Namun, sebenarnya bagaimana sejarah dari tradisi ini? Sejak kapan kegiatan membangunkan sahur dilakukan di bulan Ramadan? Antropolog Universitas Airlangga, Djoko Adi Prasetyo beberkan sejarah berlangsungnya kegiatan bangunkan sahur.
Menurutnya, kegiatan keliling membangunkan orang sahur saat Ramadan merupakan tradisi yang dimiliki bangsa Arab. Tradisi patrol sahur ini menjadi kesenian musik rakyat yang memiliki ritme tertentu namun cenderung tanpa peralatan musik diatonik (seperti piano, seruling, harmonika).
"Penduduk di sekitar Makkah memiliki kelompok-kelompok yang bertugas untuk membangunkan orang makan sahur. Bersenjata lentera dan gendang, mereka berkeliling ke sudut kota sambil meneriakkan bahwa waktu sahur telah tiba," tuturnya yang dikutip dari unair.ac.id pada Kamis (21/3).
Menurut dosen kebudayaan Islam dan klasik Indonesia Unair tersebut, tradisi membangunkan sahur ini sebenarnya sudah ada semenjak Nabi Muhammad SAW. Di era saat itu yang masih belum ada teknologi yang memadai, cara membangunkan sahurnya dengan menggunakan adzan.
"Di zaman Nabi Muhammad, belum ada pengeras suara atau alat yang dapat digunakan untuk membangunkan sahur. Karena itu, cara yang dipakai sangat sederhana, yaitu dengan mengumandangkan adzan," tutur Djoko Adi Prasetyo.
Kemudian karena perkembangan peradaban, masuknya ilmu pengetahuan maupun teknologi, tradisi membangunkan sahur mulai menggunakan alat-alat seperti gendang untuk menghasilkan suara. Saat itu pula tradisi membangunkan sahur saat Ramadan menyebar ke berbagai negara di dunia, termasuk di Indonesia yang beradaptasi dengan berbagai kultur setempat.
Djoko Adi Prasetyo mengungkapkan beberaga ragam tradisi patroli sahur yang ada di Indonesia. Mulai dari tradisi beduk sahur yang disebut Dengo-dengo di Sulawesi dan juga disebut Ubrug-ubrug di Jawa Barat.
"Di Sulawesi, tradisi beduk sahur dinamakan Dengo-dengo, sedangkan di Jawa Barat disebut Ubrug-ubrug. Ini adalah tradisi sahur yang paling umum dilakukan di Indonesia," lanjutnya.
Selain itu sebagaimana yang dikutip dari kemenag.go.id pada Kamis (21/3) bahwa terdapat beberapa ragam patroli sahur lainnya. Di Lampung terdapat tradisi klote'an atau beberapa nama lainnya. Di Gorontalo, terdapat koko'o, di Morowaliz, Sulawesi Tengah ada denga-dengo.
Selanjutnya masih ada lagi di Banjar, Kalimantan Selatan yang disebut bagrakan. Bahkan di DKI Jakarta, terdapat rutinitas menabuh bebunyian pada waktu sahur itu disebut ngarak beduk.
Sedangkan di wilayah Pantura Jawa, khususnya di Cirebon dan sekitarnya, ada yang disebut tradisi obrok-burok, atau ada pula sebutan dekdukan di Semarang dan seputar Jawa Tengah.
Sumber: Jawapos.com
Editor : RP Rinaldi