiling hingga halus, dicetak menjadi kepingan-kepingan, lalu dijemur menggunakan sinar matahari. Proses penjemuran dilakukan sampai kadar air berkurang sehingga terasi lebih awet tanpa tambahan bahan pengawet. Cara tradisional tersebut tetap dipertahankan karena dinilai mampu menjaga rasa dan kualitas produk.
Mutu produksi juga dijaga sejak awal proses. Udang pepai yang baru ditangkap langsung diolah agar kesegarannya tidak berkurang. Area produksi selalu dibersihkan secara rutin, sementara proses pengeringan dilakukan di tempat terbuka agar terasi benar-benar kering secara alami. Langkah itu dinilai penting untuk mempertahankan aroma, kualitas, sekaligus menjamin keamanan pangan.
Meski demikian, keterbatasan peralatan masih menjadi pekerjaan rumah bagi para perajin. Ketika cuaca tidak bersahabat, proses pengeringan membutuhkan waktu lebih lama sehingga produksi ikut melambat dan jumlah hasil yang dipasarkan menjadi berkurang.
Karena itu, Safrizal berharap pemerintah dapat membantu penyediaan mesin penggiling dan alat pengering modern agar kapasitas produksi meningkat tanpa mengurangi kualitas produk yang selama ini menjadi keunggulan terasi Ketapang Permai.
Baca Juga: Restorasi Mangrove Desa Teluk Pambang Jadi Perhatian Internasional
"Kendala kami bukan bahan baku, melainkan peralatan. Bantuan mesin penggiling dan alat pengering akan sangat membantu mempercepat proses produksi sekaligus menjaga kualitas terasi," ujarnya.
Selain menghasilkan terasi, masyarakat Desa Ketapang Permai juga mengembangkan berbagai produk olahan hasil laut lainnya, seperti bilis kering dan udang kering. Melimpahnya hasil tangkapan nelayan membuat masyarakat tidak hanya menjual ikan atau udang dalam kondisi segar, tetapi juga mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi sehingga memberikan keuntungan yang lebih besar.
Sementara itu, Camat Pulau Merbau, Hermansyah, mengatakan pemerintah kecamatan terus mendorong pengembangan UMKM berbasis hasil perikanan. Menurutnya, potensi tersebut harus diperkuat melalui dukungan sarana produksi, pendampingan usaha, hingga perluasan akses pemasaran agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Baca Juga: Disfungsi Ereksi Tak Lagi Monopoli Pria Lanjut Usia, RS Awal Bros, Ingatkan Bahaya Diam-Diam Ini
"Potensi ini harus dikembangkan secara serius. Karena itu, kami akan menggandeng instansi terkait untuk memperkuat kapasitas UMKM, mulai dari produksi hingga pemasaran, sehingga terasi Teluk Ketapang benar-benar menjadi produk unggulan yang memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat," katanya.
Pria kelahiran Pulau Merbau itu juga mengungkapkan bahwa terasi Ketapang Permai mulai dikenal di luar daerah. Produk dengan merek Terasi Tuah Udang bahkan pernah dipromosikan pada bazar Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Provinsi Riau di Kabupaten Kuantan Singingi.
Hasilnya cukup menggembirakan. Seluruh produk yang dipamerkan habis terjual. Kondisi tersebut menjadi bukti bahwa belacan khas Pulau Merbau memiliki kualitas dan daya saing yang mampu bersanding dengan produk serupa dari berbagai daerah lain di Provinsi Riau.
Baca Juga: Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Riau 2026, Ajang Regenerasi Dunia Seni Riau
Seorang perajin, Suryati (45), mengaku telah menggeluti usaha pembuatan terasi selama hampir tiga dekade. Menurutnya, potensi pasar sebenarnya masih sangat besar. Namun hingga kini pemasaran masih didominasi wilayah Selatpanjang, sementara produksi belum mampu memenuhi pasar yang lebih luas karena seluruh proses masih dikerjakan secara manual.
"Udangnya tidak pernah kurang, tetapi tenaga dan peralatan masih terbatas. Karena semuanya dikerjakan secara manual," katanya.
Selain Suryati, usaha serupa juga dijalankan Ismawati, Rusman, Zuraida, dan Rosma Santi. Mereka berharap dukungan pemerintah tidak berhenti pada bantuan peralatan semata, tetapi juga mencakup pendampingan pengemasan produk, pemasaran digital, promosi, hingga pemenuhan legalitas usaha agar produk mereka mampu bersaing di pasar modern.
Baca Juga: Bakat Muda Sumatera Menuju Final Audisi Umum PB Djarum 2026
Terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Tenaga Kerja Kabupaten Kepulauan Meranti, Eko Priyono, menegaskan pemerintah daerah tetap berkomitmen membantu UMKM agar mampu naik kelas dan memiliki daya saing lebih tinggi.
Menurut Eko, naik kelas tidak hanya berarti meningkatkan jumlah produksi, tetapi juga memastikan seluruh pelaku usaha memiliki legalitas yang lengkap, mulai dari sertifikat halal, PIRT hingga izin edar. Kelengkapan administrasi tersebut menjadi syarat penting agar produk dapat dipasarkan secara lebih luas, termasuk menembus pasar modern.
"Pemerintah daerah pada prinsipnya akan mendukung dan mendorong seluruh pelaku usaha agar maju dan mendapatkan pengakuan atas legalitas produk," jelasnya.
Baca Juga: ASN Dapat Kelonggaran Masuk Kerja, Untuk Antar Anak di Hari Pertama Masuk Sekolah
Ia menilai kualitas bahan baku yang dimiliki para perajin Ketapang Permai sudah menjadi modal besar untuk berkembang. Karena itu, pemerintah akan terus mendorong peningkatan teknologi produksi, pengemasan, serta legalitas usaha sehingga nilai jual produk semakin meningkat.
"Kalau kualitas produk dan pengemasannya terus ditingkatkan, saya optimistis terasi Ketapang Permai bisa menjadi salah satu produk unggulan Kabupaten Kepulauan Meranti," ujarnya.
Baca Juga: Masjid Paripurna Al Huda Dikunjungi Majelis Taklim Wanita Perindu Surga Padang Panjang
Bahkan, lanjut Eko, ke depan terasi Ketapang Permai diharapkan tidak hanya dikenal sebagai pelengkap masakan, tetapi juga menjadi identitas kuliner pesisir Meranti yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus memperkenalkan kekayaan hasil laut daerah ke pasar yang lebih luas.
Senada dengan itu, Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti, Lianita Muharni, menilai usaha pengolahan terasi di Desa Ketapang Permai merupakan contoh nyata bagaimana potensi sumber daya laut dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Menurutnya, terasi Ketapang Permai tidak hanya menawarkan cita rasa yang khas, tetapi juga memiliki peluang besar menjadi salah satu ikon produk unggulan Kepulauan Meranti apabila mendapatkan pembinaan dan pendampingan secara berkelanjutan.
Baca Juga: Dua Gol Bellingham Bawa Inggris Singkirkan Norwegia untuk Lolos ke Semifinal Piala Dunia 2026
"Potensi ini harus terus didorong agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tempatan," ujarnya.
Politisi Partai NasDem tersebut menekankan bahwa dukungan pemerintah tidak cukup hanya berupa bantuan peralatan produksi. Pendampingan usaha, peningkatan kualitas kemasan, strategi pemasaran, hingga pemenuhan legalitas seperti sertifikat halal, PIRT, dan izin edar juga harus menjadi perhatian agar UMKM benar-benar berkembang.
Dengan dukungan yang menyeluruh, menurut Lianita, terasi Ketapang Permai akan memiliki daya saing yang lebih kuat, mampu memperluas jangkauan pemasaran, bahkan berpeluang menembus pasar nasional.
Baca Juga: UPTJJ Wilayah VI PUPR Riau Gerak Cepat Menjaga Fungsional Ruas Jalan di Rohul
"Demi kemajuan UMKM, kami siap mendukung kebijakan maupun program yang bertujuan mengembangkan UMKM berbasis potensi lokal," tegasnya.
Ia berharap, di masa mendatang terasi Ketapang Permai tidak hanya dikenal di Kabupaten Kepulauan Meranti maupun Provinsi Riau, tetapi mampu menjadi produk kebanggaan daerah yang bersaing di tingkat nasional sekaligus mengangkat nama Meranti sebagai salah satu sentra penghasil terasi berkualitas di Indonesia. (adv)
Editor : M. Erizal