Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Riwayat Habib Sampai di Indonesia, Keturunan Nabi Muhammad SAW dari Hadhramaut ke Nusantara, Fakta Islam Menyebar dengan Cepat

Redaksi • Jumat, 8 Maret 2024 - 09:19 WIB

Jejak habib di Indonesia, masuk ke dalam keluarga dan berbagai kerajaan di nusantara.
Jejak habib di Indonesia, masuk ke dalam keluarga dan berbagai kerajaan di nusantara.
JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Menurut Rabithah Alawiyah - organisasi resmi pencatat nasab keturunan Nabi Muhammad SAW di Indonesia, pada 2017 diperkirakan ada 500 ribu hingga 1,5 juta keturunan Alawiyin yang menjadi jejak riwayat habib sampai di Indonesia.

Keturunan Alawiyin inilah yang kerap dipanggil habib sebagai asal mula keturunan Nabi Muhammad SAW yang membentuk riwayat habib di Indonesia.

Hal ini disebabkan asal mula keturunan Nabi Muhammad SAW berpatokan dari jejak kedatangan Bani Alawiyin di Hadhramaut, Yaman pada abad 13 hingga terjadi riwayat habib sampai di Indonesia.

Riwayat habib sampai di Indonesia yang dinisbatkan sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW berangkat dari jalur Sayyidina Husein bin Ali, cucu Rasulullah SAW yang lebih senang menisbahkan sebagai Alawiyin.

Penelusuran data terhadap kaum Alawiyin tersebut pertama kali dilakukan antara tahun 1932-1940. Tercatat ada 68 marga atau kabilah (kaum dari satu ayah) kaum Alawiyin. Sedangkan di luar kaum keturunan Nabi Muhammad SAW terdapat 239 marga Arab di Indonesia yang tidak termasuk keturunan Alawiyin.

Ringkasnya, riwayat habib di Indonesia sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW hanya berasal dari keturunan Husein, yakni putra dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra, putri Nabi Muhammad SAW.

Di Indonesia, istilah habib sebenarnya hanya panggilan saja. Sebutan resminya adalah Sayyid atau Sharif, dan kalau perempuan disebut Sayyidah.

Namun, dari banyak istilah itu sama-sama ditujukan untuk menyebut garis keturunan Rasulullah SAW (Ahlul Bait). Sejarah mencatat, keberadaan para Habib di Indonesia sudah berlangsung sejak lama, jauh sebelum kemerdekaan.

Identifikasi keberadaan para Habib dapat dilacak dari perintis yang menyusun nasab para habib, yaitu Ahmad bin Isa, seorang imam dari Basrah, Irak.

Ahmad bin Isa dikenal dengan nama Al-Imam Ahmad bin Isa atau al-Imam al-Muhajir yang merupakan generasi ke-8 dari keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra.

Ia dijuluki Al-Muhajir karena meninggalkan Basrah pada tahun 317 H (896 M) ke Hadhramaut, Yaman bersama keluarganya pada masa pemerintahan Khalifah Abbassiyah di Baghdad. Ahmad bin Isa wafat di Husaisah, salah satu desa di Hadhramaut, pada tahun 345 Hijriah.

Semasa hidupnya ia dikenal sebagai orang yang berilmu tinggi dan berbudi luhur. Sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW, banyak orang yang menilai bahwa beliau adalah pewaris agama Islam serta Ahlul Bait yang sah.

Berdasarkan penilaian yang diyakini itu, maka dalam perkembangannya, wilayah Hadhramaut menjadi semacam "sekolah" bagi orang-orang yang ingin menimba ilmu agama Islam, walaupun sebenarnya tidak ada lembaga pendidikan formal untuk itu.

Karena itu pula, hubungan antara murid dan guru lebih terasa sebagai bentuk ikatan spiritual. Sementara dalam perkembangnnya, pendidikan di Hadhramaut kemudian dikenal memiliki aliran tersendiri yang disebut Al-tariqa Al-Alawiyya (Tarikat Alawiyin).

Dengan keberadaan Tarikat Alawiyin, maka istilah Habib di Hadhramaut menjadi lebih luas, tidak lagi dibatasi sebatas garis keturunan.

Kadang, lulusan sekolah Tarikat Alawiyin yang ternama pun dapat dipanggil sebagai Habib. itu sebabnya ada pandangan bahwa habib hanyalah sebutan.

Namun, berbeda dengan kalangan Alawiyin yang ada di Asia Tenggara, istilah habib masih dibatasi mengacu pada pemahaman sebagai garis keturunan Nabi Muhammad SAW. Karena itu muncul varian-varian lain dari gelar yang disematkan kepada para keturunan Nabi, yaitu Sayyid dan Sharif.

Ahmad bin Isa memiliki empat orang anak dari istrinya Syarifah Zainab binti Abdullah bin Al-Hasan bin 'Ali al-'Uraidhy, yaitu Ubaidillah, Muhammad, Ali dan Husein.

Ubaidillah pada saat hijrah bersama ayahnya yaitu Ahmad bin Isa, memiliki tiga orang putera yaitu Alwi (Alawi), Jadid, dan Ismail.

Pada akhir abad ke-6 H keturunan Ismail dan Jadid dikatakan tidak mempunyai kelanjutan, sehingga nasad mereka punah dalam sejarah, sedangkan keturunan Alwi tetap berlanjut. Keturunan dari Alwi bin Ubaidillah inilah yang kemudian dikenal dengan kaum Alawiyin.

Kaum Alawiyin ini sungguh mendapat tempat di hati masyarakat Hadhramaut. Bahkan para pencari ilmu semakin ramai datang dari berbagai penjuru dunia.

Hingga akhirnya menonjol sosok seseorang bernama Al Faqih Muqaddam sebagai peletak dasar tasawuf kaum Alawiyin. Al Faqih Muqaddam adalah nama julukan untuk putra Sayyidina Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohib Marbath ini.

Ia lahir pada tahun 574 H/1176 M di Tarim, Hadramaut, Yaman Selatan. Nasab Al-Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali Ba'alawi ini bersambung menuju Alwi bin Ubaidillah bin Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir hingga ke Nabi Muhammad SAW dari jalur Sayyidina Husein.

Silisilah lengkapnya adalah Muhammad (Al-Faqih Muqaddam) bin Ali bin Muhammad Shohib Marbath bin Ali Khali' Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Imam Ja'far As-Shodiq bin Imam Muhammad Al-Baqir bin Imam Ali Zaenal Abidin bin Imam Husain RA bin Imam Ali Karramallahu Wajhah, suami dari Sayyidina Fatimah putri Rasulullah SAW.

Baca Juga: Buku Kisah Permaisuri Kerajaan Siak Tengku Maharatu Resmi Diluncurkan

Al-Faqih Muqaddam inilah yang dikenal sebagai pendiri Tarekat Alawiyyin dan leluhur dari para keturunan Alawiyyin yang tersebar di Indonesia.

Sehingga, seiring perjalanan waktu, anak keturunan mereka datang ke Indonesia pada Abad ke-13 hingga akhirnya muncul berbagai marga seperti Al-Attas, Al-Haddad, Assegaf, Al-Habsyi, Alaydrus, Al-Jufri, Syihab, Syahab dan masih banyak lainnya.

Mereka tersebar di berbagai daerah di Indonesia seperti Aceh, Jabodetabek, Surabaya, Palembang, Kalimantan dan daerah lainnya. Penyebaran itu dikaitkan dengan beberapa teori mengenai masuknya Islam ke Indonesia.

Sebab itulah, mungkin benar bahwa Islam sudah diperkenalkan di Nusantara pada abad-abad pertama Hijriah, namun hanya setelah abad ke-12 hingga abad ke-16 pengaruh Islam kelihatan lebih meluas.

Hal ini bisa dilihat dengan mengacu pada catatan Musa Kazhim dalam "Sekapur Sirih Sejarah Alawiyin dan Perannya Dalam Dakwah Damai di Nusantara: Sebuah Kompilasi Bahan", para Habib Alawiyin keturunan Rasulullah SAW tersebut datang pada abad ke-14 M.

Menurut Musa Kazhim, berpuluh-puluh tahun setelah Imam Ahmad bin Isa wafat, para Sayyid keturunan beliau menyebarkan dakwah Islam dengan damai ke seluruh dunia.

Pada periode tersebut, dakwah Islam berkembang sedemikian rupa sehingga tersebar di seluruh penjuru Nusantara, bahkan di Asia Tenggara.

Tahap pertama kedatangan para Habib pernah dijelaskan oleh dua habib terkemuka, yaitu Sayid Alwi bin Thahir Al-Haddad (1957) dan Sayid Muhammad Naquib Al-Attas (1972 dan 2011) yang dibenarkan oleh H Aboebakar Atjeh.

Kedua habib terkemuka itu menyebutkan bahwa para pembawa Islam pertama kalinya adalah para habib pedagang dari Hadhramaut. Ketika itu, Aceh merupakan daerah pertama berlabuhnya para habib.

Bukti dari kehadiran para habib tersebut dapat dilacak dari keberadaan makam kaum Hadhrami di Aceh. Salah satu makam kaum Hadhrami di Aceh adalah makam Habib Abu Bakar bin Husein Bilfaqih yang terletak di Peulanggahan, Banda Aceh.

Habib Abu Bakar bin Husein Bilfaqih adalah tokoh Hadrami yang masyhur di Aceh pada abad ke-18 M. Tahap pertama proses Islamisasi nusantara oleh para Habib sebenarnya mulai terjadi pada abad-abad pertama Hijriah, namun amat terbatas untuk mencapai banyak wilayah di Indonesia.

Penyebarannya tidak pesat mengingat jauhnya jarak dari tempat turunnya wahyu dan keterbatasan teknologi transportasi, sehingga keberhasilannya masih terbatas pada wilayah-wilayah tertentu.

Pada tahapan kedua, Musa Kazhim menjelaskan bahwa para Habib Alawiyin keturunan 'Ali dan Fâthimah binti Rasulullah SAW tersebut datang pada abad ke-14 M.

Pada periode ini, dakwah Islam berkembang sedemikian rupa sehingga dapat tersebar di seluruh penjuru Nusantara, bahkan di Asia Tenggara. Perkembangan tersebut mencapai puncaknya pada abad ke-15 hingga abad ke-17 M.

Sejarah mencatat, terlepas kaum Alawiyin ataupun bukan, ternyata ditemukan juga tokoh dakwah Islam di Indonesia yang berasal dari Cina. Namun tidak pernah ditemukan adanya unsur peperangan apapun sepanjang sejarah dakwah penyebaran Islam di bumi Indonesia.

Karena pendekatan persuasif dan damai, kerajaan-kerajaan lokal dengan leluasa dan sukarela membuka diri terhadap agama Islam yang relatif baru sehingga peluang dakwah semakin luas.

Tidak sedikit dari kaum Alawiyin awal yang datang ke Indonesia masuk ke dalam keluarga berbagai kerajaan lokal melalui perkawinan.

Tidak sedikit pula tampuk kepemimpinan kesultanan di Asia Tenggara sampai saat ini berada dalam jalur keturunan kaum Alawiyin antara lain, kesultanan di Pontianak dan tempat-tempat lain.

Tidak hanya itu, yang lebih mencengangkan bukanlah betapa banyak keturunan kaum Alawiyin menyebar di Nusantara dan Asia Tenggara, melainkan juga ada fakta bahwa Islam menyebar cepat dan dengan cara yang damai.

Sumber: Pojoksatu.id

Editor : RP Rinaldi
#habib #keturunan nabi muhammad saw #nusantara