Pagi itu, Ujang berangkat ke pasar dengan langkah mantap. Misinya jelas, yaitu beli ayam potong untuk digoreng dan dijual lagi sebagai ayam goreng tepung andalannya. Biasanya urusan beli ayam ini lancar saja. Tapi kali ini, langkahnya terhenti di depan lapak.
”Berapa sekilo sekarang, Bang?” tanya Ujang.
”Empat puluh enam ribu,” ujar pedagang tersebut.
Ujang langsung diam. Tangannya refleks pegang dada, bukan karena sakit, tapi karena kaget.
”Empat puluh enam? Cepat betul naik harga sekarang ni?” keluh Ujang.
Pedagang cuma senyum tipis. Ujang pun terpaksa beli. Usaha harus tetap jalan, walau hatinya sudah mulai digoreng duluan sebelum ayamnya.
Siang harinya, Ujang jumpa Utoh di depan kedainya. Minyak di kuali sudah panas, ayam-ayam berbalut tepung siap nyemplung.
”Toh, kau tahu tak harga ayam sekarang?” tanya Ujang serius.
Baca Juga: ALAMAAAK!!! Janji Tinggal Janji
”Berapa?” jawab Utoh santai.
”Empat puluh enam ribu sekilo,” jawab Ujang.
Utoh pun kaget. ”Alamaaak…!!! Mahal betol, jadi ayam kentaki mike nanti ikut naik juga?” tanya Utoh.
Ujang menghela napas. ”Itu dia masalahnya. Kalau aku naikkan harga, pelanggan kabur. Kalau tak naik, aku yang kurus. Lama-lama bukan ayam yang krispi, tapi hidupku yang krisis,” celetuk Ujang.(*2)
Editor : Rindra Yasin